alexametrics
27.5 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Konflik Pemilihan BEM FEB Unej Berlanjut, Bikin Mimbar Terbuka

Muncul Aksi Tandingan, Bikin Mimbar Terbuka

Mobile_AP_Rectangle 1

Kelompok mahasiswa ini menganggap, terjadinya pengurangan suara itu merupakan bentuk ketidaknetralan KPUM dan Panwaslu Mahasiswa. Sebab, suara dari mahasiswa S-2 dan S-3 tidak bisa dipastikan mengarah ke salah satu pasangan calon saja. “Apakah mahasiswa S-2 dan S-3 hanya memilih salah satu yang dimaksud? Apa ada datanya?” ungkap Michael Chandra Gunawan, salah satu orator dalam mimbar bebas tersebut.

Menurut dia, tafsir atas peraturan yang menyebut tentang kriteria pemilih sifatnya masih umum. Dalam peraturan itu tidak disebutkan secara jelas apakah mahasiswa S-1 atau mahasiswa S-2. “Sifatnya umum, karena mahasiswa aktif. Berarti S-1, S-2, dan S-3 juga boleh,” tuturnya.

Aksi yang berlangsung sejak pukul 10.00 itu juga turut mengundang Panwaslu dan KPUM. Namun, hingga pukul 11.00, mereka tidak ada yang datang. “Kami sudah mengundang. Tapi, tidak ada yang datang,” ucap Michael.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ia berharap, ke depan akan ada forum terbuka dari berbagai pihak, sehingga proses dan mekanisme pemilihan yang berlangsung dapat berjalan lebih transparan. Juga tidak ada perbedaan tafsir atas peraturan yang menjadi rujukan pemira. “Kita perlu ada forum terbuka. Jangan satu-satu seperti ini. Yang kita harapkan forum terbuka dan transparansi,” katanya.

Salah satu demonstran, Nia, juga menganggap banyak kejanggalan yang terjadi selama pemira berlangsung. Ia menilai, ada inkonsistensi pada penyelenggara pemira. “Ada banyak kejanggalan,” pungkasnya. (ani/c2/rus)

- Advertisement -

Kelompok mahasiswa ini menganggap, terjadinya pengurangan suara itu merupakan bentuk ketidaknetralan KPUM dan Panwaslu Mahasiswa. Sebab, suara dari mahasiswa S-2 dan S-3 tidak bisa dipastikan mengarah ke salah satu pasangan calon saja. “Apakah mahasiswa S-2 dan S-3 hanya memilih salah satu yang dimaksud? Apa ada datanya?” ungkap Michael Chandra Gunawan, salah satu orator dalam mimbar bebas tersebut.

Menurut dia, tafsir atas peraturan yang menyebut tentang kriteria pemilih sifatnya masih umum. Dalam peraturan itu tidak disebutkan secara jelas apakah mahasiswa S-1 atau mahasiswa S-2. “Sifatnya umum, karena mahasiswa aktif. Berarti S-1, S-2, dan S-3 juga boleh,” tuturnya.

Aksi yang berlangsung sejak pukul 10.00 itu juga turut mengundang Panwaslu dan KPUM. Namun, hingga pukul 11.00, mereka tidak ada yang datang. “Kami sudah mengundang. Tapi, tidak ada yang datang,” ucap Michael.

Ia berharap, ke depan akan ada forum terbuka dari berbagai pihak, sehingga proses dan mekanisme pemilihan yang berlangsung dapat berjalan lebih transparan. Juga tidak ada perbedaan tafsir atas peraturan yang menjadi rujukan pemira. “Kita perlu ada forum terbuka. Jangan satu-satu seperti ini. Yang kita harapkan forum terbuka dan transparansi,” katanya.

Salah satu demonstran, Nia, juga menganggap banyak kejanggalan yang terjadi selama pemira berlangsung. Ia menilai, ada inkonsistensi pada penyelenggara pemira. “Ada banyak kejanggalan,” pungkasnya. (ani/c2/rus)

Kelompok mahasiswa ini menganggap, terjadinya pengurangan suara itu merupakan bentuk ketidaknetralan KPUM dan Panwaslu Mahasiswa. Sebab, suara dari mahasiswa S-2 dan S-3 tidak bisa dipastikan mengarah ke salah satu pasangan calon saja. “Apakah mahasiswa S-2 dan S-3 hanya memilih salah satu yang dimaksud? Apa ada datanya?” ungkap Michael Chandra Gunawan, salah satu orator dalam mimbar bebas tersebut.

Menurut dia, tafsir atas peraturan yang menyebut tentang kriteria pemilih sifatnya masih umum. Dalam peraturan itu tidak disebutkan secara jelas apakah mahasiswa S-1 atau mahasiswa S-2. “Sifatnya umum, karena mahasiswa aktif. Berarti S-1, S-2, dan S-3 juga boleh,” tuturnya.

Aksi yang berlangsung sejak pukul 10.00 itu juga turut mengundang Panwaslu dan KPUM. Namun, hingga pukul 11.00, mereka tidak ada yang datang. “Kami sudah mengundang. Tapi, tidak ada yang datang,” ucap Michael.

Ia berharap, ke depan akan ada forum terbuka dari berbagai pihak, sehingga proses dan mekanisme pemilihan yang berlangsung dapat berjalan lebih transparan. Juga tidak ada perbedaan tafsir atas peraturan yang menjadi rujukan pemira. “Kita perlu ada forum terbuka. Jangan satu-satu seperti ini. Yang kita harapkan forum terbuka dan transparansi,” katanya.

Salah satu demonstran, Nia, juga menganggap banyak kejanggalan yang terjadi selama pemira berlangsung. Ia menilai, ada inkonsistensi pada penyelenggara pemira. “Ada banyak kejanggalan,” pungkasnya. (ani/c2/rus)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/