alexametrics
22.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Konflik Pemilihan BEM FEB Unej Berlanjut, Bikin Mimbar Terbuka

Muncul Aksi Tandingan, Bikin Mimbar Terbuka

Mobile_AP_Rectangle 1

TEGALBOTO, Radar Jember – Pemilu Raya (Pemira) Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej) menyisakan masalah. Kedua kubu pasangan calon sama-sama merasa saling dicurangi. Jika sebelumnya ada sekelompok mahasiswa yang menggelar protes terhadap dekanat, kali ini muncul kelompok mahasiswa lain yang melakukan aksi tandingan. Mereka membikin mimbar terbuka di depan fakultas setempat.

Empat hari lalu, sekelompok mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Pembela Demokrasi (APD) FEB Unej menggelar aksi. Mereka menuntut permohonan maaf dari dosen yang menginstruksikan untuk memenangkan salah satu calon. Tuntutan lainnya adalah adanya jaminan atas pemira yang netral tanpa intervensi pihak mana pun. Serta tidak ada ancaman dari pihak mana pun.

Dalam aksinya itu, APD juga menyinggung adanya kesalahan mekanisme pemungutan suara. Mereka menilai, mahasiswa S-2 dan S-3 tidak berhak memberikan suara pada pemira ini. Hanya mahasiswa S-1 yang berhak menggunakan hak suaranya untuk memilih pasangan calon ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Mobile_AP_Rectangle 2

Belakangan, aksi itu berdampak pada pasangan calon yang disebut mendapat dukungan pihak dekanat. Suara mereka berkurang. Ini menyusul pembatalan suara mahasiswa S-2 dan S-3 yang turut melakukan voting. Imbasnya, paslon ketua BEM yang mulanya unggul, perolehan suaranya merosot. Setelah itu, pihak Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Mahasiswa juga turut memberikan suaranya.

Dua hal inilah yang memantik munculnya aksi tandingan. Kemarin (7/1), golongan mahasiswa yang mengatasnamakan diri sebagai mahasiswa netral menggelar mimbar terbuka di depan FEB Unej. Mereka menyuarakan adanya kejanggalan atas pelaksanaan pemira tersebut.

- Advertisement -

TEGALBOTO, Radar Jember – Pemilu Raya (Pemira) Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej) menyisakan masalah. Kedua kubu pasangan calon sama-sama merasa saling dicurangi. Jika sebelumnya ada sekelompok mahasiswa yang menggelar protes terhadap dekanat, kali ini muncul kelompok mahasiswa lain yang melakukan aksi tandingan. Mereka membikin mimbar terbuka di depan fakultas setempat.

Empat hari lalu, sekelompok mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Pembela Demokrasi (APD) FEB Unej menggelar aksi. Mereka menuntut permohonan maaf dari dosen yang menginstruksikan untuk memenangkan salah satu calon. Tuntutan lainnya adalah adanya jaminan atas pemira yang netral tanpa intervensi pihak mana pun. Serta tidak ada ancaman dari pihak mana pun.

Dalam aksinya itu, APD juga menyinggung adanya kesalahan mekanisme pemungutan suara. Mereka menilai, mahasiswa S-2 dan S-3 tidak berhak memberikan suara pada pemira ini. Hanya mahasiswa S-1 yang berhak menggunakan hak suaranya untuk memilih pasangan calon ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Belakangan, aksi itu berdampak pada pasangan calon yang disebut mendapat dukungan pihak dekanat. Suara mereka berkurang. Ini menyusul pembatalan suara mahasiswa S-2 dan S-3 yang turut melakukan voting. Imbasnya, paslon ketua BEM yang mulanya unggul, perolehan suaranya merosot. Setelah itu, pihak Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Mahasiswa juga turut memberikan suaranya.

Dua hal inilah yang memantik munculnya aksi tandingan. Kemarin (7/1), golongan mahasiswa yang mengatasnamakan diri sebagai mahasiswa netral menggelar mimbar terbuka di depan FEB Unej. Mereka menyuarakan adanya kejanggalan atas pelaksanaan pemira tersebut.

TEGALBOTO, Radar Jember – Pemilu Raya (Pemira) Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej) menyisakan masalah. Kedua kubu pasangan calon sama-sama merasa saling dicurangi. Jika sebelumnya ada sekelompok mahasiswa yang menggelar protes terhadap dekanat, kali ini muncul kelompok mahasiswa lain yang melakukan aksi tandingan. Mereka membikin mimbar terbuka di depan fakultas setempat.

Empat hari lalu, sekelompok mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Pembela Demokrasi (APD) FEB Unej menggelar aksi. Mereka menuntut permohonan maaf dari dosen yang menginstruksikan untuk memenangkan salah satu calon. Tuntutan lainnya adalah adanya jaminan atas pemira yang netral tanpa intervensi pihak mana pun. Serta tidak ada ancaman dari pihak mana pun.

Dalam aksinya itu, APD juga menyinggung adanya kesalahan mekanisme pemungutan suara. Mereka menilai, mahasiswa S-2 dan S-3 tidak berhak memberikan suara pada pemira ini. Hanya mahasiswa S-1 yang berhak menggunakan hak suaranya untuk memilih pasangan calon ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Belakangan, aksi itu berdampak pada pasangan calon yang disebut mendapat dukungan pihak dekanat. Suara mereka berkurang. Ini menyusul pembatalan suara mahasiswa S-2 dan S-3 yang turut melakukan voting. Imbasnya, paslon ketua BEM yang mulanya unggul, perolehan suaranya merosot. Setelah itu, pihak Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Mahasiswa juga turut memberikan suaranya.

Dua hal inilah yang memantik munculnya aksi tandingan. Kemarin (7/1), golongan mahasiswa yang mengatasnamakan diri sebagai mahasiswa netral menggelar mimbar terbuka di depan FEB Unej. Mereka menyuarakan adanya kejanggalan atas pelaksanaan pemira tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/