alexametrics
21.3 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Belajar Dari Kasus Ibu Bunuh Anak di Jember

Kontrol Diri agar Tak Mudah Depresi

Mobile_AP_Rectangle 1

KEPATIHAN, Radar Jember – Kasus ibu yang tega menghabisi nyawa anaknya sendiri, beberapa waktu lalu, patut menjadi perhatian bersama. Sebab, kejadian itu bukan kali pertama. Sebelumnya, sang kakak juga mengalami nasib serupa, yakni meninggal lantaran dianiaya ibunya sendiri.

Meski begitu, secara psikologis pelaku juga merupakan manusia yang butuh pertolongan. Lantas, harus diapakan?

Ketua Himpunan Psikolog Indonesia (Himpsi) Jember Muhammad Muhib Alwi menyatakan, yang jelas pelaku perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Selain diperiksa di kepolisian untuk menaikkan status, ada proses penyelidikan. Lalu, ada pemeriksaan kesehatan, termasuk psikologis, untuk membuktikan yang dilakukan itu sadar atau tidak sadar. “Nanti bisa disimpulkan dan memengaruhi status hukum pelaku,” lanjutnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selanjutnya, baru akan direkomendasikan bakal dirawat atau disanksi. Nah, yang perlu jadi perhatian lagi adalah apa yang harus dilakukan untuk menolong pelaku nantinya. Dalam hal ini, dia menuturkan bahwa yang berperan paling dekat adalah keluarga. Sebab, kesehatan mental yang paling banyak berperan adalah keluarga. “Kalau tidak mendukung, akan menjadi tekanan tersendiri bagi yang bersangkutan,” ujar warga Perumahan Tegal Besar Permai, Kecamatan Kaliwates, tersebut.

Menurut dia, setiap orang memiliki potensi masing-masing untuk mengalami gejala gangguan kejiwaan. Misalnya, dia mudah mengalami gangguan kejiwaan karena terlalu sensitif, perasaannya mudah baper. “Terus tidak bisa beradaptasi dengan permasalahan baru dan mudah terstimulasi gangguan kejiwaan,” terangnya.

Belum lagi, pandemi Covid-19 menambah daftar panjang kesengsaraan masyarakat. Bahkan, sebagian orang berpendapat bahwa krisis yang terjadi saat ini mengalahkan krisis moneter pada 1998. “Apalagi kalau memang bermental lemah, bakal lebih berat karena tidak siap,” ucapnya.

- Advertisement -

KEPATIHAN, Radar Jember – Kasus ibu yang tega menghabisi nyawa anaknya sendiri, beberapa waktu lalu, patut menjadi perhatian bersama. Sebab, kejadian itu bukan kali pertama. Sebelumnya, sang kakak juga mengalami nasib serupa, yakni meninggal lantaran dianiaya ibunya sendiri.

Meski begitu, secara psikologis pelaku juga merupakan manusia yang butuh pertolongan. Lantas, harus diapakan?

Ketua Himpunan Psikolog Indonesia (Himpsi) Jember Muhammad Muhib Alwi menyatakan, yang jelas pelaku perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Selain diperiksa di kepolisian untuk menaikkan status, ada proses penyelidikan. Lalu, ada pemeriksaan kesehatan, termasuk psikologis, untuk membuktikan yang dilakukan itu sadar atau tidak sadar. “Nanti bisa disimpulkan dan memengaruhi status hukum pelaku,” lanjutnya.

Selanjutnya, baru akan direkomendasikan bakal dirawat atau disanksi. Nah, yang perlu jadi perhatian lagi adalah apa yang harus dilakukan untuk menolong pelaku nantinya. Dalam hal ini, dia menuturkan bahwa yang berperan paling dekat adalah keluarga. Sebab, kesehatan mental yang paling banyak berperan adalah keluarga. “Kalau tidak mendukung, akan menjadi tekanan tersendiri bagi yang bersangkutan,” ujar warga Perumahan Tegal Besar Permai, Kecamatan Kaliwates, tersebut.

Menurut dia, setiap orang memiliki potensi masing-masing untuk mengalami gejala gangguan kejiwaan. Misalnya, dia mudah mengalami gangguan kejiwaan karena terlalu sensitif, perasaannya mudah baper. “Terus tidak bisa beradaptasi dengan permasalahan baru dan mudah terstimulasi gangguan kejiwaan,” terangnya.

Belum lagi, pandemi Covid-19 menambah daftar panjang kesengsaraan masyarakat. Bahkan, sebagian orang berpendapat bahwa krisis yang terjadi saat ini mengalahkan krisis moneter pada 1998. “Apalagi kalau memang bermental lemah, bakal lebih berat karena tidak siap,” ucapnya.

KEPATIHAN, Radar Jember – Kasus ibu yang tega menghabisi nyawa anaknya sendiri, beberapa waktu lalu, patut menjadi perhatian bersama. Sebab, kejadian itu bukan kali pertama. Sebelumnya, sang kakak juga mengalami nasib serupa, yakni meninggal lantaran dianiaya ibunya sendiri.

Meski begitu, secara psikologis pelaku juga merupakan manusia yang butuh pertolongan. Lantas, harus diapakan?

Ketua Himpunan Psikolog Indonesia (Himpsi) Jember Muhammad Muhib Alwi menyatakan, yang jelas pelaku perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Selain diperiksa di kepolisian untuk menaikkan status, ada proses penyelidikan. Lalu, ada pemeriksaan kesehatan, termasuk psikologis, untuk membuktikan yang dilakukan itu sadar atau tidak sadar. “Nanti bisa disimpulkan dan memengaruhi status hukum pelaku,” lanjutnya.

Selanjutnya, baru akan direkomendasikan bakal dirawat atau disanksi. Nah, yang perlu jadi perhatian lagi adalah apa yang harus dilakukan untuk menolong pelaku nantinya. Dalam hal ini, dia menuturkan bahwa yang berperan paling dekat adalah keluarga. Sebab, kesehatan mental yang paling banyak berperan adalah keluarga. “Kalau tidak mendukung, akan menjadi tekanan tersendiri bagi yang bersangkutan,” ujar warga Perumahan Tegal Besar Permai, Kecamatan Kaliwates, tersebut.

Menurut dia, setiap orang memiliki potensi masing-masing untuk mengalami gejala gangguan kejiwaan. Misalnya, dia mudah mengalami gangguan kejiwaan karena terlalu sensitif, perasaannya mudah baper. “Terus tidak bisa beradaptasi dengan permasalahan baru dan mudah terstimulasi gangguan kejiwaan,” terangnya.

Belum lagi, pandemi Covid-19 menambah daftar panjang kesengsaraan masyarakat. Bahkan, sebagian orang berpendapat bahwa krisis yang terjadi saat ini mengalahkan krisis moneter pada 1998. “Apalagi kalau memang bermental lemah, bakal lebih berat karena tidak siap,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/