alexametrics
23.5 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Perlu Cetak Biru Penanganan Prostitusi Anak

Mobile_AP_Rectangle 1

Solehati menjelaskan, untuk meminimalisasi kasus tersebut, pihaknya lebih banyak melakukan sosialisasi kepada masyarakat secara langsung. Utamanya kepada guru. Sebab, gurulah yang nanti memiliki porsi lebih dalam memberikan edukasi seks pada anak. Terlebih anak yang orang tuanya masih menganggap tabu pendidikan seks.

Terpisah, akademisi Universitas Jember, Erwin Nur Rif’ah mengungkapkan, tak hanya kontrol orang tua yang menjadi acuan dalam mengarahkan pergaulan anak. Tapi, juga pola komunikasi dan relasi antara orang tua dengan anak. Dia menyarankan, praktik komunikasi terbuka wajib dilakukan. Sehingga anak lebih bisa menerima saran orang tua dan cenderung tidak resisten terhadap arahan mereka. Dengan begitu, orang tua lebih mudah melakukan intervensi kepada anak.

Jika hal tersebut telah terbangun, maka edukasi seks lebih mudah dilakukan oleh orang tua. Namun, selama ini pendidikan seks masih banyak yang menyalahartikan. Mereka memaknai edukasi seks sebagai penjabaran mengenai hubungan seksual, padahal lebih pada pengenalan anatomi tubuh. “Edukasi bukan hanya mengajari dan mendikte, tapi juga mendengarkan anak dengan bertanya pengalamannya,” ungkap Erwin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Berikutnya, kata dia, yang perlu dilakukan orang tua adalah memberikan batasan penggunaan gawai. Ketika waktu-waktu tertentu, orang tua juga harus menahan menggunakan ponsel. “Sesekali orang tua juga perlu menyelami dunia anak. Mengontrol komunikasi anak dalam mediumnya. Misalnya, anak punya akun medsos, orang tua juga punya,” pungkas Erwin.

Dikonfirmasi terkait upaya penanganan prostitusi yang melibatkan anak ini, Kepala Bidang Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jember dr Wiwik Supartiwi tidak membeberkan rencana penanganan maupun pencegahan secara terperinci. Sehingga, praktis tidak ada gambaran tentang cetak biru kebijakan yang disusun oleh pemerintah daerah dalam menanggulangi tingginya kasus tersebut.

Sebenarnya, sebagai upaya penindakan, pemerintah daerah bisa bersinergi dengan kepolisian untuk melakukan patroli siber. Kemudian, menjaring para pelaku kejahatan seksual di media sosial. Sedangkan langkah pencegahan bisa memasukkan pendidikan seks dalam kurikulum sekolah melalui Dinas Pendidikan. Namun, hingga kini belum ada kabar mengenai rencana tersebut.

Ketika diwawancarai lewat aplikasi percakapan, Wiwik hanya menyebut, upaya yang dilakukan adalah meningkatkan peran orang tua. Selain itu, juga pemanfaatan dengan bijak penggunaan gawai, serta ketahanan keluarga. Ketahanan keluarga yang dimaksud tidak hanya dari sisi ekonomi. “Tapi juga bisa dari penguatan pendidikan, agama, parenting, dan dampak perkembangan era digital,” balasnya.

- Advertisement -

Solehati menjelaskan, untuk meminimalisasi kasus tersebut, pihaknya lebih banyak melakukan sosialisasi kepada masyarakat secara langsung. Utamanya kepada guru. Sebab, gurulah yang nanti memiliki porsi lebih dalam memberikan edukasi seks pada anak. Terlebih anak yang orang tuanya masih menganggap tabu pendidikan seks.

Terpisah, akademisi Universitas Jember, Erwin Nur Rif’ah mengungkapkan, tak hanya kontrol orang tua yang menjadi acuan dalam mengarahkan pergaulan anak. Tapi, juga pola komunikasi dan relasi antara orang tua dengan anak. Dia menyarankan, praktik komunikasi terbuka wajib dilakukan. Sehingga anak lebih bisa menerima saran orang tua dan cenderung tidak resisten terhadap arahan mereka. Dengan begitu, orang tua lebih mudah melakukan intervensi kepada anak.

Jika hal tersebut telah terbangun, maka edukasi seks lebih mudah dilakukan oleh orang tua. Namun, selama ini pendidikan seks masih banyak yang menyalahartikan. Mereka memaknai edukasi seks sebagai penjabaran mengenai hubungan seksual, padahal lebih pada pengenalan anatomi tubuh. “Edukasi bukan hanya mengajari dan mendikte, tapi juga mendengarkan anak dengan bertanya pengalamannya,” ungkap Erwin.

Berikutnya, kata dia, yang perlu dilakukan orang tua adalah memberikan batasan penggunaan gawai. Ketika waktu-waktu tertentu, orang tua juga harus menahan menggunakan ponsel. “Sesekali orang tua juga perlu menyelami dunia anak. Mengontrol komunikasi anak dalam mediumnya. Misalnya, anak punya akun medsos, orang tua juga punya,” pungkas Erwin.

Dikonfirmasi terkait upaya penanganan prostitusi yang melibatkan anak ini, Kepala Bidang Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jember dr Wiwik Supartiwi tidak membeberkan rencana penanganan maupun pencegahan secara terperinci. Sehingga, praktis tidak ada gambaran tentang cetak biru kebijakan yang disusun oleh pemerintah daerah dalam menanggulangi tingginya kasus tersebut.

Sebenarnya, sebagai upaya penindakan, pemerintah daerah bisa bersinergi dengan kepolisian untuk melakukan patroli siber. Kemudian, menjaring para pelaku kejahatan seksual di media sosial. Sedangkan langkah pencegahan bisa memasukkan pendidikan seks dalam kurikulum sekolah melalui Dinas Pendidikan. Namun, hingga kini belum ada kabar mengenai rencana tersebut.

Ketika diwawancarai lewat aplikasi percakapan, Wiwik hanya menyebut, upaya yang dilakukan adalah meningkatkan peran orang tua. Selain itu, juga pemanfaatan dengan bijak penggunaan gawai, serta ketahanan keluarga. Ketahanan keluarga yang dimaksud tidak hanya dari sisi ekonomi. “Tapi juga bisa dari penguatan pendidikan, agama, parenting, dan dampak perkembangan era digital,” balasnya.

Solehati menjelaskan, untuk meminimalisasi kasus tersebut, pihaknya lebih banyak melakukan sosialisasi kepada masyarakat secara langsung. Utamanya kepada guru. Sebab, gurulah yang nanti memiliki porsi lebih dalam memberikan edukasi seks pada anak. Terlebih anak yang orang tuanya masih menganggap tabu pendidikan seks.

Terpisah, akademisi Universitas Jember, Erwin Nur Rif’ah mengungkapkan, tak hanya kontrol orang tua yang menjadi acuan dalam mengarahkan pergaulan anak. Tapi, juga pola komunikasi dan relasi antara orang tua dengan anak. Dia menyarankan, praktik komunikasi terbuka wajib dilakukan. Sehingga anak lebih bisa menerima saran orang tua dan cenderung tidak resisten terhadap arahan mereka. Dengan begitu, orang tua lebih mudah melakukan intervensi kepada anak.

Jika hal tersebut telah terbangun, maka edukasi seks lebih mudah dilakukan oleh orang tua. Namun, selama ini pendidikan seks masih banyak yang menyalahartikan. Mereka memaknai edukasi seks sebagai penjabaran mengenai hubungan seksual, padahal lebih pada pengenalan anatomi tubuh. “Edukasi bukan hanya mengajari dan mendikte, tapi juga mendengarkan anak dengan bertanya pengalamannya,” ungkap Erwin.

Berikutnya, kata dia, yang perlu dilakukan orang tua adalah memberikan batasan penggunaan gawai. Ketika waktu-waktu tertentu, orang tua juga harus menahan menggunakan ponsel. “Sesekali orang tua juga perlu menyelami dunia anak. Mengontrol komunikasi anak dalam mediumnya. Misalnya, anak punya akun medsos, orang tua juga punya,” pungkas Erwin.

Dikonfirmasi terkait upaya penanganan prostitusi yang melibatkan anak ini, Kepala Bidang Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jember dr Wiwik Supartiwi tidak membeberkan rencana penanganan maupun pencegahan secara terperinci. Sehingga, praktis tidak ada gambaran tentang cetak biru kebijakan yang disusun oleh pemerintah daerah dalam menanggulangi tingginya kasus tersebut.

Sebenarnya, sebagai upaya penindakan, pemerintah daerah bisa bersinergi dengan kepolisian untuk melakukan patroli siber. Kemudian, menjaring para pelaku kejahatan seksual di media sosial. Sedangkan langkah pencegahan bisa memasukkan pendidikan seks dalam kurikulum sekolah melalui Dinas Pendidikan. Namun, hingga kini belum ada kabar mengenai rencana tersebut.

Ketika diwawancarai lewat aplikasi percakapan, Wiwik hanya menyebut, upaya yang dilakukan adalah meningkatkan peran orang tua. Selain itu, juga pemanfaatan dengan bijak penggunaan gawai, serta ketahanan keluarga. Ketahanan keluarga yang dimaksud tidak hanya dari sisi ekonomi. “Tapi juga bisa dari penguatan pendidikan, agama, parenting, dan dampak perkembangan era digital,” balasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/