alexametrics
27.5 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Perlu Cetak Biru Penanganan Prostitusi Anak

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER,L RADARJEMBER.ID – Kasus kejahatan seksual pada anak diprediksi bakal semakin meningkat. Sebab, sejauh ini pemerintah daerah tak memiliki cetak biru penanganan maupun pencegahan. Pemkab juga belum memiliki kerangka kerja terperinci yang bisa menjadi landasan pembuatan kebijakan, serta langkah-langkah yang akan dilaksanakan dalam menanggulangi kejahatan tersebut.

Temuan Jawa Pos Radar Jember yang diberitakan sebelumnya mengungkapkan, saat ini praktik kejahatan seksual pada anak itu berlangsung cukup canggih. Sebab, dilakukan secara daring. Jenisnya pun kian beragam. Mulai dari praktik prostitusi anak tanpa perantara alias kemauan sendiri, hingga ada yang dijajakan oleh mucikari. Biasanya, kasus semacam ini banyak dijumpai lewat aplikasi percakapan dan aplikasi kencan, serta media sosial (medsos).

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember ini juga terkonfirmasi oleh data yang tercatat di Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Jember. Awal Januari ini saja, ada delapan kasus kekerasan pada anak yang dilaporkan. Di dalamnya juga ada perkara pelecehan seksual. Sementara, pelaporan kekerasan pada anak sepanjang 2020 berjumlah 151 kasus. Tertinggi terjadi pada Maret yang sekaligus awal pandemi. Jumlah temuannya sebanyak 22 kasus.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, Koordinator PPT Jember Solehati menjelaskan, tingginya kasus pelecehan pada anak disebabkan minimnya kontrol orang tua. Termasuk dalam penggunaan gawai. Selama ini, juga tidak ada aturan tentang penggunaan ponsel pada anak, sehingga orang tua cenderung tidak memiliki kontrol. “Selama ini orang tua lega kalau anaknya sudah pegang ponsel. Masih kecil sudah dipegangi ponsel. Menurut saya, edukasi digital pada orang tua inilah yang kurang,” bebernya.

Lepasnya kontrol tersebut membuat tayangan video di medsos yang dikonsumsi anak tanpa filter. Sehingga anak berpotensi melihat tayangan video fulgar atau konten dewasa. Dari sinilah awal mula timbul rasa ingin tahu dari anak tinggi, hingga mengakibatkan tindakan asusila antaranak pun terjadi. Solehati menyebut, praktik asusila dan pelecehan antaranak ini rentan terjadi di perdesaan. Sementara, kasus pelecehan pada anak yang kerap terjadi di perkotaan didominasi oleh kasus daring.

Faktor lain, Solihati menjelaskan, penyebab kejahatan seksual atau praktik prostitusi pada anak sebenarnya bukan lantaran masalah ekonomi, melainkan keinginan anak untuk memiliki gaya hidup mewah yang menyerupai kehidupan anak-anak lainnya. “Misalnya, orang tua kasih jatah Rp 500 ribu per bulan. Namun, ingin beli iPhone duitnya kurang. Ya upaya ini salah satunya,” ungkapnya.

Hal lain yang menyebabkan maraknya prostitusi dan pelecehan anak adalah faktor internal, yakni meningkatnya hormon seksual pada anak. Solehati menyebut, ada beberapa hasil kajian dan riset yang menerangkan bahwa selama ini hormon seksual anak mengalami peningkatan sejalan dengan pola konsumsi. Oleh karena itu, pendidikan seks penting dikenalkan sejak dini demi mencegah penyalahgunaan organ seksual tersebut.

- Advertisement -

JEMBER,L RADARJEMBER.ID – Kasus kejahatan seksual pada anak diprediksi bakal semakin meningkat. Sebab, sejauh ini pemerintah daerah tak memiliki cetak biru penanganan maupun pencegahan. Pemkab juga belum memiliki kerangka kerja terperinci yang bisa menjadi landasan pembuatan kebijakan, serta langkah-langkah yang akan dilaksanakan dalam menanggulangi kejahatan tersebut.

Temuan Jawa Pos Radar Jember yang diberitakan sebelumnya mengungkapkan, saat ini praktik kejahatan seksual pada anak itu berlangsung cukup canggih. Sebab, dilakukan secara daring. Jenisnya pun kian beragam. Mulai dari praktik prostitusi anak tanpa perantara alias kemauan sendiri, hingga ada yang dijajakan oleh mucikari. Biasanya, kasus semacam ini banyak dijumpai lewat aplikasi percakapan dan aplikasi kencan, serta media sosial (medsos).

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember ini juga terkonfirmasi oleh data yang tercatat di Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Jember. Awal Januari ini saja, ada delapan kasus kekerasan pada anak yang dilaporkan. Di dalamnya juga ada perkara pelecehan seksual. Sementara, pelaporan kekerasan pada anak sepanjang 2020 berjumlah 151 kasus. Tertinggi terjadi pada Maret yang sekaligus awal pandemi. Jumlah temuannya sebanyak 22 kasus.

Sementara itu, Koordinator PPT Jember Solehati menjelaskan, tingginya kasus pelecehan pada anak disebabkan minimnya kontrol orang tua. Termasuk dalam penggunaan gawai. Selama ini, juga tidak ada aturan tentang penggunaan ponsel pada anak, sehingga orang tua cenderung tidak memiliki kontrol. “Selama ini orang tua lega kalau anaknya sudah pegang ponsel. Masih kecil sudah dipegangi ponsel. Menurut saya, edukasi digital pada orang tua inilah yang kurang,” bebernya.

Lepasnya kontrol tersebut membuat tayangan video di medsos yang dikonsumsi anak tanpa filter. Sehingga anak berpotensi melihat tayangan video fulgar atau konten dewasa. Dari sinilah awal mula timbul rasa ingin tahu dari anak tinggi, hingga mengakibatkan tindakan asusila antaranak pun terjadi. Solehati menyebut, praktik asusila dan pelecehan antaranak ini rentan terjadi di perdesaan. Sementara, kasus pelecehan pada anak yang kerap terjadi di perkotaan didominasi oleh kasus daring.

Faktor lain, Solihati menjelaskan, penyebab kejahatan seksual atau praktik prostitusi pada anak sebenarnya bukan lantaran masalah ekonomi, melainkan keinginan anak untuk memiliki gaya hidup mewah yang menyerupai kehidupan anak-anak lainnya. “Misalnya, orang tua kasih jatah Rp 500 ribu per bulan. Namun, ingin beli iPhone duitnya kurang. Ya upaya ini salah satunya,” ungkapnya.

Hal lain yang menyebabkan maraknya prostitusi dan pelecehan anak adalah faktor internal, yakni meningkatnya hormon seksual pada anak. Solehati menyebut, ada beberapa hasil kajian dan riset yang menerangkan bahwa selama ini hormon seksual anak mengalami peningkatan sejalan dengan pola konsumsi. Oleh karena itu, pendidikan seks penting dikenalkan sejak dini demi mencegah penyalahgunaan organ seksual tersebut.

JEMBER,L RADARJEMBER.ID – Kasus kejahatan seksual pada anak diprediksi bakal semakin meningkat. Sebab, sejauh ini pemerintah daerah tak memiliki cetak biru penanganan maupun pencegahan. Pemkab juga belum memiliki kerangka kerja terperinci yang bisa menjadi landasan pembuatan kebijakan, serta langkah-langkah yang akan dilaksanakan dalam menanggulangi kejahatan tersebut.

Temuan Jawa Pos Radar Jember yang diberitakan sebelumnya mengungkapkan, saat ini praktik kejahatan seksual pada anak itu berlangsung cukup canggih. Sebab, dilakukan secara daring. Jenisnya pun kian beragam. Mulai dari praktik prostitusi anak tanpa perantara alias kemauan sendiri, hingga ada yang dijajakan oleh mucikari. Biasanya, kasus semacam ini banyak dijumpai lewat aplikasi percakapan dan aplikasi kencan, serta media sosial (medsos).

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember ini juga terkonfirmasi oleh data yang tercatat di Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Jember. Awal Januari ini saja, ada delapan kasus kekerasan pada anak yang dilaporkan. Di dalamnya juga ada perkara pelecehan seksual. Sementara, pelaporan kekerasan pada anak sepanjang 2020 berjumlah 151 kasus. Tertinggi terjadi pada Maret yang sekaligus awal pandemi. Jumlah temuannya sebanyak 22 kasus.

Sementara itu, Koordinator PPT Jember Solehati menjelaskan, tingginya kasus pelecehan pada anak disebabkan minimnya kontrol orang tua. Termasuk dalam penggunaan gawai. Selama ini, juga tidak ada aturan tentang penggunaan ponsel pada anak, sehingga orang tua cenderung tidak memiliki kontrol. “Selama ini orang tua lega kalau anaknya sudah pegang ponsel. Masih kecil sudah dipegangi ponsel. Menurut saya, edukasi digital pada orang tua inilah yang kurang,” bebernya.

Lepasnya kontrol tersebut membuat tayangan video di medsos yang dikonsumsi anak tanpa filter. Sehingga anak berpotensi melihat tayangan video fulgar atau konten dewasa. Dari sinilah awal mula timbul rasa ingin tahu dari anak tinggi, hingga mengakibatkan tindakan asusila antaranak pun terjadi. Solehati menyebut, praktik asusila dan pelecehan antaranak ini rentan terjadi di perdesaan. Sementara, kasus pelecehan pada anak yang kerap terjadi di perkotaan didominasi oleh kasus daring.

Faktor lain, Solihati menjelaskan, penyebab kejahatan seksual atau praktik prostitusi pada anak sebenarnya bukan lantaran masalah ekonomi, melainkan keinginan anak untuk memiliki gaya hidup mewah yang menyerupai kehidupan anak-anak lainnya. “Misalnya, orang tua kasih jatah Rp 500 ribu per bulan. Namun, ingin beli iPhone duitnya kurang. Ya upaya ini salah satunya,” ungkapnya.

Hal lain yang menyebabkan maraknya prostitusi dan pelecehan anak adalah faktor internal, yakni meningkatnya hormon seksual pada anak. Solehati menyebut, ada beberapa hasil kajian dan riset yang menerangkan bahwa selama ini hormon seksual anak mengalami peningkatan sejalan dengan pola konsumsi. Oleh karena itu, pendidikan seks penting dikenalkan sejak dini demi mencegah penyalahgunaan organ seksual tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/