alexametrics
26.5 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Harus Konsisten Terapkan Protokol Kesehatan

Jika PSBB Diterapkan di Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pemerintah bakal menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sebagian Jawa dan Bali mulai 11-25 Januari mendatang, dengan beragam kebijakan. Di antaranya menetapkan 75 persen pekerja untuk work from home (WFH), kebutuhan pokok beroperasi dengan pembatasan kapasitas, tempat makan maksimal 25 persen, konstruksi beroperasi dengan prokes ketat, fasilitas umum dan kegiatan sosbud dihentikan, serta pengaturan ketat pada moda transportasi.

Meski belum ada keterangan PSBB bakal digaungkan di Jember, hal itu masih dimungkinkan terjadi. Mengingat kasus Covid-19 di Kabupaten Jember masih tergolong tinggi. Berdasar data Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), tercatat 332 penambahan pasien positif pada 31 Desember hingga 6 Januari, dengan total 4.686 kasus Covid-19. Sementara itu, sejumlah 223 pasien meninggal dan 519 pasien masih menjalani perawatan.

“Jika PSBB benar-benar diterapkan di Kabupaten Jember, setidaknya itu bisa mengurangi dampak terjadinya kasus penularan Covid-19 dari luar daerah,” tutur dr Angga Mardro Raharjo SpP, dokter yang menangani Covid-19 di RSD dr Soebandi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Namun, dia menegaskan bahwa PSBB akan sia-sia jika pembatasan dari luar sudah bagus, tapi di dalam daerah masih santai-santai saja. Yang harus menjadi fokus bersama dalam kelancaran PSBB adalah menghindari kerumunan dan memakai masker. “Nah, asalkan mau patuh, tanpa menerapkan PSBB pun kasus Covid-19 akan turun,” tegasnya.

Kegiatan-kegiatan sosial keagamaan bisa dilaksanakan, tapi harus ketat dalam menerapkan protokol kesehatan. Yakni, dengan mengurangi 50 persen maksimal peserta dalam acara itu, menjaga jarak, dan membersihkan diri sepulang dari acara. “Meski tidak bisa sepenuhnya berhasil memberantas persebaran virus, setidaknya dapat menekan munculnya klaster-klaster baru,” terang dokter spesialis paru tersebut.

Sementara itu, jika PSBB benar-benar dilaksanakan di Jember, bagaimana langkah yang tepat untuk mengontrol perekonomian Jember? Dosen Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember, Dr Agus Lutfi menjelaskan, selama pandemi ini penerapan PSBB sudah sejak lama diterapkan di Jember. Yakni dengan menerapkan pembatasan jam operasional. “Dulu, pertokoan tutup pukul 8 malam, sekarang kurang dari itu,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pemerintah bakal menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sebagian Jawa dan Bali mulai 11-25 Januari mendatang, dengan beragam kebijakan. Di antaranya menetapkan 75 persen pekerja untuk work from home (WFH), kebutuhan pokok beroperasi dengan pembatasan kapasitas, tempat makan maksimal 25 persen, konstruksi beroperasi dengan prokes ketat, fasilitas umum dan kegiatan sosbud dihentikan, serta pengaturan ketat pada moda transportasi.

Meski belum ada keterangan PSBB bakal digaungkan di Jember, hal itu masih dimungkinkan terjadi. Mengingat kasus Covid-19 di Kabupaten Jember masih tergolong tinggi. Berdasar data Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), tercatat 332 penambahan pasien positif pada 31 Desember hingga 6 Januari, dengan total 4.686 kasus Covid-19. Sementara itu, sejumlah 223 pasien meninggal dan 519 pasien masih menjalani perawatan.

“Jika PSBB benar-benar diterapkan di Kabupaten Jember, setidaknya itu bisa mengurangi dampak terjadinya kasus penularan Covid-19 dari luar daerah,” tutur dr Angga Mardro Raharjo SpP, dokter yang menangani Covid-19 di RSD dr Soebandi.

Namun, dia menegaskan bahwa PSBB akan sia-sia jika pembatasan dari luar sudah bagus, tapi di dalam daerah masih santai-santai saja. Yang harus menjadi fokus bersama dalam kelancaran PSBB adalah menghindari kerumunan dan memakai masker. “Nah, asalkan mau patuh, tanpa menerapkan PSBB pun kasus Covid-19 akan turun,” tegasnya.

Kegiatan-kegiatan sosial keagamaan bisa dilaksanakan, tapi harus ketat dalam menerapkan protokol kesehatan. Yakni, dengan mengurangi 50 persen maksimal peserta dalam acara itu, menjaga jarak, dan membersihkan diri sepulang dari acara. “Meski tidak bisa sepenuhnya berhasil memberantas persebaran virus, setidaknya dapat menekan munculnya klaster-klaster baru,” terang dokter spesialis paru tersebut.

Sementara itu, jika PSBB benar-benar dilaksanakan di Jember, bagaimana langkah yang tepat untuk mengontrol perekonomian Jember? Dosen Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember, Dr Agus Lutfi menjelaskan, selama pandemi ini penerapan PSBB sudah sejak lama diterapkan di Jember. Yakni dengan menerapkan pembatasan jam operasional. “Dulu, pertokoan tutup pukul 8 malam, sekarang kurang dari itu,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pemerintah bakal menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sebagian Jawa dan Bali mulai 11-25 Januari mendatang, dengan beragam kebijakan. Di antaranya menetapkan 75 persen pekerja untuk work from home (WFH), kebutuhan pokok beroperasi dengan pembatasan kapasitas, tempat makan maksimal 25 persen, konstruksi beroperasi dengan prokes ketat, fasilitas umum dan kegiatan sosbud dihentikan, serta pengaturan ketat pada moda transportasi.

Meski belum ada keterangan PSBB bakal digaungkan di Jember, hal itu masih dimungkinkan terjadi. Mengingat kasus Covid-19 di Kabupaten Jember masih tergolong tinggi. Berdasar data Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), tercatat 332 penambahan pasien positif pada 31 Desember hingga 6 Januari, dengan total 4.686 kasus Covid-19. Sementara itu, sejumlah 223 pasien meninggal dan 519 pasien masih menjalani perawatan.

“Jika PSBB benar-benar diterapkan di Kabupaten Jember, setidaknya itu bisa mengurangi dampak terjadinya kasus penularan Covid-19 dari luar daerah,” tutur dr Angga Mardro Raharjo SpP, dokter yang menangani Covid-19 di RSD dr Soebandi.

Namun, dia menegaskan bahwa PSBB akan sia-sia jika pembatasan dari luar sudah bagus, tapi di dalam daerah masih santai-santai saja. Yang harus menjadi fokus bersama dalam kelancaran PSBB adalah menghindari kerumunan dan memakai masker. “Nah, asalkan mau patuh, tanpa menerapkan PSBB pun kasus Covid-19 akan turun,” tegasnya.

Kegiatan-kegiatan sosial keagamaan bisa dilaksanakan, tapi harus ketat dalam menerapkan protokol kesehatan. Yakni, dengan mengurangi 50 persen maksimal peserta dalam acara itu, menjaga jarak, dan membersihkan diri sepulang dari acara. “Meski tidak bisa sepenuhnya berhasil memberantas persebaran virus, setidaknya dapat menekan munculnya klaster-klaster baru,” terang dokter spesialis paru tersebut.

Sementara itu, jika PSBB benar-benar dilaksanakan di Jember, bagaimana langkah yang tepat untuk mengontrol perekonomian Jember? Dosen Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember, Dr Agus Lutfi menjelaskan, selama pandemi ini penerapan PSBB sudah sejak lama diterapkan di Jember. Yakni dengan menerapkan pembatasan jam operasional. “Dulu, pertokoan tutup pukul 8 malam, sekarang kurang dari itu,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/