alexametrics
23.5 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Dulu Harus Menerjang Sungai, Kini Bisa Berjalan di Atasnya

Musim hujan ini menjadi yang perdana bagi warga Dusun Baban Barat, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, tanpa harus menyeberangi sungai ketika beraktivitas ke sawah atau kebun. Kini, mereka tak perlu bertaruh nyawa lagi karena telah memiliki jembatan baru yang dibangun secara swadaya sejak April 2020 lalu. Seperti apa kisah kekompakan warga?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang hingga sore itu, hujan tak kunjung berhenti mengguyur kawasan Dusun Baban Barat dan Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo. Maklum, dua dusun ini memang berada di wilayah ketinggian. Jadi, walau hujan hanya rintik-rintik, tapi bisa terjadi hampir setiap hari.

Di sebuah jalan perbatasan Dusun Sumberlanas, Desa Harjomulyo, dengan Baban Barat, sebuah jembatan berukuran sedang berdiri kokoh. Batu-batu besar tampak tersusun rapi sebagai fondasi. Sebuah pagar melengkapi jembatan itu, baik di sisi kanan maupun kiri. Ukurannya juga cukup lebar. Mampu dilewati kendaraan semacam dump truck atau pikap pengangkut kopi dan pisang. Panjang jembatan sekitar 10 meter.

Tepat di bawah jembatan, arus sungai mengalir deras. Sungai yang airnya dari hulu perkampungan Dusun Baban itu sebenarnya musiman. Kalau musim kemarau sungai tersebut kering, tapi kalau musim hujan arusnya besar. Bahkan dulu, sebelum ada jembatan, warga Baban Barat dan Baban Timur sudah terbiasa beraktivitas tiap hari dengan menerjang sungai.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Dulu sebelum ada jembatan, warga sudah terbiasa menerjang sungai. Pakai sepeda atau mobil, sampai ada yang hanyut,” terang Hafidz Efendi, warga Dusun Baban Barat. Seringnya ada kecelakaan kendaraan yang hanyut di sungai itu membuat warga tergerak membangun jembatan swadaya. Kata Hafidz, April 2020 lalu, rencana itu dimulai dan direalisasikan.

Selama pembangunan, semua material sampai tukangnya digarap sendiri oleh warga. Inilah yang disebut ‘Jembatan Koalisi Rakyat’. Hasilnya, tak butuh waktu lama jembatan ini sudah rampung. Sekitar dua bulan kemudian. “Tak ada peresmian, hanya selamatan saja. Dulu, habis Lebaran 2020 lalu,” tambah Hafidz.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang hingga sore itu, hujan tak kunjung berhenti mengguyur kawasan Dusun Baban Barat dan Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo. Maklum, dua dusun ini memang berada di wilayah ketinggian. Jadi, walau hujan hanya rintik-rintik, tapi bisa terjadi hampir setiap hari.

Di sebuah jalan perbatasan Dusun Sumberlanas, Desa Harjomulyo, dengan Baban Barat, sebuah jembatan berukuran sedang berdiri kokoh. Batu-batu besar tampak tersusun rapi sebagai fondasi. Sebuah pagar melengkapi jembatan itu, baik di sisi kanan maupun kiri. Ukurannya juga cukup lebar. Mampu dilewati kendaraan semacam dump truck atau pikap pengangkut kopi dan pisang. Panjang jembatan sekitar 10 meter.

Tepat di bawah jembatan, arus sungai mengalir deras. Sungai yang airnya dari hulu perkampungan Dusun Baban itu sebenarnya musiman. Kalau musim kemarau sungai tersebut kering, tapi kalau musim hujan arusnya besar. Bahkan dulu, sebelum ada jembatan, warga Baban Barat dan Baban Timur sudah terbiasa beraktivitas tiap hari dengan menerjang sungai.

“Dulu sebelum ada jembatan, warga sudah terbiasa menerjang sungai. Pakai sepeda atau mobil, sampai ada yang hanyut,” terang Hafidz Efendi, warga Dusun Baban Barat. Seringnya ada kecelakaan kendaraan yang hanyut di sungai itu membuat warga tergerak membangun jembatan swadaya. Kata Hafidz, April 2020 lalu, rencana itu dimulai dan direalisasikan.

Selama pembangunan, semua material sampai tukangnya digarap sendiri oleh warga. Inilah yang disebut ‘Jembatan Koalisi Rakyat’. Hasilnya, tak butuh waktu lama jembatan ini sudah rampung. Sekitar dua bulan kemudian. “Tak ada peresmian, hanya selamatan saja. Dulu, habis Lebaran 2020 lalu,” tambah Hafidz.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang hingga sore itu, hujan tak kunjung berhenti mengguyur kawasan Dusun Baban Barat dan Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo. Maklum, dua dusun ini memang berada di wilayah ketinggian. Jadi, walau hujan hanya rintik-rintik, tapi bisa terjadi hampir setiap hari.

Di sebuah jalan perbatasan Dusun Sumberlanas, Desa Harjomulyo, dengan Baban Barat, sebuah jembatan berukuran sedang berdiri kokoh. Batu-batu besar tampak tersusun rapi sebagai fondasi. Sebuah pagar melengkapi jembatan itu, baik di sisi kanan maupun kiri. Ukurannya juga cukup lebar. Mampu dilewati kendaraan semacam dump truck atau pikap pengangkut kopi dan pisang. Panjang jembatan sekitar 10 meter.

Tepat di bawah jembatan, arus sungai mengalir deras. Sungai yang airnya dari hulu perkampungan Dusun Baban itu sebenarnya musiman. Kalau musim kemarau sungai tersebut kering, tapi kalau musim hujan arusnya besar. Bahkan dulu, sebelum ada jembatan, warga Baban Barat dan Baban Timur sudah terbiasa beraktivitas tiap hari dengan menerjang sungai.

“Dulu sebelum ada jembatan, warga sudah terbiasa menerjang sungai. Pakai sepeda atau mobil, sampai ada yang hanyut,” terang Hafidz Efendi, warga Dusun Baban Barat. Seringnya ada kecelakaan kendaraan yang hanyut di sungai itu membuat warga tergerak membangun jembatan swadaya. Kata Hafidz, April 2020 lalu, rencana itu dimulai dan direalisasikan.

Selama pembangunan, semua material sampai tukangnya digarap sendiri oleh warga. Inilah yang disebut ‘Jembatan Koalisi Rakyat’. Hasilnya, tak butuh waktu lama jembatan ini sudah rampung. Sekitar dua bulan kemudian. “Tak ada peresmian, hanya selamatan saja. Dulu, habis Lebaran 2020 lalu,” tambah Hafidz.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/