alexametrics
26.7 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Bongkar Jaringan Kontraktor Pulau Lombok

Dua Tersangka Baru Korupsi Pasar Manggisan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus korupsi Pasar Manggisan kembali menggelinding. Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember menetapkan dua tersangka baru. Keduanya adalah pengusaha asal luar kota. Mereka dikenal dengan jaringan kontraktor asal Pulau Lombok.

Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Jember Setyo Adhi Wicaksono menyatakan, pihaknya terus mengembangkan perkara korupsi Pasar Manggisan. Setelah melakukan serangkaian penyelidikan dan penyidikan, pihaknya menetapkan dua tersangka baru. Keputusan ini menyusul hasil gelar perkara yang dilakukan, Rabu (6/1).

Kedua tersangka itu adalah Agus Salim, Direktur PT Ditaputri Waranawa, perusahaan pemenang tender proyek pembangunan Pasar Manggisan. Tersangka kedua adalah Hadi Sakti. Dia sebagai kuasa direktur atas perusahaan yang sama dengan Agus Salim. Sebelum ditetapkan tersangka, mereka telah dipanggil tiga kali oleh Kejari Jember, tapi tak pernah hadir. “Kami memanggil dua tersangka tersebut dengan tempo dan waktu yang benar, tapi tidak ada konfirmasi kehadiran sedikit pun,” terangnya, kemarin (7/1).

Mobile_AP_Rectangle 2

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Jember, Agus Salim ini masih memiliki hubungan famili dengan Edhi Sandi Abdurahman, salah seorang terpidana kasus rasuah Pasar Manggisan yang telah diputus bersalah sebelumnya. Agus Salim berdomisili di Jakarta. Dia tidak terjun langsung menangani proyek pasar. Operator lapangan dipegang Edhi Sandi. Sementara Hadi Sakti, disebut sebagai pengusaha yang menalangi pembiayaan proyek pasar. Ketiganya sama-sama berasal dari Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Meski selalu mangkir dari panggilan jaksa, tapi dua tersangka tersebut tidak ditetapkan sebagai buronan. Namun, jika panggilan selanjutnya mereka kembali tidak hadir, Setyo menegaskan, maka tim penyidik akan melakukan upaya hukum lainnya. “Bisa panggilan paksa, penangkapan, cekal, juga bisa jadi buronan atau masuk dalam daftar pencarian orang,” tuturnya.

Dua tersangka baru tersebut berdomisili di luar Jember. Agus Salim di Jakarta Timur, dan Hadi Sakti di Mataram, NTB. “Bila tetap tidak hadir, maka berkas perkara tetap disidangkan, yaitu sidang in absentia. Sehingga terdakwa akan jadi buron bila tetap tidak hadir,” jelas Setyo.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus korupsi Pasar Manggisan kembali menggelinding. Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember menetapkan dua tersangka baru. Keduanya adalah pengusaha asal luar kota. Mereka dikenal dengan jaringan kontraktor asal Pulau Lombok.

Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Jember Setyo Adhi Wicaksono menyatakan, pihaknya terus mengembangkan perkara korupsi Pasar Manggisan. Setelah melakukan serangkaian penyelidikan dan penyidikan, pihaknya menetapkan dua tersangka baru. Keputusan ini menyusul hasil gelar perkara yang dilakukan, Rabu (6/1).

Kedua tersangka itu adalah Agus Salim, Direktur PT Ditaputri Waranawa, perusahaan pemenang tender proyek pembangunan Pasar Manggisan. Tersangka kedua adalah Hadi Sakti. Dia sebagai kuasa direktur atas perusahaan yang sama dengan Agus Salim. Sebelum ditetapkan tersangka, mereka telah dipanggil tiga kali oleh Kejari Jember, tapi tak pernah hadir. “Kami memanggil dua tersangka tersebut dengan tempo dan waktu yang benar, tapi tidak ada konfirmasi kehadiran sedikit pun,” terangnya, kemarin (7/1).

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Jember, Agus Salim ini masih memiliki hubungan famili dengan Edhi Sandi Abdurahman, salah seorang terpidana kasus rasuah Pasar Manggisan yang telah diputus bersalah sebelumnya. Agus Salim berdomisili di Jakarta. Dia tidak terjun langsung menangani proyek pasar. Operator lapangan dipegang Edhi Sandi. Sementara Hadi Sakti, disebut sebagai pengusaha yang menalangi pembiayaan proyek pasar. Ketiganya sama-sama berasal dari Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Meski selalu mangkir dari panggilan jaksa, tapi dua tersangka tersebut tidak ditetapkan sebagai buronan. Namun, jika panggilan selanjutnya mereka kembali tidak hadir, Setyo menegaskan, maka tim penyidik akan melakukan upaya hukum lainnya. “Bisa panggilan paksa, penangkapan, cekal, juga bisa jadi buronan atau masuk dalam daftar pencarian orang,” tuturnya.

Dua tersangka baru tersebut berdomisili di luar Jember. Agus Salim di Jakarta Timur, dan Hadi Sakti di Mataram, NTB. “Bila tetap tidak hadir, maka berkas perkara tetap disidangkan, yaitu sidang in absentia. Sehingga terdakwa akan jadi buron bila tetap tidak hadir,” jelas Setyo.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus korupsi Pasar Manggisan kembali menggelinding. Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember menetapkan dua tersangka baru. Keduanya adalah pengusaha asal luar kota. Mereka dikenal dengan jaringan kontraktor asal Pulau Lombok.

Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Jember Setyo Adhi Wicaksono menyatakan, pihaknya terus mengembangkan perkara korupsi Pasar Manggisan. Setelah melakukan serangkaian penyelidikan dan penyidikan, pihaknya menetapkan dua tersangka baru. Keputusan ini menyusul hasil gelar perkara yang dilakukan, Rabu (6/1).

Kedua tersangka itu adalah Agus Salim, Direktur PT Ditaputri Waranawa, perusahaan pemenang tender proyek pembangunan Pasar Manggisan. Tersangka kedua adalah Hadi Sakti. Dia sebagai kuasa direktur atas perusahaan yang sama dengan Agus Salim. Sebelum ditetapkan tersangka, mereka telah dipanggil tiga kali oleh Kejari Jember, tapi tak pernah hadir. “Kami memanggil dua tersangka tersebut dengan tempo dan waktu yang benar, tapi tidak ada konfirmasi kehadiran sedikit pun,” terangnya, kemarin (7/1).

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Jember, Agus Salim ini masih memiliki hubungan famili dengan Edhi Sandi Abdurahman, salah seorang terpidana kasus rasuah Pasar Manggisan yang telah diputus bersalah sebelumnya. Agus Salim berdomisili di Jakarta. Dia tidak terjun langsung menangani proyek pasar. Operator lapangan dipegang Edhi Sandi. Sementara Hadi Sakti, disebut sebagai pengusaha yang menalangi pembiayaan proyek pasar. Ketiganya sama-sama berasal dari Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Meski selalu mangkir dari panggilan jaksa, tapi dua tersangka tersebut tidak ditetapkan sebagai buronan. Namun, jika panggilan selanjutnya mereka kembali tidak hadir, Setyo menegaskan, maka tim penyidik akan melakukan upaya hukum lainnya. “Bisa panggilan paksa, penangkapan, cekal, juga bisa jadi buronan atau masuk dalam daftar pencarian orang,” tuturnya.

Dua tersangka baru tersebut berdomisili di luar Jember. Agus Salim di Jakarta Timur, dan Hadi Sakti di Mataram, NTB. “Bila tetap tidak hadir, maka berkas perkara tetap disidangkan, yaitu sidang in absentia. Sehingga terdakwa akan jadi buron bila tetap tidak hadir,” jelas Setyo.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/