alexametrics
26.8 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Jangan Sepelekan Anak Ular!

Tujuh Temuan Ular di Awal Musim Penghujan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tidak ada api, tidak ada kebakaran. Tapi mobil milik pemadam kebakaran (damkar), siang kemarin (6/12), langsung menuju ke daerah Jalan Darmawangsa, Jubung, Sukorambi. Mengenakan sarung tangan, perlindungan mata, dan perlengkapan keselamatan lainnya, mereka menyisir setiap sudut rumah.

Lantas, di tumpukan batu bata itulah, tim damkar menemukan anakan ular kobra. “Kami ke Jubung, karena ada laporan muncul ular di rumah warga. Sayangnya, saat ditemukan, anakan ular itu sudah mati di daerah tumpukan batu bata,” ujar Dwi Atmoko Purnomo, Komandan Regu (Danru) B Damkar Jember.

Dia mengaku, tugas damkar pada saat musim hujan tidak selesai pada menghentikan api. Tetapi, ada sesuatu yang harus dikerjakan, yaitu evakuasi hewan-hewan berbahaya seperti ular masuk ke perkampungan hingga menyelinap ke rumah warga. Mulai dari masuk ke gudang tembakau, kos-kosan, sampai ke rumah. “Total sudah ada tujuh kejadian ular selama pergantian musim kemarau ke hujan ini,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Alasan mengapa ular mulai masuk ke permukiman di awal musim hujan, kata dia, lantaran habitat alami ular tidak membuatnya nyaman. Karenanya, ular mencari tempat yang sedikit hangat dan lembap. “Karena di luar dingin, ular mencari tempat lain. Biasanya ular itu suka tempat yang lembap,” paparnya.

Lokasi yang sering ditemukan saat evakuasi ular di permukiman adalah di saluran pembuangan, kamar mandi, di bawah kolong kamar tidur, serta tumpukan batu ataupun batu bata. “Makanya saat hujan seperti ini, kerap ditemukan ular di kamar mandi karena lembap,” katanya.

Menurutnya, serangkaian ular yang ditangani adalah anakan ular berbisa. “Anak ular berbisa itu lebih berbahaya dari pada ular dewasa yang berbisa,” imbuhnya. Alasannya, karena anakan ular tidak bisa mengontrol jumlah bisa yang dikeluarkan. “Kalau ular dewasa, saat gigit tidak mengeluarkan semua bisanya, sedangkan ular anakan mengeluarkan semua bisanya,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tidak ada api, tidak ada kebakaran. Tapi mobil milik pemadam kebakaran (damkar), siang kemarin (6/12), langsung menuju ke daerah Jalan Darmawangsa, Jubung, Sukorambi. Mengenakan sarung tangan, perlindungan mata, dan perlengkapan keselamatan lainnya, mereka menyisir setiap sudut rumah.

Lantas, di tumpukan batu bata itulah, tim damkar menemukan anakan ular kobra. “Kami ke Jubung, karena ada laporan muncul ular di rumah warga. Sayangnya, saat ditemukan, anakan ular itu sudah mati di daerah tumpukan batu bata,” ujar Dwi Atmoko Purnomo, Komandan Regu (Danru) B Damkar Jember.

Dia mengaku, tugas damkar pada saat musim hujan tidak selesai pada menghentikan api. Tetapi, ada sesuatu yang harus dikerjakan, yaitu evakuasi hewan-hewan berbahaya seperti ular masuk ke perkampungan hingga menyelinap ke rumah warga. Mulai dari masuk ke gudang tembakau, kos-kosan, sampai ke rumah. “Total sudah ada tujuh kejadian ular selama pergantian musim kemarau ke hujan ini,” katanya.

Alasan mengapa ular mulai masuk ke permukiman di awal musim hujan, kata dia, lantaran habitat alami ular tidak membuatnya nyaman. Karenanya, ular mencari tempat yang sedikit hangat dan lembap. “Karena di luar dingin, ular mencari tempat lain. Biasanya ular itu suka tempat yang lembap,” paparnya.

Lokasi yang sering ditemukan saat evakuasi ular di permukiman adalah di saluran pembuangan, kamar mandi, di bawah kolong kamar tidur, serta tumpukan batu ataupun batu bata. “Makanya saat hujan seperti ini, kerap ditemukan ular di kamar mandi karena lembap,” katanya.

Menurutnya, serangkaian ular yang ditangani adalah anakan ular berbisa. “Anak ular berbisa itu lebih berbahaya dari pada ular dewasa yang berbisa,” imbuhnya. Alasannya, karena anakan ular tidak bisa mengontrol jumlah bisa yang dikeluarkan. “Kalau ular dewasa, saat gigit tidak mengeluarkan semua bisanya, sedangkan ular anakan mengeluarkan semua bisanya,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tidak ada api, tidak ada kebakaran. Tapi mobil milik pemadam kebakaran (damkar), siang kemarin (6/12), langsung menuju ke daerah Jalan Darmawangsa, Jubung, Sukorambi. Mengenakan sarung tangan, perlindungan mata, dan perlengkapan keselamatan lainnya, mereka menyisir setiap sudut rumah.

Lantas, di tumpukan batu bata itulah, tim damkar menemukan anakan ular kobra. “Kami ke Jubung, karena ada laporan muncul ular di rumah warga. Sayangnya, saat ditemukan, anakan ular itu sudah mati di daerah tumpukan batu bata,” ujar Dwi Atmoko Purnomo, Komandan Regu (Danru) B Damkar Jember.

Dia mengaku, tugas damkar pada saat musim hujan tidak selesai pada menghentikan api. Tetapi, ada sesuatu yang harus dikerjakan, yaitu evakuasi hewan-hewan berbahaya seperti ular masuk ke perkampungan hingga menyelinap ke rumah warga. Mulai dari masuk ke gudang tembakau, kos-kosan, sampai ke rumah. “Total sudah ada tujuh kejadian ular selama pergantian musim kemarau ke hujan ini,” katanya.

Alasan mengapa ular mulai masuk ke permukiman di awal musim hujan, kata dia, lantaran habitat alami ular tidak membuatnya nyaman. Karenanya, ular mencari tempat yang sedikit hangat dan lembap. “Karena di luar dingin, ular mencari tempat lain. Biasanya ular itu suka tempat yang lembap,” paparnya.

Lokasi yang sering ditemukan saat evakuasi ular di permukiman adalah di saluran pembuangan, kamar mandi, di bawah kolong kamar tidur, serta tumpukan batu ataupun batu bata. “Makanya saat hujan seperti ini, kerap ditemukan ular di kamar mandi karena lembap,” katanya.

Menurutnya, serangkaian ular yang ditangani adalah anakan ular berbisa. “Anak ular berbisa itu lebih berbahaya dari pada ular dewasa yang berbisa,” imbuhnya. Alasannya, karena anakan ular tidak bisa mengontrol jumlah bisa yang dikeluarkan. “Kalau ular dewasa, saat gigit tidak mengeluarkan semua bisanya, sedangkan ular anakan mengeluarkan semua bisanya,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/