alexametrics
23.5 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Durian Bakar Pakusari Bisa Ditunggu sambil Cicipi Durian Segar

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak 2018 lalu, penjualan durian milik Ika semakin diminati pembeli. Sejak mengembangkannya menjadi durian bakar, para pembeli naik drastis dari biasanya. Bahkan sampai rela mengantre, menunggu proses pembakaran duren yang ada di halaman warungnya.

Banyaknya pesanan terkadang membuatnya kebingungan dalam melayani pembeli, akibat kekurangan tenaga karyawan. “Karena durian kan musiman, jadi nggak semua orang mau direkrut jadi karyawan. Soalnya kalau musim durian sudah selesai, mereka akan kehilangan pekerjaan,” ujarnya.

Pesanan terus bertambah, Ika hanya dibantu oleh suami, ibu, dan bibinya sendiri. Namun, orang-orang terdekatnya itu juga tak mampu ikut menjaga warung seharian saking banyaknya pembeli. Selain karena kekurangan tenaga, yang membuat pembakaran menjadi lama adalah alat pemanggang yang digunakan Ika berukuran sangat besar. Sehingga ia harus menyediakan banyak bahan bakar yang berasal dari kulit durian yang sudah kering, dan itu juga memakan banyak waktu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Demi terus menjalankan usahanya dan tetap diminati masyarakat, Ika pun berinisiatif untuk beralih ke alat pembakaran yang lebih praktis dan bisa melayani dengan cepat. Kompor gas menjadi solusi yang tepat bagi Ika. “Sebenarnya memang aromanya agak berbeda daripada dibakar pakai kulit durian. Tapi, kalau mengandalkan itu, nggak nutut nanti. Kulitnya masih harus dijemur, itu pun terbatas. Kasihan juga sama yang beli harus antre lama,” katanya.

Namun, menurut dia, sejak berjualan durian bakar, penjualan durian yang tanpa dibakar juga turut meningkat. Sebab, sembari menunggu matangnya durian di atas kompor, pembeli biasanya sambil mencicipi buah durian untuk dimakan di tempat.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak 2018 lalu, penjualan durian milik Ika semakin diminati pembeli. Sejak mengembangkannya menjadi durian bakar, para pembeli naik drastis dari biasanya. Bahkan sampai rela mengantre, menunggu proses pembakaran duren yang ada di halaman warungnya.

Banyaknya pesanan terkadang membuatnya kebingungan dalam melayani pembeli, akibat kekurangan tenaga karyawan. “Karena durian kan musiman, jadi nggak semua orang mau direkrut jadi karyawan. Soalnya kalau musim durian sudah selesai, mereka akan kehilangan pekerjaan,” ujarnya.

Pesanan terus bertambah, Ika hanya dibantu oleh suami, ibu, dan bibinya sendiri. Namun, orang-orang terdekatnya itu juga tak mampu ikut menjaga warung seharian saking banyaknya pembeli. Selain karena kekurangan tenaga, yang membuat pembakaran menjadi lama adalah alat pemanggang yang digunakan Ika berukuran sangat besar. Sehingga ia harus menyediakan banyak bahan bakar yang berasal dari kulit durian yang sudah kering, dan itu juga memakan banyak waktu.

Demi terus menjalankan usahanya dan tetap diminati masyarakat, Ika pun berinisiatif untuk beralih ke alat pembakaran yang lebih praktis dan bisa melayani dengan cepat. Kompor gas menjadi solusi yang tepat bagi Ika. “Sebenarnya memang aromanya agak berbeda daripada dibakar pakai kulit durian. Tapi, kalau mengandalkan itu, nggak nutut nanti. Kulitnya masih harus dijemur, itu pun terbatas. Kasihan juga sama yang beli harus antre lama,” katanya.

Namun, menurut dia, sejak berjualan durian bakar, penjualan durian yang tanpa dibakar juga turut meningkat. Sebab, sembari menunggu matangnya durian di atas kompor, pembeli biasanya sambil mencicipi buah durian untuk dimakan di tempat.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak 2018 lalu, penjualan durian milik Ika semakin diminati pembeli. Sejak mengembangkannya menjadi durian bakar, para pembeli naik drastis dari biasanya. Bahkan sampai rela mengantre, menunggu proses pembakaran duren yang ada di halaman warungnya.

Banyaknya pesanan terkadang membuatnya kebingungan dalam melayani pembeli, akibat kekurangan tenaga karyawan. “Karena durian kan musiman, jadi nggak semua orang mau direkrut jadi karyawan. Soalnya kalau musim durian sudah selesai, mereka akan kehilangan pekerjaan,” ujarnya.

Pesanan terus bertambah, Ika hanya dibantu oleh suami, ibu, dan bibinya sendiri. Namun, orang-orang terdekatnya itu juga tak mampu ikut menjaga warung seharian saking banyaknya pembeli. Selain karena kekurangan tenaga, yang membuat pembakaran menjadi lama adalah alat pemanggang yang digunakan Ika berukuran sangat besar. Sehingga ia harus menyediakan banyak bahan bakar yang berasal dari kulit durian yang sudah kering, dan itu juga memakan banyak waktu.

Demi terus menjalankan usahanya dan tetap diminati masyarakat, Ika pun berinisiatif untuk beralih ke alat pembakaran yang lebih praktis dan bisa melayani dengan cepat. Kompor gas menjadi solusi yang tepat bagi Ika. “Sebenarnya memang aromanya agak berbeda daripada dibakar pakai kulit durian. Tapi, kalau mengandalkan itu, nggak nutut nanti. Kulitnya masih harus dijemur, itu pun terbatas. Kasihan juga sama yang beli harus antre lama,” katanya.

Namun, menurut dia, sejak berjualan durian bakar, penjualan durian yang tanpa dibakar juga turut meningkat. Sebab, sembari menunggu matangnya durian di atas kompor, pembeli biasanya sambil mencicipi buah durian untuk dimakan di tempat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/