alexametrics
19.8 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Adu Cantik Layangan Batik

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADAJEMBER.ID – Biasanya batik hanya menjadi motif kain untuk bahan busana. Tapi ternyata, pola gambar bercorak dan menjadi ciri khas kain Indonesia tersebut tak hanya digunakan untuk baju semata, tapi juga sebagai ornamen layang-layang. Hal itu terlihat dalam gebyar layang-layang bermotif batik di lapangan belakang Pukesmas Sukorambi, kemarin (6/10).

Gebyar Layang-Layang Berbatik, atau disingkat Gelatik tersebut, tidak hanya menyedot perhatian pecinta layang-layang di daerah Sukorambi. Tapi juga daerah lain. Bahkan, penggemar layangan hias dari Puger juga datang.

Bila umumnya berwarna hitam polos, tapi layangan milik Saiful Bahri, warga Desa Wonosari, Kecamatan Puger, itu berbeda. Meski rangkanya tetap dari bambu dan plastik hitam jadi pembungkusnya, pria 40 tahun ini mempercantik layangannya sedemikian rupa dengan menambah ornamen batik bermotif semar.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bahkan, ada juga layangan yang terbuat dari kertas kado bermotif batik. Kendati banyak orang ragu apakah layangan itu bisa naik lantaran jarang yang pakai kertas kado, namun ternyata bisa melayang juga. Namun, cukup berisiko, terutama ketika turun hujan. “Kalau dari kertas itu kan berat. Kena angin terlalu kencang juga bisa robek. Apalagi kalau terkena hujan,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADAJEMBER.ID – Biasanya batik hanya menjadi motif kain untuk bahan busana. Tapi ternyata, pola gambar bercorak dan menjadi ciri khas kain Indonesia tersebut tak hanya digunakan untuk baju semata, tapi juga sebagai ornamen layang-layang. Hal itu terlihat dalam gebyar layang-layang bermotif batik di lapangan belakang Pukesmas Sukorambi, kemarin (6/10).

Gebyar Layang-Layang Berbatik, atau disingkat Gelatik tersebut, tidak hanya menyedot perhatian pecinta layang-layang di daerah Sukorambi. Tapi juga daerah lain. Bahkan, penggemar layangan hias dari Puger juga datang.

Bila umumnya berwarna hitam polos, tapi layangan milik Saiful Bahri, warga Desa Wonosari, Kecamatan Puger, itu berbeda. Meski rangkanya tetap dari bambu dan plastik hitam jadi pembungkusnya, pria 40 tahun ini mempercantik layangannya sedemikian rupa dengan menambah ornamen batik bermotif semar.

Bahkan, ada juga layangan yang terbuat dari kertas kado bermotif batik. Kendati banyak orang ragu apakah layangan itu bisa naik lantaran jarang yang pakai kertas kado, namun ternyata bisa melayang juga. Namun, cukup berisiko, terutama ketika turun hujan. “Kalau dari kertas itu kan berat. Kena angin terlalu kencang juga bisa robek. Apalagi kalau terkena hujan,” tuturnya.

JEMBER, RADAJEMBER.ID – Biasanya batik hanya menjadi motif kain untuk bahan busana. Tapi ternyata, pola gambar bercorak dan menjadi ciri khas kain Indonesia tersebut tak hanya digunakan untuk baju semata, tapi juga sebagai ornamen layang-layang. Hal itu terlihat dalam gebyar layang-layang bermotif batik di lapangan belakang Pukesmas Sukorambi, kemarin (6/10).

Gebyar Layang-Layang Berbatik, atau disingkat Gelatik tersebut, tidak hanya menyedot perhatian pecinta layang-layang di daerah Sukorambi. Tapi juga daerah lain. Bahkan, penggemar layangan hias dari Puger juga datang.

Bila umumnya berwarna hitam polos, tapi layangan milik Saiful Bahri, warga Desa Wonosari, Kecamatan Puger, itu berbeda. Meski rangkanya tetap dari bambu dan plastik hitam jadi pembungkusnya, pria 40 tahun ini mempercantik layangannya sedemikian rupa dengan menambah ornamen batik bermotif semar.

Bahkan, ada juga layangan yang terbuat dari kertas kado bermotif batik. Kendati banyak orang ragu apakah layangan itu bisa naik lantaran jarang yang pakai kertas kado, namun ternyata bisa melayang juga. Namun, cukup berisiko, terutama ketika turun hujan. “Kalau dari kertas itu kan berat. Kena angin terlalu kencang juga bisa robek. Apalagi kalau terkena hujan,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/