alexametrics
23.8 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

7 Potensi Bencana Alam Resiko Tinggi di Jember, Salah Satunya Tsunami

"Indeks risiko bencana Jember terus turun, tetapi lebih tinggi dibandingkan Jawa Timur." Hendy Siswanto - Bupati Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Bencana alam bisa terjadi kapan saja. Meski dapat diprediksi, namun kedatangannya sulit dipastikan. Dalam draf Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2021–2026, kesiapsiagaan terhadap bencana menjadi fokus tersendiri untuk diblejeti.

Bupati Jember Hendy Siswanto mengungkapkan, kabupaten yang dikenal sebagai Kota Pesantren ini memiliki sedikitnya tujuh potensi bencana alam. Potensi bencana yang tidak diketahui datangnya itu tersebar di 31 kecamatan.

Tujuh potensi dimaksud yakni mulai dari tanah longsor, banjir, tsunami, puting beliung, gempa bumi, gunung berapi, dan kekeringan. “Perlu mempertimbangkan kesiapsiagaan kita terhadap bencana alam dan nonalam di Kabupaten Jember,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tak hanya itu, menurutnya, pandemi Covid-19 mengajarkan betapa pentingnya memitigasi risiko bencana nonalam. “Indeks risiko bencana Jember terus turun, tetapi lebih tinggi dibandingkan Jawa Timur,” ucapnya.

Dia mencontohkan, tahun 2019 lalu, indeks risiko bencana di Jember sebesar 181,1 poin. “Angka ini masuk dalam kategori risiko tinggi,” imbuh pria yang dikenal sebagai pengusaha tersebut.

Guna menghadapi kemungkinan-kemungkinan terjadinya bencana, maka Jember harus menekan risiko yang ditimbulkan. “Risiko tinggi ini tentu dapat ditekan dengan meningkatkan mitigasi risiko bencana di Kabupaten Jember,” jelas Hendy.

Indeks risiko bencana, menurutnya, harus ditekan secara bertahap. Pada tahun 2024 ditargetkan turun menjadi 160 poin, dan pada 2026 menjadi 120 poin. Demi menekan indeks risiko itu, tentu diperlukan langkah-langkah strategis yang dilakukan Pemkab Jember dengan melibatkan masyarakat.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Bencana alam bisa terjadi kapan saja. Meski dapat diprediksi, namun kedatangannya sulit dipastikan. Dalam draf Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2021–2026, kesiapsiagaan terhadap bencana menjadi fokus tersendiri untuk diblejeti.

Bupati Jember Hendy Siswanto mengungkapkan, kabupaten yang dikenal sebagai Kota Pesantren ini memiliki sedikitnya tujuh potensi bencana alam. Potensi bencana yang tidak diketahui datangnya itu tersebar di 31 kecamatan.

Tujuh potensi dimaksud yakni mulai dari tanah longsor, banjir, tsunami, puting beliung, gempa bumi, gunung berapi, dan kekeringan. “Perlu mempertimbangkan kesiapsiagaan kita terhadap bencana alam dan nonalam di Kabupaten Jember,” ungkapnya.

Tak hanya itu, menurutnya, pandemi Covid-19 mengajarkan betapa pentingnya memitigasi risiko bencana nonalam. “Indeks risiko bencana Jember terus turun, tetapi lebih tinggi dibandingkan Jawa Timur,” ucapnya.

Dia mencontohkan, tahun 2019 lalu, indeks risiko bencana di Jember sebesar 181,1 poin. “Angka ini masuk dalam kategori risiko tinggi,” imbuh pria yang dikenal sebagai pengusaha tersebut.

Guna menghadapi kemungkinan-kemungkinan terjadinya bencana, maka Jember harus menekan risiko yang ditimbulkan. “Risiko tinggi ini tentu dapat ditekan dengan meningkatkan mitigasi risiko bencana di Kabupaten Jember,” jelas Hendy.

Indeks risiko bencana, menurutnya, harus ditekan secara bertahap. Pada tahun 2024 ditargetkan turun menjadi 160 poin, dan pada 2026 menjadi 120 poin. Demi menekan indeks risiko itu, tentu diperlukan langkah-langkah strategis yang dilakukan Pemkab Jember dengan melibatkan masyarakat.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Bencana alam bisa terjadi kapan saja. Meski dapat diprediksi, namun kedatangannya sulit dipastikan. Dalam draf Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2021–2026, kesiapsiagaan terhadap bencana menjadi fokus tersendiri untuk diblejeti.

Bupati Jember Hendy Siswanto mengungkapkan, kabupaten yang dikenal sebagai Kota Pesantren ini memiliki sedikitnya tujuh potensi bencana alam. Potensi bencana yang tidak diketahui datangnya itu tersebar di 31 kecamatan.

Tujuh potensi dimaksud yakni mulai dari tanah longsor, banjir, tsunami, puting beliung, gempa bumi, gunung berapi, dan kekeringan. “Perlu mempertimbangkan kesiapsiagaan kita terhadap bencana alam dan nonalam di Kabupaten Jember,” ungkapnya.

Tak hanya itu, menurutnya, pandemi Covid-19 mengajarkan betapa pentingnya memitigasi risiko bencana nonalam. “Indeks risiko bencana Jember terus turun, tetapi lebih tinggi dibandingkan Jawa Timur,” ucapnya.

Dia mencontohkan, tahun 2019 lalu, indeks risiko bencana di Jember sebesar 181,1 poin. “Angka ini masuk dalam kategori risiko tinggi,” imbuh pria yang dikenal sebagai pengusaha tersebut.

Guna menghadapi kemungkinan-kemungkinan terjadinya bencana, maka Jember harus menekan risiko yang ditimbulkan. “Risiko tinggi ini tentu dapat ditekan dengan meningkatkan mitigasi risiko bencana di Kabupaten Jember,” jelas Hendy.

Indeks risiko bencana, menurutnya, harus ditekan secara bertahap. Pada tahun 2024 ditargetkan turun menjadi 160 poin, dan pada 2026 menjadi 120 poin. Demi menekan indeks risiko itu, tentu diperlukan langkah-langkah strategis yang dilakukan Pemkab Jember dengan melibatkan masyarakat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/