alexametrics
23.4 C
Jember
Saturday, 13 August 2022

Kredibilitas Parpol Diuji

Tiga Paslon Miliki Plus Minus

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tak hanya soal siapa yang paling dijagokan, munculnya tiga pasangan calon yang akan bertarung pada Pilkada Jember nanti juga bakal menguji sejauh mana efektivitas mesin parpol dalam meraup dukungan masyarakat. Meskipun sempat ada prediksi parpol akan beradu head to head dengan petahana, namun munculnya rekomendasi yang mengerucut menjadi dua paslon selama sepekan kemarin, seakan membuka kesadaran publik bahwa parpol di tingkat bawah hingga pusat belum saklek soal dukungan.

Pengamat politik FISIP Universitas Jember, Rahmad Hidayat mengungkapkan, dengan modal yang dimiliki saat ini, ketiga paslon sama-sama memiliki peluang meraup suara besar. Petahana dengan surat dukungannya, sementara dua paslon lain dengan rekomendasi parpol yang dimilikinya.

Namun, menurut dia, yang disayangkan adalah soal inkonsistensi parpol. “Para dewan yang kemarin menggugat petahana ke MA, jika itu diakumulasikan menjadi dukungan tunggal, otomatis akan head to head. Tetapi kenyataannya tidak. Munculnya rekom yang beda-beda, pengurus parpol daerah dan pusat memiliki pertimbangan berbeda-beda,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lebih jauh, pria yang juga menjabat sebagai Kaprodi Ilmu Administrasi Pascasarjana Universitas Jember itu menambahkan, jika parpol hari ini mengusung paslon berbeda, maka peta politik di arus bawah akan lebih terpolar, atau tersebar ke berbagai arah. Sementara, dukungan petahana diprediksinya lebih dinamis.

Inilah yang kemudian akan menjadi ajang pembuktian, sejauh mana kredibilitas partai dalam menggerakkan mesin politiknya di arus bawah. “Dengan sederet kemungkinan yang ada, munculnya dua paslon melawan petahana itu menunjukkan inkonsistensi parpol. Jadi, kredibilitas parpol dalam pilkada ini benar-benar dipertaruhkan,” sambungnya.

Sementara itu, dosen Ilmu komunikasi Politik Fakultas Dakwah IAIN Jember, Kun Waziz memaparkan, munculnya tiga paslon dalam pilkada Desember mendatang memberikan indikasi kuat bahwa realitas politik di Jember tidak pernah bermakna tunggal. Artinya, selalu terjadi tarik-menarik pada kepentingan politik kandidat dan partai yang pengusung.

Dirinya menilai, proses negosiasi politik yang selalu berubah dengan mengerucutnya tiga paslon itu merupakan fenomena politik yang menarik. Seakan meruntuhkan keyakinan politik para politisi di DPRD Jember yang sejak awal akan mengerucutkan pada satu pasangan calon untuk melawan petahana.

“Ketiganya merupakan hasil kristalisasi perjumpaan beragam kepentingan politik. Jika benar tiga paslon itu yang ditetapkan oleh KPU Jember, maka ketiga kandidat memiliki peluang sama. Karena kredibilitas ketiganya sama-sama memiliki daya tarik terhadap representasi kekuatan rakyat di Jember,” ujarnya.

Doktor Ilmu Komunikasi Unpad Bandung itu menganalisis, petahana menjadi representasi pendukungnya melalui dukungan independen. Sedangkan dua paslon lainnya merupakan representasi kekuatan politik melalui rekomendasi parpol yang duduk di parlemen. Dengan demikian, kata Kun Waziz, ketiganya berhak mengklaim maupun mengalkulasi suara rakyat sebagai modal politik untuk memenangkan pilkada.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tak hanya soal siapa yang paling dijagokan, munculnya tiga pasangan calon yang akan bertarung pada Pilkada Jember nanti juga bakal menguji sejauh mana efektivitas mesin parpol dalam meraup dukungan masyarakat. Meskipun sempat ada prediksi parpol akan beradu head to head dengan petahana, namun munculnya rekomendasi yang mengerucut menjadi dua paslon selama sepekan kemarin, seakan membuka kesadaran publik bahwa parpol di tingkat bawah hingga pusat belum saklek soal dukungan.

Pengamat politik FISIP Universitas Jember, Rahmad Hidayat mengungkapkan, dengan modal yang dimiliki saat ini, ketiga paslon sama-sama memiliki peluang meraup suara besar. Petahana dengan surat dukungannya, sementara dua paslon lain dengan rekomendasi parpol yang dimilikinya.

Namun, menurut dia, yang disayangkan adalah soal inkonsistensi parpol. “Para dewan yang kemarin menggugat petahana ke MA, jika itu diakumulasikan menjadi dukungan tunggal, otomatis akan head to head. Tetapi kenyataannya tidak. Munculnya rekom yang beda-beda, pengurus parpol daerah dan pusat memiliki pertimbangan berbeda-beda,” jelasnya.

Lebih jauh, pria yang juga menjabat sebagai Kaprodi Ilmu Administrasi Pascasarjana Universitas Jember itu menambahkan, jika parpol hari ini mengusung paslon berbeda, maka peta politik di arus bawah akan lebih terpolar, atau tersebar ke berbagai arah. Sementara, dukungan petahana diprediksinya lebih dinamis.

Inilah yang kemudian akan menjadi ajang pembuktian, sejauh mana kredibilitas partai dalam menggerakkan mesin politiknya di arus bawah. “Dengan sederet kemungkinan yang ada, munculnya dua paslon melawan petahana itu menunjukkan inkonsistensi parpol. Jadi, kredibilitas parpol dalam pilkada ini benar-benar dipertaruhkan,” sambungnya.

Sementara itu, dosen Ilmu komunikasi Politik Fakultas Dakwah IAIN Jember, Kun Waziz memaparkan, munculnya tiga paslon dalam pilkada Desember mendatang memberikan indikasi kuat bahwa realitas politik di Jember tidak pernah bermakna tunggal. Artinya, selalu terjadi tarik-menarik pada kepentingan politik kandidat dan partai yang pengusung.

Dirinya menilai, proses negosiasi politik yang selalu berubah dengan mengerucutnya tiga paslon itu merupakan fenomena politik yang menarik. Seakan meruntuhkan keyakinan politik para politisi di DPRD Jember yang sejak awal akan mengerucutkan pada satu pasangan calon untuk melawan petahana.

“Ketiganya merupakan hasil kristalisasi perjumpaan beragam kepentingan politik. Jika benar tiga paslon itu yang ditetapkan oleh KPU Jember, maka ketiga kandidat memiliki peluang sama. Karena kredibilitas ketiganya sama-sama memiliki daya tarik terhadap representasi kekuatan rakyat di Jember,” ujarnya.

Doktor Ilmu Komunikasi Unpad Bandung itu menganalisis, petahana menjadi representasi pendukungnya melalui dukungan independen. Sedangkan dua paslon lainnya merupakan representasi kekuatan politik melalui rekomendasi parpol yang duduk di parlemen. Dengan demikian, kata Kun Waziz, ketiganya berhak mengklaim maupun mengalkulasi suara rakyat sebagai modal politik untuk memenangkan pilkada.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tak hanya soal siapa yang paling dijagokan, munculnya tiga pasangan calon yang akan bertarung pada Pilkada Jember nanti juga bakal menguji sejauh mana efektivitas mesin parpol dalam meraup dukungan masyarakat. Meskipun sempat ada prediksi parpol akan beradu head to head dengan petahana, namun munculnya rekomendasi yang mengerucut menjadi dua paslon selama sepekan kemarin, seakan membuka kesadaran publik bahwa parpol di tingkat bawah hingga pusat belum saklek soal dukungan.

Pengamat politik FISIP Universitas Jember, Rahmad Hidayat mengungkapkan, dengan modal yang dimiliki saat ini, ketiga paslon sama-sama memiliki peluang meraup suara besar. Petahana dengan surat dukungannya, sementara dua paslon lain dengan rekomendasi parpol yang dimilikinya.

Namun, menurut dia, yang disayangkan adalah soal inkonsistensi parpol. “Para dewan yang kemarin menggugat petahana ke MA, jika itu diakumulasikan menjadi dukungan tunggal, otomatis akan head to head. Tetapi kenyataannya tidak. Munculnya rekom yang beda-beda, pengurus parpol daerah dan pusat memiliki pertimbangan berbeda-beda,” jelasnya.

Lebih jauh, pria yang juga menjabat sebagai Kaprodi Ilmu Administrasi Pascasarjana Universitas Jember itu menambahkan, jika parpol hari ini mengusung paslon berbeda, maka peta politik di arus bawah akan lebih terpolar, atau tersebar ke berbagai arah. Sementara, dukungan petahana diprediksinya lebih dinamis.

Inilah yang kemudian akan menjadi ajang pembuktian, sejauh mana kredibilitas partai dalam menggerakkan mesin politiknya di arus bawah. “Dengan sederet kemungkinan yang ada, munculnya dua paslon melawan petahana itu menunjukkan inkonsistensi parpol. Jadi, kredibilitas parpol dalam pilkada ini benar-benar dipertaruhkan,” sambungnya.

Sementara itu, dosen Ilmu komunikasi Politik Fakultas Dakwah IAIN Jember, Kun Waziz memaparkan, munculnya tiga paslon dalam pilkada Desember mendatang memberikan indikasi kuat bahwa realitas politik di Jember tidak pernah bermakna tunggal. Artinya, selalu terjadi tarik-menarik pada kepentingan politik kandidat dan partai yang pengusung.

Dirinya menilai, proses negosiasi politik yang selalu berubah dengan mengerucutnya tiga paslon itu merupakan fenomena politik yang menarik. Seakan meruntuhkan keyakinan politik para politisi di DPRD Jember yang sejak awal akan mengerucutkan pada satu pasangan calon untuk melawan petahana.

“Ketiganya merupakan hasil kristalisasi perjumpaan beragam kepentingan politik. Jika benar tiga paslon itu yang ditetapkan oleh KPU Jember, maka ketiga kandidat memiliki peluang sama. Karena kredibilitas ketiganya sama-sama memiliki daya tarik terhadap representasi kekuatan rakyat di Jember,” ujarnya.

Doktor Ilmu Komunikasi Unpad Bandung itu menganalisis, petahana menjadi representasi pendukungnya melalui dukungan independen. Sedangkan dua paslon lainnya merupakan representasi kekuatan politik melalui rekomendasi parpol yang duduk di parlemen. Dengan demikian, kata Kun Waziz, ketiganya berhak mengklaim maupun mengalkulasi suara rakyat sebagai modal politik untuk memenangkan pilkada.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/