alexametrics
31.8 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Basis Ormas Berpotensi Pecah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kehadiran organisasi masyarakat (ormas) dalam perpolitikan tidak bisa dilepaskan. Kontribusi ormas dianggap mujarab dalam menarik dukungan pemilih. Oleh karena itu, dalam tiap kontestasi politik masing-masing kandidat saling berebut sokongan mereka. Dan dalam setiap survei politik, biasanya juga menyertakan pertanyaan kepada narasumber apakah bagian dari ormas tertentu atau tidak.

Direktur Utama Politika Research and Consulting (PRC) Rio Prayogo menjelaskan, karakteristik pemilih yang berafiliasi kepada ormas tertentu memang berbeda-beda. Tingkat nasional dan daerah juga tak sama. Jika tingkat nasional memiliki pengaruh cukup kuat, di daerah belum tentu. Tergantung daerahnya masing-masing.

Dia mencontohkan dua ormas besar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah. Basis massa dua ormas ini sifatnya ada yang struktural dan kultural. Dia menegaskan, meski secara nasional ormas memiiki pengaruh dalam memetakan pemilih, namun untuk tingkat daerah, kondisinya tidak linier. “Secara umum, kami melihat pola pergerakan dari pemilih ormas tersebut,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Rio mengungkapkan, ormas NU yang punya persentase besar secara nasional berkecenderungan justru memilih partai PDIP, bukan PKB. Baru di Jember, basis NU ke PKB. Sementara itu, dalam Pilkada Jember saat ini, kedua partai itu bergabung. Sehingga bertemunya basis massa NU, baik yang menjadi pemilih PDIP maupun PKB, bisa bertemu.

Walau begitu, Rio menambahkan, perhitungannya tak bisa matematis. Artinya, tak semua basis NU bakal memilih pasangan calon (paslon) yang diusung oleh PDIP dan PKB. Sebab, ada faktor lain yang memengaruhi massa NU dalam pilkada kali ini, yaitu Gus Firjaun yang maju menjadi bakal calon wakil bupati. Sementara itu, dia melihat Muhammadiyah juga berpotensi suaranya tidak utuh ke satu paslon.

Menurut Rio, dalam dunia survei juga mengklasifikasi beberapa karakteristik pemilih. Ada pemilih yang menentukan pilihan jauh-jauh hari atau yang disebut definitif. Umumnya, karakter pemilih ini adalah mereka yang pendukung setia calon. Namun, ada juga pemilih yang menentukan pilihannya setelah masa kampanye dengan mendengar program dan lainnya. “Itu disebut pemilih rasional,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kehadiran organisasi masyarakat (ormas) dalam perpolitikan tidak bisa dilepaskan. Kontribusi ormas dianggap mujarab dalam menarik dukungan pemilih. Oleh karena itu, dalam tiap kontestasi politik masing-masing kandidat saling berebut sokongan mereka. Dan dalam setiap survei politik, biasanya juga menyertakan pertanyaan kepada narasumber apakah bagian dari ormas tertentu atau tidak.

Direktur Utama Politika Research and Consulting (PRC) Rio Prayogo menjelaskan, karakteristik pemilih yang berafiliasi kepada ormas tertentu memang berbeda-beda. Tingkat nasional dan daerah juga tak sama. Jika tingkat nasional memiliki pengaruh cukup kuat, di daerah belum tentu. Tergantung daerahnya masing-masing.

Dia mencontohkan dua ormas besar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah. Basis massa dua ormas ini sifatnya ada yang struktural dan kultural. Dia menegaskan, meski secara nasional ormas memiiki pengaruh dalam memetakan pemilih, namun untuk tingkat daerah, kondisinya tidak linier. “Secara umum, kami melihat pola pergerakan dari pemilih ormas tersebut,” tuturnya.

Rio mengungkapkan, ormas NU yang punya persentase besar secara nasional berkecenderungan justru memilih partai PDIP, bukan PKB. Baru di Jember, basis NU ke PKB. Sementara itu, dalam Pilkada Jember saat ini, kedua partai itu bergabung. Sehingga bertemunya basis massa NU, baik yang menjadi pemilih PDIP maupun PKB, bisa bertemu.

Walau begitu, Rio menambahkan, perhitungannya tak bisa matematis. Artinya, tak semua basis NU bakal memilih pasangan calon (paslon) yang diusung oleh PDIP dan PKB. Sebab, ada faktor lain yang memengaruhi massa NU dalam pilkada kali ini, yaitu Gus Firjaun yang maju menjadi bakal calon wakil bupati. Sementara itu, dia melihat Muhammadiyah juga berpotensi suaranya tidak utuh ke satu paslon.

Menurut Rio, dalam dunia survei juga mengklasifikasi beberapa karakteristik pemilih. Ada pemilih yang menentukan pilihan jauh-jauh hari atau yang disebut definitif. Umumnya, karakter pemilih ini adalah mereka yang pendukung setia calon. Namun, ada juga pemilih yang menentukan pilihannya setelah masa kampanye dengan mendengar program dan lainnya. “Itu disebut pemilih rasional,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kehadiran organisasi masyarakat (ormas) dalam perpolitikan tidak bisa dilepaskan. Kontribusi ormas dianggap mujarab dalam menarik dukungan pemilih. Oleh karena itu, dalam tiap kontestasi politik masing-masing kandidat saling berebut sokongan mereka. Dan dalam setiap survei politik, biasanya juga menyertakan pertanyaan kepada narasumber apakah bagian dari ormas tertentu atau tidak.

Direktur Utama Politika Research and Consulting (PRC) Rio Prayogo menjelaskan, karakteristik pemilih yang berafiliasi kepada ormas tertentu memang berbeda-beda. Tingkat nasional dan daerah juga tak sama. Jika tingkat nasional memiliki pengaruh cukup kuat, di daerah belum tentu. Tergantung daerahnya masing-masing.

Dia mencontohkan dua ormas besar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah. Basis massa dua ormas ini sifatnya ada yang struktural dan kultural. Dia menegaskan, meski secara nasional ormas memiiki pengaruh dalam memetakan pemilih, namun untuk tingkat daerah, kondisinya tidak linier. “Secara umum, kami melihat pola pergerakan dari pemilih ormas tersebut,” tuturnya.

Rio mengungkapkan, ormas NU yang punya persentase besar secara nasional berkecenderungan justru memilih partai PDIP, bukan PKB. Baru di Jember, basis NU ke PKB. Sementara itu, dalam Pilkada Jember saat ini, kedua partai itu bergabung. Sehingga bertemunya basis massa NU, baik yang menjadi pemilih PDIP maupun PKB, bisa bertemu.

Walau begitu, Rio menambahkan, perhitungannya tak bisa matematis. Artinya, tak semua basis NU bakal memilih pasangan calon (paslon) yang diusung oleh PDIP dan PKB. Sebab, ada faktor lain yang memengaruhi massa NU dalam pilkada kali ini, yaitu Gus Firjaun yang maju menjadi bakal calon wakil bupati. Sementara itu, dia melihat Muhammadiyah juga berpotensi suaranya tidak utuh ke satu paslon.

Menurut Rio, dalam dunia survei juga mengklasifikasi beberapa karakteristik pemilih. Ada pemilih yang menentukan pilihan jauh-jauh hari atau yang disebut definitif. Umumnya, karakter pemilih ini adalah mereka yang pendukung setia calon. Namun, ada juga pemilih yang menentukan pilihannya setelah masa kampanye dengan mendengar program dan lainnya. “Itu disebut pemilih rasional,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/