alexametrics
23.7 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Bisa Diajarkan Lewat Busana

Pendidikan Seks sejak Usia Dini

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pendidikan seks pada anak tidak selalu didapat dalam ranah pendidikan formal. Orang tua dan keluarga adalah sarana pendidikan seks pertama yang tepat didapat sang buah hati. Sayangnya, pendidikan seks sering kali dianggap hal yang tabu. Apalagi paradigma masyarakat tentang pendidikan seks masih sebatas pada alat vital.

Marisa Selvy, salah seorang psikolog Jember, mengatakan, sejumlah kasus pelecehan seksual anak-anak hingga berkedok penelitian kain jarik bisa jadi diawali dari kurangnya pemahaman tentang pendidikan seks. Dia mencontohkan, korban penelitian kain jarik tersebut bisa saja menolak apa yang diperintahkan pelaku. “Karena dalam pendidikan seks itu memahami apa yang boleh dan tidak boleh, dan berani bilang tidak dan menolak,” tuturnya.

Pendidikan seks, kata dia, kerap dianggap tabu karena masih banyak paradigma tentang pendidikan seks berkaitan dengan hubungan badan, alat kelamin, hingga ornamen-ornamen seksual. Padahal, pendidikan seks itu secara sederhana diawali dari memahami tubuh sendiri. Cara mudah mendapatkan pendidikan seks itu diawali dari orang tua dan sejak balita, setidaknya usia 2-5 tahun.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mengenalkan pendidikan seks pada anak tentu saja berbeda dengan anak remaja ataupun dewasa. “Cukup bagaimana berpakaian atau berbusana yang baik. Jadi, orang tua punya peran sebagai contoh anak,” jelasnya.

Hal yang kerap kali tidak dipahami orang tua dalam pendidikan seks adalah memakai busana yang tidak pantas, walau berada di dalam rumah. Dia mencontohkan, jika setelah selesai mandi, selayaknya orang tua memakai baju lengkap seperti sebelum masuk kamar mandi. “Tidak lantas keluar memakai handuk dan berlarian menuju kamar,” jelasnya. Ini menjadi contoh kurang baik, karena orang tua harus memberikan teladan bahwa bagian tubuh itu patut dilindungi dan tidak dipertontonkan kepada orang lain.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pendidikan seks pada anak tidak selalu didapat dalam ranah pendidikan formal. Orang tua dan keluarga adalah sarana pendidikan seks pertama yang tepat didapat sang buah hati. Sayangnya, pendidikan seks sering kali dianggap hal yang tabu. Apalagi paradigma masyarakat tentang pendidikan seks masih sebatas pada alat vital.

Marisa Selvy, salah seorang psikolog Jember, mengatakan, sejumlah kasus pelecehan seksual anak-anak hingga berkedok penelitian kain jarik bisa jadi diawali dari kurangnya pemahaman tentang pendidikan seks. Dia mencontohkan, korban penelitian kain jarik tersebut bisa saja menolak apa yang diperintahkan pelaku. “Karena dalam pendidikan seks itu memahami apa yang boleh dan tidak boleh, dan berani bilang tidak dan menolak,” tuturnya.

Pendidikan seks, kata dia, kerap dianggap tabu karena masih banyak paradigma tentang pendidikan seks berkaitan dengan hubungan badan, alat kelamin, hingga ornamen-ornamen seksual. Padahal, pendidikan seks itu secara sederhana diawali dari memahami tubuh sendiri. Cara mudah mendapatkan pendidikan seks itu diawali dari orang tua dan sejak balita, setidaknya usia 2-5 tahun.

Mengenalkan pendidikan seks pada anak tentu saja berbeda dengan anak remaja ataupun dewasa. “Cukup bagaimana berpakaian atau berbusana yang baik. Jadi, orang tua punya peran sebagai contoh anak,” jelasnya.

Hal yang kerap kali tidak dipahami orang tua dalam pendidikan seks adalah memakai busana yang tidak pantas, walau berada di dalam rumah. Dia mencontohkan, jika setelah selesai mandi, selayaknya orang tua memakai baju lengkap seperti sebelum masuk kamar mandi. “Tidak lantas keluar memakai handuk dan berlarian menuju kamar,” jelasnya. Ini menjadi contoh kurang baik, karena orang tua harus memberikan teladan bahwa bagian tubuh itu patut dilindungi dan tidak dipertontonkan kepada orang lain.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pendidikan seks pada anak tidak selalu didapat dalam ranah pendidikan formal. Orang tua dan keluarga adalah sarana pendidikan seks pertama yang tepat didapat sang buah hati. Sayangnya, pendidikan seks sering kali dianggap hal yang tabu. Apalagi paradigma masyarakat tentang pendidikan seks masih sebatas pada alat vital.

Marisa Selvy, salah seorang psikolog Jember, mengatakan, sejumlah kasus pelecehan seksual anak-anak hingga berkedok penelitian kain jarik bisa jadi diawali dari kurangnya pemahaman tentang pendidikan seks. Dia mencontohkan, korban penelitian kain jarik tersebut bisa saja menolak apa yang diperintahkan pelaku. “Karena dalam pendidikan seks itu memahami apa yang boleh dan tidak boleh, dan berani bilang tidak dan menolak,” tuturnya.

Pendidikan seks, kata dia, kerap dianggap tabu karena masih banyak paradigma tentang pendidikan seks berkaitan dengan hubungan badan, alat kelamin, hingga ornamen-ornamen seksual. Padahal, pendidikan seks itu secara sederhana diawali dari memahami tubuh sendiri. Cara mudah mendapatkan pendidikan seks itu diawali dari orang tua dan sejak balita, setidaknya usia 2-5 tahun.

Mengenalkan pendidikan seks pada anak tentu saja berbeda dengan anak remaja ataupun dewasa. “Cukup bagaimana berpakaian atau berbusana yang baik. Jadi, orang tua punya peran sebagai contoh anak,” jelasnya.

Hal yang kerap kali tidak dipahami orang tua dalam pendidikan seks adalah memakai busana yang tidak pantas, walau berada di dalam rumah. Dia mencontohkan, jika setelah selesai mandi, selayaknya orang tua memakai baju lengkap seperti sebelum masuk kamar mandi. “Tidak lantas keluar memakai handuk dan berlarian menuju kamar,” jelasnya. Ini menjadi contoh kurang baik, karena orang tua harus memberikan teladan bahwa bagian tubuh itu patut dilindungi dan tidak dipertontonkan kepada orang lain.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/