alexametrics
21.9 C
Jember
Saturday, 20 August 2022

Retribusi Ruko Jompo Nihil

Pembongkaran Terus Dilangsungkan, Jalanan Sempat Tersendat

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER KIDUL, Radar Jember – Rumah toko (ruko) di atas Jembatan Jompo, Jalan Sultan Agung, Jember, terus dibongkar. Bila sebelumnya dilakukan secara manual, kini prosesnya menggunakan dua alat berat. Di sisi lain, di balik pembongkaran tujuh ruko itu rupanya ada sederet riwayat yang cukup mencengangkan.

BACA JUGA : Ini Kronologi Hilangnya Pemancing di Pantai Payangan Jember

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, proses pembongkaran dilakukan dengan hati-hati. Hal itu untuk mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Selain itu, separuh ruas Jalan Sultan Agung di Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, ditutup. Saat alat berat tiba dan pembongkaran dilangsungkan, lalu lintas di jalan setempat sempat tersendat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dua alat berat diturunkan langsung oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Sumber Daya Air (DPUSDA) Provinsi Jawa Timur. Selama proses pembongkaran, tidak boleh ada orang yang mendekat demi keamanan. Saat proses berlangsung, sejumlah warga pun menonton jatuhnya puing-puing bangunan yang berdiri di atas jembatan tersebut.

Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Jember Tita Fajar Ariyatiningsih menyampaikan, ketujuh ruko yang sempat digunakan lapak jualan oleh warga itu berdiri tepat di atas Kali Jompo yang merupakan kewenangan Pemprov Jatim. Sementara, lokasi itu juga dilintasi jalan nasional yang merupakan kewenangan pemerintah pusat. Sedangkan bangunnya diakui menjadi salah satu aset milik Pemkab Jember. “Tujuh ruko Jompo yang dibongkar itu masih tercatat aset daerah,” katanya.

Kendati menjadi aset daerah, tujuh ruko yang dibangun pada sekitar medio tahun 1987 silam itu selama beroperasi hingga dibongkar kemarin diduga menunggak pembayaran retribusinya. Bahkan nihil. Pihak kedua yang memanfaatkan aset daerah seharusnya ada sistem kerja sama bagi hasil, atau jika memberlakukan sewa, ada kewajiban pembayaran sewa atau semacam retribusi.

- Advertisement -

JEMBER KIDUL, Radar Jember – Rumah toko (ruko) di atas Jembatan Jompo, Jalan Sultan Agung, Jember, terus dibongkar. Bila sebelumnya dilakukan secara manual, kini prosesnya menggunakan dua alat berat. Di sisi lain, di balik pembongkaran tujuh ruko itu rupanya ada sederet riwayat yang cukup mencengangkan.

BACA JUGA : Ini Kronologi Hilangnya Pemancing di Pantai Payangan Jember

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, proses pembongkaran dilakukan dengan hati-hati. Hal itu untuk mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Selain itu, separuh ruas Jalan Sultan Agung di Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, ditutup. Saat alat berat tiba dan pembongkaran dilangsungkan, lalu lintas di jalan setempat sempat tersendat.

Dua alat berat diturunkan langsung oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Sumber Daya Air (DPUSDA) Provinsi Jawa Timur. Selama proses pembongkaran, tidak boleh ada orang yang mendekat demi keamanan. Saat proses berlangsung, sejumlah warga pun menonton jatuhnya puing-puing bangunan yang berdiri di atas jembatan tersebut.

Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Jember Tita Fajar Ariyatiningsih menyampaikan, ketujuh ruko yang sempat digunakan lapak jualan oleh warga itu berdiri tepat di atas Kali Jompo yang merupakan kewenangan Pemprov Jatim. Sementara, lokasi itu juga dilintasi jalan nasional yang merupakan kewenangan pemerintah pusat. Sedangkan bangunnya diakui menjadi salah satu aset milik Pemkab Jember. “Tujuh ruko Jompo yang dibongkar itu masih tercatat aset daerah,” katanya.

Kendati menjadi aset daerah, tujuh ruko yang dibangun pada sekitar medio tahun 1987 silam itu selama beroperasi hingga dibongkar kemarin diduga menunggak pembayaran retribusinya. Bahkan nihil. Pihak kedua yang memanfaatkan aset daerah seharusnya ada sistem kerja sama bagi hasil, atau jika memberlakukan sewa, ada kewajiban pembayaran sewa atau semacam retribusi.

JEMBER KIDUL, Radar Jember – Rumah toko (ruko) di atas Jembatan Jompo, Jalan Sultan Agung, Jember, terus dibongkar. Bila sebelumnya dilakukan secara manual, kini prosesnya menggunakan dua alat berat. Di sisi lain, di balik pembongkaran tujuh ruko itu rupanya ada sederet riwayat yang cukup mencengangkan.

BACA JUGA : Ini Kronologi Hilangnya Pemancing di Pantai Payangan Jember

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, proses pembongkaran dilakukan dengan hati-hati. Hal itu untuk mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Selain itu, separuh ruas Jalan Sultan Agung di Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, ditutup. Saat alat berat tiba dan pembongkaran dilangsungkan, lalu lintas di jalan setempat sempat tersendat.

Dua alat berat diturunkan langsung oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Sumber Daya Air (DPUSDA) Provinsi Jawa Timur. Selama proses pembongkaran, tidak boleh ada orang yang mendekat demi keamanan. Saat proses berlangsung, sejumlah warga pun menonton jatuhnya puing-puing bangunan yang berdiri di atas jembatan tersebut.

Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Jember Tita Fajar Ariyatiningsih menyampaikan, ketujuh ruko yang sempat digunakan lapak jualan oleh warga itu berdiri tepat di atas Kali Jompo yang merupakan kewenangan Pemprov Jatim. Sementara, lokasi itu juga dilintasi jalan nasional yang merupakan kewenangan pemerintah pusat. Sedangkan bangunnya diakui menjadi salah satu aset milik Pemkab Jember. “Tujuh ruko Jompo yang dibongkar itu masih tercatat aset daerah,” katanya.

Kendati menjadi aset daerah, tujuh ruko yang dibangun pada sekitar medio tahun 1987 silam itu selama beroperasi hingga dibongkar kemarin diduga menunggak pembayaran retribusinya. Bahkan nihil. Pihak kedua yang memanfaatkan aset daerah seharusnya ada sistem kerja sama bagi hasil, atau jika memberlakukan sewa, ada kewajiban pembayaran sewa atau semacam retribusi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

Masih Ada Penolakan BIAN

Siap-Siap Sampah Berserakan

/