alexametrics
27.9 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Butuh Langkah Extra Ordinary

Kasus peredaran narkoba dan obat keras berbahaya (okerbaya) di Jember kian mengkhawatirkan. Catatan kepolisian, dari berbagai jenis kasus yang terungkap, ada kecenderungan terjadi peningkatan. Bahkan, peredarannya juga menyebar hingga ke pelosok desa. Bagaimana memutus mata rantai peredaran itu?

Mobile_AP_Rectangle 1

Dia juga tak dapat penanganan atau rehabilitasi karena keluarga tak punya cukup uang. Jadi, dia mengaku dibiarkan berkeliaran di jalanan. Hingga sebulan kemudian, tiba-tiba kondisinya drop. Dia ditemukan tergeletak di jalanan setelah seharian dicari keluarganya. “Kata ibu, meski berkeliling, biasanya bakda Magrib pulang. Waktu itu, ndak pulang-pulang,” ceritanya.

Mat Nasek memaparkan, seolah mendapatkan mukjizat. Setelah peristiwa itu, dia bangun dalam keadaan sadar dan kembali seperti sedia kala. Namun, dia mengaku badannya sakit semua seperti dikeroyok banyak orang. “Titik balik. Setelah itu, saya benar-benar berhenti dan ndak pernah mengonsumsi obat-obatan terlarang itu lagi. Termasuk ganja,” jelasnya.

Dirinya lantas mewanti-wanti bagi para pengguna lainnya agar segera berhenti. Sebab, yang dia rasakan selama menjadi pemakai justru merugikan sendiri. Kalaupun bermanfaat, hanya sebagai media penghilang penat sesaat. Namun, saat ditanya terkait dengan peredaran sabu, dia mengaku saat itu masih belum pernah ketemu. “Soalnya mahal, ndak tahu kalau sekarang,” pungkasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Terpisah, Bagong (juga nama samaran) menuturkan, kebutuhan orang dalam menggunakan obat-obatan terlarang itu bermacam-macam. Kalau pemula, biasanya hanya coba-coba. Tahap selanjutnya, sebagai media mencari kesenangan. “Terakhir, biasanya dipakai sebagai doping,” ungkap pria yang menjadi pemakai sejak 2014 hingga sekarang ini.

Bahkan, pengguna sabu tersebut mengaku, tubuhnya kerap terasa sakit semua jika sampai telat mengonsumsi. Ini karena dia sudah pada fase kecanduan. “Soalnya kalau telat, sangat mengganggu pekerjaan,” ujarnya.

Di mana dia mendapat barang tersebut? Dia tidak mengakuinya secara langsung. Namun, sepengetahuannya, pola peredaran sabu sangat rapi. Berbeda dengan okerbaya. Kata dia, ada tiga jenjang dalam perdagangan barang itu. Mulai dari pengedar besar, menengah, dan kecil. Dari pengedar besar, selanjutnya dipecah ke kelas menengah, lalu diedarkan skala kecil oleh para pengecer. Pengecer inilah yang bersinggungan langsung dengan konsumennya. “Dan jaringannya sangat kuat,” ucapnya.

Namun, dia menyarankan bagi siapa pun yang baru memulai mengonsumsi hal-hal yang berkaitan dengan narkoba agar segera berhenti sekarang juga. Sebab, jika sudah pada tahap kecanduan, sulit untuk melepaskan diri dan butuh rehabilitasi. “Jangan mau bodoh mendadak. Berhenti sekarang mumpung belum telat,” sarannya.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Grafis reza
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Dia juga tak dapat penanganan atau rehabilitasi karena keluarga tak punya cukup uang. Jadi, dia mengaku dibiarkan berkeliaran di jalanan. Hingga sebulan kemudian, tiba-tiba kondisinya drop. Dia ditemukan tergeletak di jalanan setelah seharian dicari keluarganya. “Kata ibu, meski berkeliling, biasanya bakda Magrib pulang. Waktu itu, ndak pulang-pulang,” ceritanya.

Mat Nasek memaparkan, seolah mendapatkan mukjizat. Setelah peristiwa itu, dia bangun dalam keadaan sadar dan kembali seperti sedia kala. Namun, dia mengaku badannya sakit semua seperti dikeroyok banyak orang. “Titik balik. Setelah itu, saya benar-benar berhenti dan ndak pernah mengonsumsi obat-obatan terlarang itu lagi. Termasuk ganja,” jelasnya.

Dirinya lantas mewanti-wanti bagi para pengguna lainnya agar segera berhenti. Sebab, yang dia rasakan selama menjadi pemakai justru merugikan sendiri. Kalaupun bermanfaat, hanya sebagai media penghilang penat sesaat. Namun, saat ditanya terkait dengan peredaran sabu, dia mengaku saat itu masih belum pernah ketemu. “Soalnya mahal, ndak tahu kalau sekarang,” pungkasnya.

Terpisah, Bagong (juga nama samaran) menuturkan, kebutuhan orang dalam menggunakan obat-obatan terlarang itu bermacam-macam. Kalau pemula, biasanya hanya coba-coba. Tahap selanjutnya, sebagai media mencari kesenangan. “Terakhir, biasanya dipakai sebagai doping,” ungkap pria yang menjadi pemakai sejak 2014 hingga sekarang ini.

Bahkan, pengguna sabu tersebut mengaku, tubuhnya kerap terasa sakit semua jika sampai telat mengonsumsi. Ini karena dia sudah pada fase kecanduan. “Soalnya kalau telat, sangat mengganggu pekerjaan,” ujarnya.

Di mana dia mendapat barang tersebut? Dia tidak mengakuinya secara langsung. Namun, sepengetahuannya, pola peredaran sabu sangat rapi. Berbeda dengan okerbaya. Kata dia, ada tiga jenjang dalam perdagangan barang itu. Mulai dari pengedar besar, menengah, dan kecil. Dari pengedar besar, selanjutnya dipecah ke kelas menengah, lalu diedarkan skala kecil oleh para pengecer. Pengecer inilah yang bersinggungan langsung dengan konsumennya. “Dan jaringannya sangat kuat,” ucapnya.

Namun, dia menyarankan bagi siapa pun yang baru memulai mengonsumsi hal-hal yang berkaitan dengan narkoba agar segera berhenti sekarang juga. Sebab, jika sudah pada tahap kecanduan, sulit untuk melepaskan diri dan butuh rehabilitasi. “Jangan mau bodoh mendadak. Berhenti sekarang mumpung belum telat,” sarannya.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Grafis reza
Redaktur : Mahrus Sholih

Dia juga tak dapat penanganan atau rehabilitasi karena keluarga tak punya cukup uang. Jadi, dia mengaku dibiarkan berkeliaran di jalanan. Hingga sebulan kemudian, tiba-tiba kondisinya drop. Dia ditemukan tergeletak di jalanan setelah seharian dicari keluarganya. “Kata ibu, meski berkeliling, biasanya bakda Magrib pulang. Waktu itu, ndak pulang-pulang,” ceritanya.

Mat Nasek memaparkan, seolah mendapatkan mukjizat. Setelah peristiwa itu, dia bangun dalam keadaan sadar dan kembali seperti sedia kala. Namun, dia mengaku badannya sakit semua seperti dikeroyok banyak orang. “Titik balik. Setelah itu, saya benar-benar berhenti dan ndak pernah mengonsumsi obat-obatan terlarang itu lagi. Termasuk ganja,” jelasnya.

Dirinya lantas mewanti-wanti bagi para pengguna lainnya agar segera berhenti. Sebab, yang dia rasakan selama menjadi pemakai justru merugikan sendiri. Kalaupun bermanfaat, hanya sebagai media penghilang penat sesaat. Namun, saat ditanya terkait dengan peredaran sabu, dia mengaku saat itu masih belum pernah ketemu. “Soalnya mahal, ndak tahu kalau sekarang,” pungkasnya.

Terpisah, Bagong (juga nama samaran) menuturkan, kebutuhan orang dalam menggunakan obat-obatan terlarang itu bermacam-macam. Kalau pemula, biasanya hanya coba-coba. Tahap selanjutnya, sebagai media mencari kesenangan. “Terakhir, biasanya dipakai sebagai doping,” ungkap pria yang menjadi pemakai sejak 2014 hingga sekarang ini.

Bahkan, pengguna sabu tersebut mengaku, tubuhnya kerap terasa sakit semua jika sampai telat mengonsumsi. Ini karena dia sudah pada fase kecanduan. “Soalnya kalau telat, sangat mengganggu pekerjaan,” ujarnya.

Di mana dia mendapat barang tersebut? Dia tidak mengakuinya secara langsung. Namun, sepengetahuannya, pola peredaran sabu sangat rapi. Berbeda dengan okerbaya. Kata dia, ada tiga jenjang dalam perdagangan barang itu. Mulai dari pengedar besar, menengah, dan kecil. Dari pengedar besar, selanjutnya dipecah ke kelas menengah, lalu diedarkan skala kecil oleh para pengecer. Pengecer inilah yang bersinggungan langsung dengan konsumennya. “Dan jaringannya sangat kuat,” ucapnya.

Namun, dia menyarankan bagi siapa pun yang baru memulai mengonsumsi hal-hal yang berkaitan dengan narkoba agar segera berhenti sekarang juga. Sebab, jika sudah pada tahap kecanduan, sulit untuk melepaskan diri dan butuh rehabilitasi. “Jangan mau bodoh mendadak. Berhenti sekarang mumpung belum telat,” sarannya.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Grafis reza
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

Lontarkan Ide Gelar Madiun Idol

Rima Melati Berpulang

Renang Target Medali Perak

/