alexametrics
28.7 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Butuh Langkah Extra Ordinary

Kasus peredaran narkoba dan obat keras berbahaya (okerbaya) di Jember kian mengkhawatirkan. Catatan kepolisian, dari berbagai jenis kasus yang terungkap, ada kecenderungan terjadi peningkatan. Bahkan, peredarannya juga menyebar hingga ke pelosok desa. Bagaimana memutus mata rantai peredaran itu?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suara Mat Nasek (bukan nama sebenarnya) agak serak ketika menjawab panggilan telepon Jawa Pos Radar Jember, kemarin (6/6). Dia cukup lama merespons panggilan itu karena mengaku baru saja selesai mandi. “Piye? Ada yang bisa dibantu?” katanya, disertai batuk-batuk kecil.

Warga di Kecamatan Ambulu ini merupakan salah seorang mantan pengguna narkotika, psikotropika, dan obat terlarang (narkoba). Dia cukup lama memakai zat terlarang itu. Setidaknya, mulai 2007 lalu saat masih duduk di bangku SMP. Hampir satu dekade, dia aktif menggunakannya. Baru sekitar 2016 lalu ia berhenti.

Mat Nasek mengaku, awalnya hanya mengonsumsi minuman keras (miras) saja. Namun, lama-lama lingkungan membawanya naik kasta. Mulai awal SMP pada 2006, dia sudah mengenal miras. Setahun berikutnya, dia mulai dikenalkan dengan obat-obatan terlarang. Di antaranya, dextromethorphan (kandungan obat batuk), artane (obat parkinson), dan inex atau ekstasi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bocah belasan tahun kok sudah bisa mendapatkan obat-obatan terlarang? Mat Nasek mengaku mendapatkan barang-barang itu dari teman-temannya sesama pemabuk. Juga tetangganya yang berjualan obat-obatan itu. “Tapi, ndak lama langsung dibekuk,” ujarnya.

Kata dia, tetangganya itu penjual kecil. Jadi, gampang ditangkap karena tak punya bekingan. Hal seperti ini, Mat Nasek mengungkapkan, sudah menjadi rahasia umum. Jika ingin berbisnis barang haram, harus ada bekingan. “Itu namanya permainan,” ungkapnya.

Menurut Mat Nasek, kenapa peredaran narkoba itu terus ada dan justru semakin subur belakangan ini? Karena ada bandar yang berani bayar. Biasanya para bandar ini tak hanya menyuap, tapi juga ‘menjual’ pengedar dan pengecer ke aparat. Mereka inilah yang disebutnya kerap dikorbankan. Terlebih, jika peredaran narkoba di suatu wilayah mendapat atensi. “Memangnya, aparat dapat infonya dari mana kalau bukan dari mereka,” ungkapnya.

Sebelum menyatakan taubat, Mat Nasek juga pernah mencicipi ganja. Seingatnya sekitar 2011 atau saat umurnya menginjak 17 tahun. Efek ganja diakuinya lebih keras jika dibandingkan dengan pil. Mengonsumsi obat, dia masih bisa mengontrol diri dengan takaran sesuai kebutuhan. Sementara jika menggunakan ganja, dia seperti dalam kondisi alam bawah sadar alias ngefly.

Ganja pun sama. Dia dapat dari pengedar yang lebih tinggi. Namun, dia sama sekali tak pernah tahu dari mana asal sayuran berbahaya tersebut. “Tidak tahu dan tidak mau tahu. Pokoknya, stok ada. Aman!” bebernya. Untungnya, selama kecanduan obat-obatan dan ganja itu, dia tak pernah tertangkap polisi, sehingga ada kesempatan bertaubat di luar jeruji besi.

Apa yang membuat pemuda berusia 26 tahun tersebut berhenti? Ceritanya, terjadi sekitar 2016 lalu. Kala itu, dia tak mendapat ganja. Akhirnya, mencampur obat-obatan di dalam kopi dengan irisan kecubung. “Yang pernah mengonsumsi kecubung pasti paham,” candanya.

Rupannya, hal itu membawa petaka. Setelah mengonsumsi kecubung, dirinya seperti koma. Tak bangun selama tiga hari. Bahkan, dia sampai stres setelah terbangun dari tidur panjangnya. “Stres. Pedhot wis. Sampai telanjang di jalanan seperti orang gila,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suara Mat Nasek (bukan nama sebenarnya) agak serak ketika menjawab panggilan telepon Jawa Pos Radar Jember, kemarin (6/6). Dia cukup lama merespons panggilan itu karena mengaku baru saja selesai mandi. “Piye? Ada yang bisa dibantu?” katanya, disertai batuk-batuk kecil.

Warga di Kecamatan Ambulu ini merupakan salah seorang mantan pengguna narkotika, psikotropika, dan obat terlarang (narkoba). Dia cukup lama memakai zat terlarang itu. Setidaknya, mulai 2007 lalu saat masih duduk di bangku SMP. Hampir satu dekade, dia aktif menggunakannya. Baru sekitar 2016 lalu ia berhenti.

Mat Nasek mengaku, awalnya hanya mengonsumsi minuman keras (miras) saja. Namun, lama-lama lingkungan membawanya naik kasta. Mulai awal SMP pada 2006, dia sudah mengenal miras. Setahun berikutnya, dia mulai dikenalkan dengan obat-obatan terlarang. Di antaranya, dextromethorphan (kandungan obat batuk), artane (obat parkinson), dan inex atau ekstasi.

Bocah belasan tahun kok sudah bisa mendapatkan obat-obatan terlarang? Mat Nasek mengaku mendapatkan barang-barang itu dari teman-temannya sesama pemabuk. Juga tetangganya yang berjualan obat-obatan itu. “Tapi, ndak lama langsung dibekuk,” ujarnya.

Kata dia, tetangganya itu penjual kecil. Jadi, gampang ditangkap karena tak punya bekingan. Hal seperti ini, Mat Nasek mengungkapkan, sudah menjadi rahasia umum. Jika ingin berbisnis barang haram, harus ada bekingan. “Itu namanya permainan,” ungkapnya.

Menurut Mat Nasek, kenapa peredaran narkoba itu terus ada dan justru semakin subur belakangan ini? Karena ada bandar yang berani bayar. Biasanya para bandar ini tak hanya menyuap, tapi juga ‘menjual’ pengedar dan pengecer ke aparat. Mereka inilah yang disebutnya kerap dikorbankan. Terlebih, jika peredaran narkoba di suatu wilayah mendapat atensi. “Memangnya, aparat dapat infonya dari mana kalau bukan dari mereka,” ungkapnya.

Sebelum menyatakan taubat, Mat Nasek juga pernah mencicipi ganja. Seingatnya sekitar 2011 atau saat umurnya menginjak 17 tahun. Efek ganja diakuinya lebih keras jika dibandingkan dengan pil. Mengonsumsi obat, dia masih bisa mengontrol diri dengan takaran sesuai kebutuhan. Sementara jika menggunakan ganja, dia seperti dalam kondisi alam bawah sadar alias ngefly.

Ganja pun sama. Dia dapat dari pengedar yang lebih tinggi. Namun, dia sama sekali tak pernah tahu dari mana asal sayuran berbahaya tersebut. “Tidak tahu dan tidak mau tahu. Pokoknya, stok ada. Aman!” bebernya. Untungnya, selama kecanduan obat-obatan dan ganja itu, dia tak pernah tertangkap polisi, sehingga ada kesempatan bertaubat di luar jeruji besi.

Apa yang membuat pemuda berusia 26 tahun tersebut berhenti? Ceritanya, terjadi sekitar 2016 lalu. Kala itu, dia tak mendapat ganja. Akhirnya, mencampur obat-obatan di dalam kopi dengan irisan kecubung. “Yang pernah mengonsumsi kecubung pasti paham,” candanya.

Rupannya, hal itu membawa petaka. Setelah mengonsumsi kecubung, dirinya seperti koma. Tak bangun selama tiga hari. Bahkan, dia sampai stres setelah terbangun dari tidur panjangnya. “Stres. Pedhot wis. Sampai telanjang di jalanan seperti orang gila,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suara Mat Nasek (bukan nama sebenarnya) agak serak ketika menjawab panggilan telepon Jawa Pos Radar Jember, kemarin (6/6). Dia cukup lama merespons panggilan itu karena mengaku baru saja selesai mandi. “Piye? Ada yang bisa dibantu?” katanya, disertai batuk-batuk kecil.

Warga di Kecamatan Ambulu ini merupakan salah seorang mantan pengguna narkotika, psikotropika, dan obat terlarang (narkoba). Dia cukup lama memakai zat terlarang itu. Setidaknya, mulai 2007 lalu saat masih duduk di bangku SMP. Hampir satu dekade, dia aktif menggunakannya. Baru sekitar 2016 lalu ia berhenti.

Mat Nasek mengaku, awalnya hanya mengonsumsi minuman keras (miras) saja. Namun, lama-lama lingkungan membawanya naik kasta. Mulai awal SMP pada 2006, dia sudah mengenal miras. Setahun berikutnya, dia mulai dikenalkan dengan obat-obatan terlarang. Di antaranya, dextromethorphan (kandungan obat batuk), artane (obat parkinson), dan inex atau ekstasi.

Bocah belasan tahun kok sudah bisa mendapatkan obat-obatan terlarang? Mat Nasek mengaku mendapatkan barang-barang itu dari teman-temannya sesama pemabuk. Juga tetangganya yang berjualan obat-obatan itu. “Tapi, ndak lama langsung dibekuk,” ujarnya.

Kata dia, tetangganya itu penjual kecil. Jadi, gampang ditangkap karena tak punya bekingan. Hal seperti ini, Mat Nasek mengungkapkan, sudah menjadi rahasia umum. Jika ingin berbisnis barang haram, harus ada bekingan. “Itu namanya permainan,” ungkapnya.

Menurut Mat Nasek, kenapa peredaran narkoba itu terus ada dan justru semakin subur belakangan ini? Karena ada bandar yang berani bayar. Biasanya para bandar ini tak hanya menyuap, tapi juga ‘menjual’ pengedar dan pengecer ke aparat. Mereka inilah yang disebutnya kerap dikorbankan. Terlebih, jika peredaran narkoba di suatu wilayah mendapat atensi. “Memangnya, aparat dapat infonya dari mana kalau bukan dari mereka,” ungkapnya.

Sebelum menyatakan taubat, Mat Nasek juga pernah mencicipi ganja. Seingatnya sekitar 2011 atau saat umurnya menginjak 17 tahun. Efek ganja diakuinya lebih keras jika dibandingkan dengan pil. Mengonsumsi obat, dia masih bisa mengontrol diri dengan takaran sesuai kebutuhan. Sementara jika menggunakan ganja, dia seperti dalam kondisi alam bawah sadar alias ngefly.

Ganja pun sama. Dia dapat dari pengedar yang lebih tinggi. Namun, dia sama sekali tak pernah tahu dari mana asal sayuran berbahaya tersebut. “Tidak tahu dan tidak mau tahu. Pokoknya, stok ada. Aman!” bebernya. Untungnya, selama kecanduan obat-obatan dan ganja itu, dia tak pernah tertangkap polisi, sehingga ada kesempatan bertaubat di luar jeruji besi.

Apa yang membuat pemuda berusia 26 tahun tersebut berhenti? Ceritanya, terjadi sekitar 2016 lalu. Kala itu, dia tak mendapat ganja. Akhirnya, mencampur obat-obatan di dalam kopi dengan irisan kecubung. “Yang pernah mengonsumsi kecubung pasti paham,” candanya.

Rupannya, hal itu membawa petaka. Setelah mengonsumsi kecubung, dirinya seperti koma. Tak bangun selama tiga hari. Bahkan, dia sampai stres setelah terbangun dari tidur panjangnya. “Stres. Pedhot wis. Sampai telanjang di jalanan seperti orang gila,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/