alexametrics
32 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Rumah Baca di Desa jadi Taman Baca yang Diminati

Mobile_AP_Rectangle 1

SERUT, RADARJEMBER.ID- Berawal dari sebuah keprihatinan melihat anak-anak sekolah dasar di kampungnya, berdirilah rumah baca Trinanda yang berada di Desa Serut, Kecamatan Panti. Di sana masih banyak yang kesulitan dalam belajar maupun mengerjakan tugas sekolah. Orang tua mereka yang notabene adalah petani membuat mereka tidak sempat membimbing anaknya. Hingga kemudian dengan niat ikhlas ingin mencerdaskan anak bangsa, bedirilah rumah baca tersebut.
Bermula dari kegiatan belajar bersama yang di inisiasi oleh Fransiska Nur Aulia, pendiri rumah baca Trinanda, permintaan dari anak-anak kampung di rumahnya untuk diajari membaca dan mengerjakan tugas sekolah. Dengan senang hati dia membantu dengan melakukan kegiatan belajar bersama yang dilaksanakan selepas Magrib. “Awalnya cuma 5 anak, tambah hari kok anak-anaknya tambah banyak,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember di rumahnya RT/RW/01/06 Desa Serut, Kecamatan Panti.
Selang beberapa waktu, di luar pukul belajar, anak-anak tersebut menanyakan buku-buku yang sempat mereka baca. Mereka mengaku belum pernah membaca buku yang bergambar. Mereka hanya membaca buku LKS yang didapat dari sekolahnya. “Yang membuat hati saya tersentuh, waktu mereka bilang, halah Mbak Mbak, tuku LKS saja orang tua sek jual beras. Apalagi beli buku bergambar kayak begini,” terangnya.
Dia mengaku, anak-anak SD di rumahnya banyak yang belum lancar membaca. Ada yang sudah kelas 4 dan 5 SD mereka masih belum lancar membaca. Selain itu, waktu sore hari mereka rata-rata tidak ada kegiatan. “Dari hal ini yang membuat saya juga ingin anak-anak di sini terarah dan menemukan bakat dan cita-citanya. Meskipun kita anak desa, pemikirannya harus ke depan, gak boleh pasrah,” jelasnya.
Kemudian, untuk buku-bukunya sendiri dia ambil dari buku pribadi dan buku adik-adiknya. Selain itu, dia juga membuka open donasi ke teman-teman kampusnya. Dari situ banyak dari mereka yang menyumbang. Seiring berjalannya waktu, dia juga membuat sosial media Facebook dan Instagram untuk taman bacanya. Akhirnya ada penerbit yang tertarik dan mau mendonasikan buku. “Yang sampai sekarang mendonasikan buku masih dari Gramedia,” terangnya.
Untuk kegiatan taman bacanya sendiri, dimulai dari pukul 16.00 sore sampai pukul 21.00 malam. Jika sama-sama libur dimulai dari pagi. “Kalo dulu kan tempatnya bukan di sini, Mas. Ada di rumah yang dulu. Di teras rumah. Jadi 24 jam terserah yang baca. Kecuali kalo mau minjem harus ada saya,” ungkapnya.
Hal yang berbeda dari taman baca lainnya adalah di taman tersebut tersedia beberapa program. Seperti Melek Aksara, belajar bersama, menggambar bersama, dan les-les khusus untuk menunjang kemampuan soft skill mereka. “Di sini juga ada relawannya. Jadi, ada yang nutori mereka. Terakhir kemarkin ada 20 relawan,” pungkasnya.
Selain itu, dia juga mengaku sering mendelegasikan peserta dari taman bacanya ke berbagai macam perlombaan. “Di sini pengunjungnya rata-rata masih usia sekolah, dan untuk buku bacaannya beragam. Ada sekitar 2.000 lebih buku untuk berbagai macam kalangan,” pungkasnya. (mg6/c2/nur)

- Advertisement -

SERUT, RADARJEMBER.ID- Berawal dari sebuah keprihatinan melihat anak-anak sekolah dasar di kampungnya, berdirilah rumah baca Trinanda yang berada di Desa Serut, Kecamatan Panti. Di sana masih banyak yang kesulitan dalam belajar maupun mengerjakan tugas sekolah. Orang tua mereka yang notabene adalah petani membuat mereka tidak sempat membimbing anaknya. Hingga kemudian dengan niat ikhlas ingin mencerdaskan anak bangsa, bedirilah rumah baca tersebut.
Bermula dari kegiatan belajar bersama yang di inisiasi oleh Fransiska Nur Aulia, pendiri rumah baca Trinanda, permintaan dari anak-anak kampung di rumahnya untuk diajari membaca dan mengerjakan tugas sekolah. Dengan senang hati dia membantu dengan melakukan kegiatan belajar bersama yang dilaksanakan selepas Magrib. “Awalnya cuma 5 anak, tambah hari kok anak-anaknya tambah banyak,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember di rumahnya RT/RW/01/06 Desa Serut, Kecamatan Panti.
Selang beberapa waktu, di luar pukul belajar, anak-anak tersebut menanyakan buku-buku yang sempat mereka baca. Mereka mengaku belum pernah membaca buku yang bergambar. Mereka hanya membaca buku LKS yang didapat dari sekolahnya. “Yang membuat hati saya tersentuh, waktu mereka bilang, halah Mbak Mbak, tuku LKS saja orang tua sek jual beras. Apalagi beli buku bergambar kayak begini,” terangnya.
Dia mengaku, anak-anak SD di rumahnya banyak yang belum lancar membaca. Ada yang sudah kelas 4 dan 5 SD mereka masih belum lancar membaca. Selain itu, waktu sore hari mereka rata-rata tidak ada kegiatan. “Dari hal ini yang membuat saya juga ingin anak-anak di sini terarah dan menemukan bakat dan cita-citanya. Meskipun kita anak desa, pemikirannya harus ke depan, gak boleh pasrah,” jelasnya.
Kemudian, untuk buku-bukunya sendiri dia ambil dari buku pribadi dan buku adik-adiknya. Selain itu, dia juga membuka open donasi ke teman-teman kampusnya. Dari situ banyak dari mereka yang menyumbang. Seiring berjalannya waktu, dia juga membuat sosial media Facebook dan Instagram untuk taman bacanya. Akhirnya ada penerbit yang tertarik dan mau mendonasikan buku. “Yang sampai sekarang mendonasikan buku masih dari Gramedia,” terangnya.
Untuk kegiatan taman bacanya sendiri, dimulai dari pukul 16.00 sore sampai pukul 21.00 malam. Jika sama-sama libur dimulai dari pagi. “Kalo dulu kan tempatnya bukan di sini, Mas. Ada di rumah yang dulu. Di teras rumah. Jadi 24 jam terserah yang baca. Kecuali kalo mau minjem harus ada saya,” ungkapnya.
Hal yang berbeda dari taman baca lainnya adalah di taman tersebut tersedia beberapa program. Seperti Melek Aksara, belajar bersama, menggambar bersama, dan les-les khusus untuk menunjang kemampuan soft skill mereka. “Di sini juga ada relawannya. Jadi, ada yang nutori mereka. Terakhir kemarkin ada 20 relawan,” pungkasnya.
Selain itu, dia juga mengaku sering mendelegasikan peserta dari taman bacanya ke berbagai macam perlombaan. “Di sini pengunjungnya rata-rata masih usia sekolah, dan untuk buku bacaannya beragam. Ada sekitar 2.000 lebih buku untuk berbagai macam kalangan,” pungkasnya. (mg6/c2/nur)

SERUT, RADARJEMBER.ID- Berawal dari sebuah keprihatinan melihat anak-anak sekolah dasar di kampungnya, berdirilah rumah baca Trinanda yang berada di Desa Serut, Kecamatan Panti. Di sana masih banyak yang kesulitan dalam belajar maupun mengerjakan tugas sekolah. Orang tua mereka yang notabene adalah petani membuat mereka tidak sempat membimbing anaknya. Hingga kemudian dengan niat ikhlas ingin mencerdaskan anak bangsa, bedirilah rumah baca tersebut.
Bermula dari kegiatan belajar bersama yang di inisiasi oleh Fransiska Nur Aulia, pendiri rumah baca Trinanda, permintaan dari anak-anak kampung di rumahnya untuk diajari membaca dan mengerjakan tugas sekolah. Dengan senang hati dia membantu dengan melakukan kegiatan belajar bersama yang dilaksanakan selepas Magrib. “Awalnya cuma 5 anak, tambah hari kok anak-anaknya tambah banyak,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember di rumahnya RT/RW/01/06 Desa Serut, Kecamatan Panti.
Selang beberapa waktu, di luar pukul belajar, anak-anak tersebut menanyakan buku-buku yang sempat mereka baca. Mereka mengaku belum pernah membaca buku yang bergambar. Mereka hanya membaca buku LKS yang didapat dari sekolahnya. “Yang membuat hati saya tersentuh, waktu mereka bilang, halah Mbak Mbak, tuku LKS saja orang tua sek jual beras. Apalagi beli buku bergambar kayak begini,” terangnya.
Dia mengaku, anak-anak SD di rumahnya banyak yang belum lancar membaca. Ada yang sudah kelas 4 dan 5 SD mereka masih belum lancar membaca. Selain itu, waktu sore hari mereka rata-rata tidak ada kegiatan. “Dari hal ini yang membuat saya juga ingin anak-anak di sini terarah dan menemukan bakat dan cita-citanya. Meskipun kita anak desa, pemikirannya harus ke depan, gak boleh pasrah,” jelasnya.
Kemudian, untuk buku-bukunya sendiri dia ambil dari buku pribadi dan buku adik-adiknya. Selain itu, dia juga membuka open donasi ke teman-teman kampusnya. Dari situ banyak dari mereka yang menyumbang. Seiring berjalannya waktu, dia juga membuat sosial media Facebook dan Instagram untuk taman bacanya. Akhirnya ada penerbit yang tertarik dan mau mendonasikan buku. “Yang sampai sekarang mendonasikan buku masih dari Gramedia,” terangnya.
Untuk kegiatan taman bacanya sendiri, dimulai dari pukul 16.00 sore sampai pukul 21.00 malam. Jika sama-sama libur dimulai dari pagi. “Kalo dulu kan tempatnya bukan di sini, Mas. Ada di rumah yang dulu. Di teras rumah. Jadi 24 jam terserah yang baca. Kecuali kalo mau minjem harus ada saya,” ungkapnya.
Hal yang berbeda dari taman baca lainnya adalah di taman tersebut tersedia beberapa program. Seperti Melek Aksara, belajar bersama, menggambar bersama, dan les-les khusus untuk menunjang kemampuan soft skill mereka. “Di sini juga ada relawannya. Jadi, ada yang nutori mereka. Terakhir kemarkin ada 20 relawan,” pungkasnya.
Selain itu, dia juga mengaku sering mendelegasikan peserta dari taman bacanya ke berbagai macam perlombaan. “Di sini pengunjungnya rata-rata masih usia sekolah, dan untuk buku bacaannya beragam. Ada sekitar 2.000 lebih buku untuk berbagai macam kalangan,” pungkasnya. (mg6/c2/nur)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/