alexametrics
23 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Bekal Buku Khotbah Jumat Islam Wasathiyah Untuk Mahasiswa KKN

Mobile_AP_Rectangle 1

MANGLI, RADARJEMBER.ID – Indonesia merupakan bangsa yang majemuk. Di dalamnya terdiri atas beragam suku, budaya, ras, dan agama. Sudah sepatutnya generasi penerus bangsa memahami arti kebinekaan yang sesungguhnya melalui ajaran agama yang wasathiyah dan menjunjung tinggi keberagaman dan toleransi.
Melalui tridarma perguruan tinggi, kampus berkewajiban memberikan pendidikan yang layak, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat dengan bekal dan dasar-dasar pokok yang perlu diimplementasikan dan dibawa ke masyarakat.
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Ahmad Siddiq Jember Zainal Abidin mengatakan, dalam rangka menjamin kesiapan dan misi semangat Islam wasathiyah atau moderasi beragama, pihaknya melakukan penyusunan buku khotbah moderasi beragama untuk mahasiswa yang melakukan kuliah kerja nyata (KKN) bulan Juni mendatang. “Ini penting dilakukan untuk memberi bekal kepada mahasiswa yang hendak KKN, dalam rangka menyalurkan nilai keberagaman dan toleransi di tengah-tengah masyarakat,” terang Zainal kepada Jawa Pos Radar Jember.
Sementara itu, Kepala Pusat Moderasi Beragama Ahmad Badrus Sholihin mengatakan, wacana moderasi beragama selama ini masih dinilai elite. Hanya di lingkungan kampus dan kantor pemerintah saja. Sehingga dari hal tersebut pihaknya ingin melakukan sentuhan langsung kepada masyarakat melalui penyusunan buku khotbah moderasi beragama tersebut. “Sehingga nilai-nilai moderasi agama tersebut menyentuh langsung ke akar rumput atau ke grassroots,” terangnya.
Dirinya mengakui bahwa praktik Islam yang ada di masyarakat saat ini sudah mencerminkan Islam wasathiyah atau ahlusunnah wal jamaah. Akan tetapi, untuk membentengi akidah masyarakat dari gerakan intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme, bahkan terorisme. “Karena golongan Islam garis keras sampai saat ini masih melakukan penetrasi atau masuk ke kalangan masyarakat bawah,” paparnya.
Dia berharap, dengan hadirnya buku khotbah tersebut, paling tidak masyarakat mengenal nilai moderasi beragama itu. Dengan itu juga akan diusahakan buku khotbah tersebut menggunakan bahasa yang sesederhana mungkin dan mudah dipahami oleh masyarakat luas. Yang kedua untuk memberikan bekal kepada mahasiswa. Dalam hal ini mahasiswa yang akan menjalani pengabdian melalui KKN. “Dengan bekal buku khotbah ini, mahasiswa KKN itu tidak gagap ketika oleh masyarakat diminta untuk memimpin khotbah dan menjadi imam salat,” jelasnya.
Lewat jalur KKN ini pula, diharapkan pembumian moderasi beragama di kalangan akar rumput itu tercapai lewat agen mahasiswa KKN yang tersebar di beberapa daerah seperti Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Lumajang. Juga beberapa daerah di liur Pulau Jawa seperti Kalimantan, Papua, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara. “Sehingga buku ini menjadi sumbangsih dalam membumikan Islam washtiyah atau moderasi beragama,” pungkasnya. (mg6/c2/nur)

- Advertisement -

MANGLI, RADARJEMBER.ID – Indonesia merupakan bangsa yang majemuk. Di dalamnya terdiri atas beragam suku, budaya, ras, dan agama. Sudah sepatutnya generasi penerus bangsa memahami arti kebinekaan yang sesungguhnya melalui ajaran agama yang wasathiyah dan menjunjung tinggi keberagaman dan toleransi.
Melalui tridarma perguruan tinggi, kampus berkewajiban memberikan pendidikan yang layak, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat dengan bekal dan dasar-dasar pokok yang perlu diimplementasikan dan dibawa ke masyarakat.
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Ahmad Siddiq Jember Zainal Abidin mengatakan, dalam rangka menjamin kesiapan dan misi semangat Islam wasathiyah atau moderasi beragama, pihaknya melakukan penyusunan buku khotbah moderasi beragama untuk mahasiswa yang melakukan kuliah kerja nyata (KKN) bulan Juni mendatang. “Ini penting dilakukan untuk memberi bekal kepada mahasiswa yang hendak KKN, dalam rangka menyalurkan nilai keberagaman dan toleransi di tengah-tengah masyarakat,” terang Zainal kepada Jawa Pos Radar Jember.
Sementara itu, Kepala Pusat Moderasi Beragama Ahmad Badrus Sholihin mengatakan, wacana moderasi beragama selama ini masih dinilai elite. Hanya di lingkungan kampus dan kantor pemerintah saja. Sehingga dari hal tersebut pihaknya ingin melakukan sentuhan langsung kepada masyarakat melalui penyusunan buku khotbah moderasi beragama tersebut. “Sehingga nilai-nilai moderasi agama tersebut menyentuh langsung ke akar rumput atau ke grassroots,” terangnya.
Dirinya mengakui bahwa praktik Islam yang ada di masyarakat saat ini sudah mencerminkan Islam wasathiyah atau ahlusunnah wal jamaah. Akan tetapi, untuk membentengi akidah masyarakat dari gerakan intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme, bahkan terorisme. “Karena golongan Islam garis keras sampai saat ini masih melakukan penetrasi atau masuk ke kalangan masyarakat bawah,” paparnya.
Dia berharap, dengan hadirnya buku khotbah tersebut, paling tidak masyarakat mengenal nilai moderasi beragama itu. Dengan itu juga akan diusahakan buku khotbah tersebut menggunakan bahasa yang sesederhana mungkin dan mudah dipahami oleh masyarakat luas. Yang kedua untuk memberikan bekal kepada mahasiswa. Dalam hal ini mahasiswa yang akan menjalani pengabdian melalui KKN. “Dengan bekal buku khotbah ini, mahasiswa KKN itu tidak gagap ketika oleh masyarakat diminta untuk memimpin khotbah dan menjadi imam salat,” jelasnya.
Lewat jalur KKN ini pula, diharapkan pembumian moderasi beragama di kalangan akar rumput itu tercapai lewat agen mahasiswa KKN yang tersebar di beberapa daerah seperti Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Lumajang. Juga beberapa daerah di liur Pulau Jawa seperti Kalimantan, Papua, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara. “Sehingga buku ini menjadi sumbangsih dalam membumikan Islam washtiyah atau moderasi beragama,” pungkasnya. (mg6/c2/nur)

MANGLI, RADARJEMBER.ID – Indonesia merupakan bangsa yang majemuk. Di dalamnya terdiri atas beragam suku, budaya, ras, dan agama. Sudah sepatutnya generasi penerus bangsa memahami arti kebinekaan yang sesungguhnya melalui ajaran agama yang wasathiyah dan menjunjung tinggi keberagaman dan toleransi.
Melalui tridarma perguruan tinggi, kampus berkewajiban memberikan pendidikan yang layak, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat dengan bekal dan dasar-dasar pokok yang perlu diimplementasikan dan dibawa ke masyarakat.
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Ahmad Siddiq Jember Zainal Abidin mengatakan, dalam rangka menjamin kesiapan dan misi semangat Islam wasathiyah atau moderasi beragama, pihaknya melakukan penyusunan buku khotbah moderasi beragama untuk mahasiswa yang melakukan kuliah kerja nyata (KKN) bulan Juni mendatang. “Ini penting dilakukan untuk memberi bekal kepada mahasiswa yang hendak KKN, dalam rangka menyalurkan nilai keberagaman dan toleransi di tengah-tengah masyarakat,” terang Zainal kepada Jawa Pos Radar Jember.
Sementara itu, Kepala Pusat Moderasi Beragama Ahmad Badrus Sholihin mengatakan, wacana moderasi beragama selama ini masih dinilai elite. Hanya di lingkungan kampus dan kantor pemerintah saja. Sehingga dari hal tersebut pihaknya ingin melakukan sentuhan langsung kepada masyarakat melalui penyusunan buku khotbah moderasi beragama tersebut. “Sehingga nilai-nilai moderasi agama tersebut menyentuh langsung ke akar rumput atau ke grassroots,” terangnya.
Dirinya mengakui bahwa praktik Islam yang ada di masyarakat saat ini sudah mencerminkan Islam wasathiyah atau ahlusunnah wal jamaah. Akan tetapi, untuk membentengi akidah masyarakat dari gerakan intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme, bahkan terorisme. “Karena golongan Islam garis keras sampai saat ini masih melakukan penetrasi atau masuk ke kalangan masyarakat bawah,” paparnya.
Dia berharap, dengan hadirnya buku khotbah tersebut, paling tidak masyarakat mengenal nilai moderasi beragama itu. Dengan itu juga akan diusahakan buku khotbah tersebut menggunakan bahasa yang sesederhana mungkin dan mudah dipahami oleh masyarakat luas. Yang kedua untuk memberikan bekal kepada mahasiswa. Dalam hal ini mahasiswa yang akan menjalani pengabdian melalui KKN. “Dengan bekal buku khotbah ini, mahasiswa KKN itu tidak gagap ketika oleh masyarakat diminta untuk memimpin khotbah dan menjadi imam salat,” jelasnya.
Lewat jalur KKN ini pula, diharapkan pembumian moderasi beragama di kalangan akar rumput itu tercapai lewat agen mahasiswa KKN yang tersebar di beberapa daerah seperti Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Lumajang. Juga beberapa daerah di liur Pulau Jawa seperti Kalimantan, Papua, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara. “Sehingga buku ini menjadi sumbangsih dalam membumikan Islam washtiyah atau moderasi beragama,” pungkasnya. (mg6/c2/nur)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/