alexametrics
25 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Jompo Baru Siap Dibuka Besok

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jompo, demikian orang mengenalnya. Sebuah lokasi yang menyimpan sejuta kenangan. Besok pagi, kurang dari sepekan menjelang Lebaran, di kala matahari terbit, Jompo akan tampil dengan wajah barunya. Separuh dari deretan pertokoan yang ambruk, kini telah berubah dengan pagar beton warna hitam dan kuning.

Cat warna hitam seperti menandakan kisah kelam. Musibah tentang bencana yang sejatinya terjadi lantaran bangunan diprediksi akan ambruk, tetapi tidak segera dieksekusi. Pun demikian, warna kuning sepertinya memberi isyarat agar semua orang berhati-hati. Tapi apalah, pengecatan warna di pagar beton Jompo tidak berkaitan dengan kisah masa lalunya.

Hal terpenting, Jompo telah tampil dengan wajahnya yang baru. Jalan Sultan Agung sudah kembali sesuai fungsinya. Sungai Kali Jompo juga demikian, telah kembali sesuai fungsinya tanpa terganggu oleh tiang-tiang pertokoan yang telah ambruk. Jembatan yang ikut runtuh pun telah dibangun lagi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menyikapi kembalinya fungsi jalan nasional, sungai yang masuk kewenangan provinsi, dan raibnya pertokoan yang dulu dikelola kabupaten mendapat apresiasi banyak pihak. “Apa yang telah terjadi di Jompo sebentar lagi akan kembali pada fungsinya yang benar,” kata Ketua Komisi C DPRD Jember David Handoko Seto.

Menurut dia, dengan selesainya pembangunan lereng Jalan Sultan Agung, ada pelajaran yang sangat besar. Di mana, pembangunan di atas sungai atau di pinggirnya pasti memiliki ancaman serius. “Ke depan, jangan sampai ada lagi pembangunan yang masuk ke sungai. Jompo memberi pelajaran kepada kita semua,” ucapnya.

Musibah ambruknya Jompo juga memberi pelajaran bahwa ke depan pemerintah daerah tidak boleh menunggu dan menunggu apabila ada tanda-tanda bencana akan datang. “Prediksi ambruknya pertokoan Jompo sudah sejak lama. Bahkan, DPRD telah meminta setahun sebelum musibah terjadi agar bangunan dibongkar. Tetapi pemerintah saat itu tidak tanggap,” cetusnya.

Untuk itu, apabila ke depan ada tanda-tanda bangunan akan roboh atau tanda-tanda bencana, Pemkab Jember diharapkan lebih tanggap dan tidak menunggu sampai ambruk seperti kasus belasan pertokoan Jompo. “Jangan menunggu bencana datang. Kalau tanda-tanda sudah ada, segera dilakukan langkah-langkah yang berani,” cetusnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jompo, demikian orang mengenalnya. Sebuah lokasi yang menyimpan sejuta kenangan. Besok pagi, kurang dari sepekan menjelang Lebaran, di kala matahari terbit, Jompo akan tampil dengan wajah barunya. Separuh dari deretan pertokoan yang ambruk, kini telah berubah dengan pagar beton warna hitam dan kuning.

Cat warna hitam seperti menandakan kisah kelam. Musibah tentang bencana yang sejatinya terjadi lantaran bangunan diprediksi akan ambruk, tetapi tidak segera dieksekusi. Pun demikian, warna kuning sepertinya memberi isyarat agar semua orang berhati-hati. Tapi apalah, pengecatan warna di pagar beton Jompo tidak berkaitan dengan kisah masa lalunya.

Hal terpenting, Jompo telah tampil dengan wajahnya yang baru. Jalan Sultan Agung sudah kembali sesuai fungsinya. Sungai Kali Jompo juga demikian, telah kembali sesuai fungsinya tanpa terganggu oleh tiang-tiang pertokoan yang telah ambruk. Jembatan yang ikut runtuh pun telah dibangun lagi.

Menyikapi kembalinya fungsi jalan nasional, sungai yang masuk kewenangan provinsi, dan raibnya pertokoan yang dulu dikelola kabupaten mendapat apresiasi banyak pihak. “Apa yang telah terjadi di Jompo sebentar lagi akan kembali pada fungsinya yang benar,” kata Ketua Komisi C DPRD Jember David Handoko Seto.

Menurut dia, dengan selesainya pembangunan lereng Jalan Sultan Agung, ada pelajaran yang sangat besar. Di mana, pembangunan di atas sungai atau di pinggirnya pasti memiliki ancaman serius. “Ke depan, jangan sampai ada lagi pembangunan yang masuk ke sungai. Jompo memberi pelajaran kepada kita semua,” ucapnya.

Musibah ambruknya Jompo juga memberi pelajaran bahwa ke depan pemerintah daerah tidak boleh menunggu dan menunggu apabila ada tanda-tanda bencana akan datang. “Prediksi ambruknya pertokoan Jompo sudah sejak lama. Bahkan, DPRD telah meminta setahun sebelum musibah terjadi agar bangunan dibongkar. Tetapi pemerintah saat itu tidak tanggap,” cetusnya.

Untuk itu, apabila ke depan ada tanda-tanda bangunan akan roboh atau tanda-tanda bencana, Pemkab Jember diharapkan lebih tanggap dan tidak menunggu sampai ambruk seperti kasus belasan pertokoan Jompo. “Jangan menunggu bencana datang. Kalau tanda-tanda sudah ada, segera dilakukan langkah-langkah yang berani,” cetusnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jompo, demikian orang mengenalnya. Sebuah lokasi yang menyimpan sejuta kenangan. Besok pagi, kurang dari sepekan menjelang Lebaran, di kala matahari terbit, Jompo akan tampil dengan wajah barunya. Separuh dari deretan pertokoan yang ambruk, kini telah berubah dengan pagar beton warna hitam dan kuning.

Cat warna hitam seperti menandakan kisah kelam. Musibah tentang bencana yang sejatinya terjadi lantaran bangunan diprediksi akan ambruk, tetapi tidak segera dieksekusi. Pun demikian, warna kuning sepertinya memberi isyarat agar semua orang berhati-hati. Tapi apalah, pengecatan warna di pagar beton Jompo tidak berkaitan dengan kisah masa lalunya.

Hal terpenting, Jompo telah tampil dengan wajahnya yang baru. Jalan Sultan Agung sudah kembali sesuai fungsinya. Sungai Kali Jompo juga demikian, telah kembali sesuai fungsinya tanpa terganggu oleh tiang-tiang pertokoan yang telah ambruk. Jembatan yang ikut runtuh pun telah dibangun lagi.

Menyikapi kembalinya fungsi jalan nasional, sungai yang masuk kewenangan provinsi, dan raibnya pertokoan yang dulu dikelola kabupaten mendapat apresiasi banyak pihak. “Apa yang telah terjadi di Jompo sebentar lagi akan kembali pada fungsinya yang benar,” kata Ketua Komisi C DPRD Jember David Handoko Seto.

Menurut dia, dengan selesainya pembangunan lereng Jalan Sultan Agung, ada pelajaran yang sangat besar. Di mana, pembangunan di atas sungai atau di pinggirnya pasti memiliki ancaman serius. “Ke depan, jangan sampai ada lagi pembangunan yang masuk ke sungai. Jompo memberi pelajaran kepada kita semua,” ucapnya.

Musibah ambruknya Jompo juga memberi pelajaran bahwa ke depan pemerintah daerah tidak boleh menunggu dan menunggu apabila ada tanda-tanda bencana akan datang. “Prediksi ambruknya pertokoan Jompo sudah sejak lama. Bahkan, DPRD telah meminta setahun sebelum musibah terjadi agar bangunan dibongkar. Tetapi pemerintah saat itu tidak tanggap,” cetusnya.

Untuk itu, apabila ke depan ada tanda-tanda bangunan akan roboh atau tanda-tanda bencana, Pemkab Jember diharapkan lebih tanggap dan tidak menunggu sampai ambruk seperti kasus belasan pertokoan Jompo. “Jangan menunggu bencana datang. Kalau tanda-tanda sudah ada, segera dilakukan langkah-langkah yang berani,” cetusnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/