alexametrics
23.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Nelayan Puger Butuh Sosialisasi

Terkait Langkah Keselamatan Melaut

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tragedi jukung atau perahu terbalik karena hempasan ombak Pantai Puger seakan sudah dianggap biasa. Padahal, kecelakaan laut seperti itu tak jarang merenggut korban. Bahkan yang terakhir jasad Mat Yasin, anak buah kapal (ABK) asal Kabupaten Malang yang hilang dihempaskan ombak Plawangan pada Maret lalu, belum ditemukan sampai hari ini.

Tragedi memilukan itu sebenarnya sudah lama menjadi perhatian sejumlah tokoh masyarakat dan tetua nelayan di Puger. Mereka menilai, perlu ada semacam gerakan bersama, kesadaran masyarakat, utamanya nelayan, bahwa keselamatan saat melaut itu penting.

Ketua Forum Komunikasi Nelayan Puger (FKNP) Hanafi membeberkan, selama ini upaya dukungan dari pemerintah untuk membuatkan perangkat keselamatan itu sebenarnya sudah ada. Namun masih setengah hati.

Mobile_AP_Rectangle 2

Contohnya dalam bentuk pembangunan pemecah ombak atau breakwater dan program bantuan pelampung untuk nelayan. “Manfaat breakwater sudah terlihat, tapi cara kerjanya belum begitu efektif. Pelampung juga kurang standar,” ujarnya.

Menurut dia, tak heran jika nelayan banyak yang enggan mengenakan pelampung atau membawa pelampung ke dek perahu atau jukung mereka. “Perlu ada peran pemerintah. Minimal, sosialisasi keselamatan nelayan ini terus digencarkan,” harapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tragedi jukung atau perahu terbalik karena hempasan ombak Pantai Puger seakan sudah dianggap biasa. Padahal, kecelakaan laut seperti itu tak jarang merenggut korban. Bahkan yang terakhir jasad Mat Yasin, anak buah kapal (ABK) asal Kabupaten Malang yang hilang dihempaskan ombak Plawangan pada Maret lalu, belum ditemukan sampai hari ini.

Tragedi memilukan itu sebenarnya sudah lama menjadi perhatian sejumlah tokoh masyarakat dan tetua nelayan di Puger. Mereka menilai, perlu ada semacam gerakan bersama, kesadaran masyarakat, utamanya nelayan, bahwa keselamatan saat melaut itu penting.

Ketua Forum Komunikasi Nelayan Puger (FKNP) Hanafi membeberkan, selama ini upaya dukungan dari pemerintah untuk membuatkan perangkat keselamatan itu sebenarnya sudah ada. Namun masih setengah hati.

Contohnya dalam bentuk pembangunan pemecah ombak atau breakwater dan program bantuan pelampung untuk nelayan. “Manfaat breakwater sudah terlihat, tapi cara kerjanya belum begitu efektif. Pelampung juga kurang standar,” ujarnya.

Menurut dia, tak heran jika nelayan banyak yang enggan mengenakan pelampung atau membawa pelampung ke dek perahu atau jukung mereka. “Perlu ada peran pemerintah. Minimal, sosialisasi keselamatan nelayan ini terus digencarkan,” harapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tragedi jukung atau perahu terbalik karena hempasan ombak Pantai Puger seakan sudah dianggap biasa. Padahal, kecelakaan laut seperti itu tak jarang merenggut korban. Bahkan yang terakhir jasad Mat Yasin, anak buah kapal (ABK) asal Kabupaten Malang yang hilang dihempaskan ombak Plawangan pada Maret lalu, belum ditemukan sampai hari ini.

Tragedi memilukan itu sebenarnya sudah lama menjadi perhatian sejumlah tokoh masyarakat dan tetua nelayan di Puger. Mereka menilai, perlu ada semacam gerakan bersama, kesadaran masyarakat, utamanya nelayan, bahwa keselamatan saat melaut itu penting.

Ketua Forum Komunikasi Nelayan Puger (FKNP) Hanafi membeberkan, selama ini upaya dukungan dari pemerintah untuk membuatkan perangkat keselamatan itu sebenarnya sudah ada. Namun masih setengah hati.

Contohnya dalam bentuk pembangunan pemecah ombak atau breakwater dan program bantuan pelampung untuk nelayan. “Manfaat breakwater sudah terlihat, tapi cara kerjanya belum begitu efektif. Pelampung juga kurang standar,” ujarnya.

Menurut dia, tak heran jika nelayan banyak yang enggan mengenakan pelampung atau membawa pelampung ke dek perahu atau jukung mereka. “Perlu ada peran pemerintah. Minimal, sosialisasi keselamatan nelayan ini terus digencarkan,” harapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/