alexametrics
27.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Beda Perlakuan Tempat Wisata dan Masjid

Sambut Ramadan di Masa Pandemi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejauh ini, sektor pariwisata cukup merasakan dampak adanya pembatasan karena pandemi. Kendati begitu, perlahan tapi pasti, beberapa tempat wisata mulai ada geliat kembali untuk bangkit.

Sejumlah pengelola wisata pun mengakui, tidak mudah menghidupkan kembali sektor pariwisata yang sempat mati suri. “Karena pengaruhnya besar, pemasukan menipis, dan pengembangan wisata jadi tersendat,” ungkap Heriyadi, Koordinator Keamanan di Wisata Gunung Pasang, Panti.

Sejak awal 2021 hingga hari ini, lanjut dia, pengembangan tempat wisata terus digenjot. Ia juga bersyukur sejak saat itu pemerintah telah memperbolehkan wisata kembali dibuka dan beroperasi. “Kami masih berupaya mengembangkan wisata ini. Sekaligus pemulihan dari pandemi,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jika tempat wisata terus bergeliat, namun bagi tempat ibadah, seperti masjid, masih mendapat kajian apakah harus tetap menggunakan protokol kesehatan (prokes) seperti tahun lalu, atau dilonggarkan seperti saat sebelum pandemi.

Terlebih, beberapa waktu lagi telah memasuki Ramadan yang tinggal hitungan hari. Beberapa pengurus dan takmir masjid mengaku perlu membahas lebih lanjut dengan tokoh masyarakat dan pihak-pihak terkait, apakah ibadah selama Ramadan berjalan seperti tahun lalu dengan prokes ketat, atau sebaliknya, dengan beberapa ketentuan saja.

Ketua Takmir Masjid Jamik Daarul Muttaqien Kecamatan Balung Mohammad Nurhuda mengatakan, sejauh ini Masjid Jamik Balung memang masih menerapkan prokes. Namun, saat memasuki Ramadan nanti, ia belum memastikan apakah prokes itu berjalan seperti tahun lalu atau ada kelonggaran dengan beberapa syarat. “Kami sempat survei ke beberapa masjid antarkecamatan. Dan Jumat ini, rencananya kami akan bahas dengan pengurus dan takmir lainnya,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (6/4).

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejauh ini, sektor pariwisata cukup merasakan dampak adanya pembatasan karena pandemi. Kendati begitu, perlahan tapi pasti, beberapa tempat wisata mulai ada geliat kembali untuk bangkit.

Sejumlah pengelola wisata pun mengakui, tidak mudah menghidupkan kembali sektor pariwisata yang sempat mati suri. “Karena pengaruhnya besar, pemasukan menipis, dan pengembangan wisata jadi tersendat,” ungkap Heriyadi, Koordinator Keamanan di Wisata Gunung Pasang, Panti.

Sejak awal 2021 hingga hari ini, lanjut dia, pengembangan tempat wisata terus digenjot. Ia juga bersyukur sejak saat itu pemerintah telah memperbolehkan wisata kembali dibuka dan beroperasi. “Kami masih berupaya mengembangkan wisata ini. Sekaligus pemulihan dari pandemi,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Jika tempat wisata terus bergeliat, namun bagi tempat ibadah, seperti masjid, masih mendapat kajian apakah harus tetap menggunakan protokol kesehatan (prokes) seperti tahun lalu, atau dilonggarkan seperti saat sebelum pandemi.

Terlebih, beberapa waktu lagi telah memasuki Ramadan yang tinggal hitungan hari. Beberapa pengurus dan takmir masjid mengaku perlu membahas lebih lanjut dengan tokoh masyarakat dan pihak-pihak terkait, apakah ibadah selama Ramadan berjalan seperti tahun lalu dengan prokes ketat, atau sebaliknya, dengan beberapa ketentuan saja.

Ketua Takmir Masjid Jamik Daarul Muttaqien Kecamatan Balung Mohammad Nurhuda mengatakan, sejauh ini Masjid Jamik Balung memang masih menerapkan prokes. Namun, saat memasuki Ramadan nanti, ia belum memastikan apakah prokes itu berjalan seperti tahun lalu atau ada kelonggaran dengan beberapa syarat. “Kami sempat survei ke beberapa masjid antarkecamatan. Dan Jumat ini, rencananya kami akan bahas dengan pengurus dan takmir lainnya,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (6/4).

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejauh ini, sektor pariwisata cukup merasakan dampak adanya pembatasan karena pandemi. Kendati begitu, perlahan tapi pasti, beberapa tempat wisata mulai ada geliat kembali untuk bangkit.

Sejumlah pengelola wisata pun mengakui, tidak mudah menghidupkan kembali sektor pariwisata yang sempat mati suri. “Karena pengaruhnya besar, pemasukan menipis, dan pengembangan wisata jadi tersendat,” ungkap Heriyadi, Koordinator Keamanan di Wisata Gunung Pasang, Panti.

Sejak awal 2021 hingga hari ini, lanjut dia, pengembangan tempat wisata terus digenjot. Ia juga bersyukur sejak saat itu pemerintah telah memperbolehkan wisata kembali dibuka dan beroperasi. “Kami masih berupaya mengembangkan wisata ini. Sekaligus pemulihan dari pandemi,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Jika tempat wisata terus bergeliat, namun bagi tempat ibadah, seperti masjid, masih mendapat kajian apakah harus tetap menggunakan protokol kesehatan (prokes) seperti tahun lalu, atau dilonggarkan seperti saat sebelum pandemi.

Terlebih, beberapa waktu lagi telah memasuki Ramadan yang tinggal hitungan hari. Beberapa pengurus dan takmir masjid mengaku perlu membahas lebih lanjut dengan tokoh masyarakat dan pihak-pihak terkait, apakah ibadah selama Ramadan berjalan seperti tahun lalu dengan prokes ketat, atau sebaliknya, dengan beberapa ketentuan saja.

Ketua Takmir Masjid Jamik Daarul Muttaqien Kecamatan Balung Mohammad Nurhuda mengatakan, sejauh ini Masjid Jamik Balung memang masih menerapkan prokes. Namun, saat memasuki Ramadan nanti, ia belum memastikan apakah prokes itu berjalan seperti tahun lalu atau ada kelonggaran dengan beberapa syarat. “Kami sempat survei ke beberapa masjid antarkecamatan. Dan Jumat ini, rencananya kami akan bahas dengan pengurus dan takmir lainnya,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (6/4).

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/