alexametrics
26.5 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Selalu Fokus dan Waspada, karena Pembongkaran Cukup Berbahaya

Eksekusi pembongkaran pertokoan Jompo menjadi magnet banyak warga. Apalagi, pengerjaannya lebih cepat dari yang diperkirakan. Nah, ujung tombak keberhasilan itu tak lepas dari keberanian para operator alat berat. Seperti apa kisahnya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBE.ID – Panas menyengat bisa dirasakan oleh siapa saja yang bertugas dalam perobohan pertokoan Jompo. Salah satu yang paling totalitas menjalankan tugasnya yaitu M Hendro Laksono, seorang operator ekskavator asal Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung.

Pria 30 tahun ini menceritakan, proses pembongkaran pertokoan Jompo membutuhkan konsentrasi yang lebih. Dibanding dengan bangunan lain, eksekusi deretan bangunan dua lantai di Jalan Sultan Agung, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, itu menurutnya lebih menantang.

Konsentrasi dan tantangan yang lebih besar tersebut bukan karena ditonton oleh banyak pasang mata. Akan tetapi, karena kondisi bangunan sudah retak-retak dan miring ke arah sungai. Hal itu menjadikan tantangan tersendiri, karena posisi bangunan benar-benar membahayakan.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kalau rasa panas itu sudah biasa. Saat bangunan runtuh dan mengeluarkan debu, itu juga sudah biasa. Tapi, yang lebih menantang yaitu kondisi bangunan miring dan retak. Perlu penanganan lebih hati-hati,” papar Hendro, yang sedang beristirahat di sekitar pertokoan Jompo.

Merobohkan bangunan yang sudah miring dan retak, menurutnya, lebih berbahaya daripada merobohkan bangunan yang masih utuh. Apalagi, posisi bangunan berada di atas dan sempadan sungai yang struktur tanahnya sudah ada yang longsor. Hal itulah yang membuat penanganan harus disertai strategi yang tepat. Jika tidak, bisa saja eksekusi perobohan bangunan justru akan membahayakan pekerja yang mendampingi para operator alat berat.

Sebenarnya, membongkar bangunan dengan kondisi retak dan miring bisa lebih cepat. Akan tetapi, untuk pertokoan Jompo harus dilakukan pelan-pelan dan bertahap. Tidak bisa membongkar sekaligus, karena berpotensi akan roboh ke sungai. Selain itu, juga mengancam rumah warga di seberang Sungai Jompo, termasuk mengancam operator alat berat yang bekerja.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBE.ID – Panas menyengat bisa dirasakan oleh siapa saja yang bertugas dalam perobohan pertokoan Jompo. Salah satu yang paling totalitas menjalankan tugasnya yaitu M Hendro Laksono, seorang operator ekskavator asal Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung.

Pria 30 tahun ini menceritakan, proses pembongkaran pertokoan Jompo membutuhkan konsentrasi yang lebih. Dibanding dengan bangunan lain, eksekusi deretan bangunan dua lantai di Jalan Sultan Agung, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, itu menurutnya lebih menantang.

Konsentrasi dan tantangan yang lebih besar tersebut bukan karena ditonton oleh banyak pasang mata. Akan tetapi, karena kondisi bangunan sudah retak-retak dan miring ke arah sungai. Hal itu menjadikan tantangan tersendiri, karena posisi bangunan benar-benar membahayakan.

“Kalau rasa panas itu sudah biasa. Saat bangunan runtuh dan mengeluarkan debu, itu juga sudah biasa. Tapi, yang lebih menantang yaitu kondisi bangunan miring dan retak. Perlu penanganan lebih hati-hati,” papar Hendro, yang sedang beristirahat di sekitar pertokoan Jompo.

Merobohkan bangunan yang sudah miring dan retak, menurutnya, lebih berbahaya daripada merobohkan bangunan yang masih utuh. Apalagi, posisi bangunan berada di atas dan sempadan sungai yang struktur tanahnya sudah ada yang longsor. Hal itulah yang membuat penanganan harus disertai strategi yang tepat. Jika tidak, bisa saja eksekusi perobohan bangunan justru akan membahayakan pekerja yang mendampingi para operator alat berat.

Sebenarnya, membongkar bangunan dengan kondisi retak dan miring bisa lebih cepat. Akan tetapi, untuk pertokoan Jompo harus dilakukan pelan-pelan dan bertahap. Tidak bisa membongkar sekaligus, karena berpotensi akan roboh ke sungai. Selain itu, juga mengancam rumah warga di seberang Sungai Jompo, termasuk mengancam operator alat berat yang bekerja.

JEMBER, RADARJEMBE.ID – Panas menyengat bisa dirasakan oleh siapa saja yang bertugas dalam perobohan pertokoan Jompo. Salah satu yang paling totalitas menjalankan tugasnya yaitu M Hendro Laksono, seorang operator ekskavator asal Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung.

Pria 30 tahun ini menceritakan, proses pembongkaran pertokoan Jompo membutuhkan konsentrasi yang lebih. Dibanding dengan bangunan lain, eksekusi deretan bangunan dua lantai di Jalan Sultan Agung, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, itu menurutnya lebih menantang.

Konsentrasi dan tantangan yang lebih besar tersebut bukan karena ditonton oleh banyak pasang mata. Akan tetapi, karena kondisi bangunan sudah retak-retak dan miring ke arah sungai. Hal itu menjadikan tantangan tersendiri, karena posisi bangunan benar-benar membahayakan.

“Kalau rasa panas itu sudah biasa. Saat bangunan runtuh dan mengeluarkan debu, itu juga sudah biasa. Tapi, yang lebih menantang yaitu kondisi bangunan miring dan retak. Perlu penanganan lebih hati-hati,” papar Hendro, yang sedang beristirahat di sekitar pertokoan Jompo.

Merobohkan bangunan yang sudah miring dan retak, menurutnya, lebih berbahaya daripada merobohkan bangunan yang masih utuh. Apalagi, posisi bangunan berada di atas dan sempadan sungai yang struktur tanahnya sudah ada yang longsor. Hal itulah yang membuat penanganan harus disertai strategi yang tepat. Jika tidak, bisa saja eksekusi perobohan bangunan justru akan membahayakan pekerja yang mendampingi para operator alat berat.

Sebenarnya, membongkar bangunan dengan kondisi retak dan miring bisa lebih cepat. Akan tetapi, untuk pertokoan Jompo harus dilakukan pelan-pelan dan bertahap. Tidak bisa membongkar sekaligus, karena berpotensi akan roboh ke sungai. Selain itu, juga mengancam rumah warga di seberang Sungai Jompo, termasuk mengancam operator alat berat yang bekerja.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/