alexametrics
24 C
Jember
Monday, 8 August 2022

Pedagangnya Mulai Berkurang, Selalu Update Lagu Hits

Getuk, makanan tradisional asal Jawa Tengah itu saat ini telah banyak dimodifikasi. Namun, bukan berarti tak ada getuk yang mempertahankan ciri khasnya. Getuk lindri namanya. Walau masih tetap eksis, makanan nan manis ini mulai jarang dijumpai. Walau pedagang getuk lindri mulai jarang, tapi Sariyono tetap kukuh berjualan demi mempertahankan warisan kuliner dari leluhur.

Mobile_AP_Rectangle 1

Tahun 2018 bisa dikatakan menjadi tahun suram bagi Sariyono dan produksi getuk lindri. Sebab, untuk mencari singkong sebagai bahan baku utama getuk lindri sangat susah. Kalaupun ada, harganya tak masuk akal. “Dari harga Rp 2.500 per kilogram, jadi Rp 5-6 ribu per kilogram,” jelasnya.

Tak bisa produksi akibat susahnya singkong dan harga juga mahal, berbuntut panjang dengan pegawainya. Lima pegawainya pun berhenti, ada yang memilih balik kampung di Jawa Tengah, ada pula yang merantau ke Jakarta ataupun Surabaya. “Sebenarnya sebelum 2018 sudah terasa sulitnya cari singkong. Karena di Jember banyak lahan untuk singkong diubah jadi sengon,” tambahnya.

Setiap hari Saryono bisa menghabiskan 30 kilogram singkong untuk dijadikan getuk lindri. Padahal saat memiliki lima pegawai, sehari dia bisa menggunakan satu kuintal singkong. Meski menghadapi berbagai kendala, Sariyono tetap nekat berjualan getuk lindri demi mempertahankan makanan tradisional dan secara turun temurun dari leluhurnya. “Saya bisa buat getuk lindri ya dari orang tua yang juga jualan di Boyolali, Jateng. Kakek saya bisa membuat getuk, tapi getuk biasa,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tahun 1990, Sariyono merantau ke Jember untuk jualan getuk. Dari kontrakan kecil, dia terus menjajakan makanan khas dari bahan singkong ini hingga bisa membeli rumah sendiri. Dia lebih memilih berjualan di malam hari lantaran butuh waktu untuk membuat getuknya. “Ternyata jualan malam ya laku, lebih enak malam, nggak kepanasan,” jelasnya.

Memakai musik lantang di setiap penjual getuk lindri, menurut Saryono, adalah jadi ciri khas. “Dari dulu ya pakai musik lantang. Di Boyolali juga begitu, tapi bedanya dulu itu pakai musik campursari,” terangnya. Lambat laun musik yang disajikan penjual getuk mulai mengikuti perkembangan zaman. Mulai dari dangdut hingga rock dan pop. Bahkan, Sariyono sempat dijuluki Gethuk Ariel, lantaran sering memutarkan lagu Peterpan. “Sekarang orang suka dangdut lagi, seperti Didi Kempot,” jelasnya.

Pemakaian musik dengan pelantang suara, kata dia, tidak lain adalah strategi penjualan getuk lindri agar membuat orang penasaran. Tapi di sisi lain, musik ini juga menghibur dan memberikan semangat tambahan bagi penjual getuk. Sehingga, rasa lelah keliling menjajakan getuk itu bisa luntur dengan musik.

Kini jajanan legendaris berasa manis mulai jarang ditemukan. Bahkan, Sariyono pernah diminta seseorang untuk memproduksi getuk lindri di Bondowoso, karena orang tersebut sangat ingin getuk lindri. Sampai-sampai satu minggu orang tersebut mencari getuk lindri, dan baru menjumpai makanan tradisional tersebut saat Sariyono tengah mengitari daerah kampus.

- Advertisement -

Tahun 2018 bisa dikatakan menjadi tahun suram bagi Sariyono dan produksi getuk lindri. Sebab, untuk mencari singkong sebagai bahan baku utama getuk lindri sangat susah. Kalaupun ada, harganya tak masuk akal. “Dari harga Rp 2.500 per kilogram, jadi Rp 5-6 ribu per kilogram,” jelasnya.

Tak bisa produksi akibat susahnya singkong dan harga juga mahal, berbuntut panjang dengan pegawainya. Lima pegawainya pun berhenti, ada yang memilih balik kampung di Jawa Tengah, ada pula yang merantau ke Jakarta ataupun Surabaya. “Sebenarnya sebelum 2018 sudah terasa sulitnya cari singkong. Karena di Jember banyak lahan untuk singkong diubah jadi sengon,” tambahnya.

Setiap hari Saryono bisa menghabiskan 30 kilogram singkong untuk dijadikan getuk lindri. Padahal saat memiliki lima pegawai, sehari dia bisa menggunakan satu kuintal singkong. Meski menghadapi berbagai kendala, Sariyono tetap nekat berjualan getuk lindri demi mempertahankan makanan tradisional dan secara turun temurun dari leluhurnya. “Saya bisa buat getuk lindri ya dari orang tua yang juga jualan di Boyolali, Jateng. Kakek saya bisa membuat getuk, tapi getuk biasa,” ungkapnya.

Tahun 1990, Sariyono merantau ke Jember untuk jualan getuk. Dari kontrakan kecil, dia terus menjajakan makanan khas dari bahan singkong ini hingga bisa membeli rumah sendiri. Dia lebih memilih berjualan di malam hari lantaran butuh waktu untuk membuat getuknya. “Ternyata jualan malam ya laku, lebih enak malam, nggak kepanasan,” jelasnya.

Memakai musik lantang di setiap penjual getuk lindri, menurut Saryono, adalah jadi ciri khas. “Dari dulu ya pakai musik lantang. Di Boyolali juga begitu, tapi bedanya dulu itu pakai musik campursari,” terangnya. Lambat laun musik yang disajikan penjual getuk mulai mengikuti perkembangan zaman. Mulai dari dangdut hingga rock dan pop. Bahkan, Sariyono sempat dijuluki Gethuk Ariel, lantaran sering memutarkan lagu Peterpan. “Sekarang orang suka dangdut lagi, seperti Didi Kempot,” jelasnya.

Pemakaian musik dengan pelantang suara, kata dia, tidak lain adalah strategi penjualan getuk lindri agar membuat orang penasaran. Tapi di sisi lain, musik ini juga menghibur dan memberikan semangat tambahan bagi penjual getuk. Sehingga, rasa lelah keliling menjajakan getuk itu bisa luntur dengan musik.

Kini jajanan legendaris berasa manis mulai jarang ditemukan. Bahkan, Sariyono pernah diminta seseorang untuk memproduksi getuk lindri di Bondowoso, karena orang tersebut sangat ingin getuk lindri. Sampai-sampai satu minggu orang tersebut mencari getuk lindri, dan baru menjumpai makanan tradisional tersebut saat Sariyono tengah mengitari daerah kampus.

Tahun 2018 bisa dikatakan menjadi tahun suram bagi Sariyono dan produksi getuk lindri. Sebab, untuk mencari singkong sebagai bahan baku utama getuk lindri sangat susah. Kalaupun ada, harganya tak masuk akal. “Dari harga Rp 2.500 per kilogram, jadi Rp 5-6 ribu per kilogram,” jelasnya.

Tak bisa produksi akibat susahnya singkong dan harga juga mahal, berbuntut panjang dengan pegawainya. Lima pegawainya pun berhenti, ada yang memilih balik kampung di Jawa Tengah, ada pula yang merantau ke Jakarta ataupun Surabaya. “Sebenarnya sebelum 2018 sudah terasa sulitnya cari singkong. Karena di Jember banyak lahan untuk singkong diubah jadi sengon,” tambahnya.

Setiap hari Saryono bisa menghabiskan 30 kilogram singkong untuk dijadikan getuk lindri. Padahal saat memiliki lima pegawai, sehari dia bisa menggunakan satu kuintal singkong. Meski menghadapi berbagai kendala, Sariyono tetap nekat berjualan getuk lindri demi mempertahankan makanan tradisional dan secara turun temurun dari leluhurnya. “Saya bisa buat getuk lindri ya dari orang tua yang juga jualan di Boyolali, Jateng. Kakek saya bisa membuat getuk, tapi getuk biasa,” ungkapnya.

Tahun 1990, Sariyono merantau ke Jember untuk jualan getuk. Dari kontrakan kecil, dia terus menjajakan makanan khas dari bahan singkong ini hingga bisa membeli rumah sendiri. Dia lebih memilih berjualan di malam hari lantaran butuh waktu untuk membuat getuknya. “Ternyata jualan malam ya laku, lebih enak malam, nggak kepanasan,” jelasnya.

Memakai musik lantang di setiap penjual getuk lindri, menurut Saryono, adalah jadi ciri khas. “Dari dulu ya pakai musik lantang. Di Boyolali juga begitu, tapi bedanya dulu itu pakai musik campursari,” terangnya. Lambat laun musik yang disajikan penjual getuk mulai mengikuti perkembangan zaman. Mulai dari dangdut hingga rock dan pop. Bahkan, Sariyono sempat dijuluki Gethuk Ariel, lantaran sering memutarkan lagu Peterpan. “Sekarang orang suka dangdut lagi, seperti Didi Kempot,” jelasnya.

Pemakaian musik dengan pelantang suara, kata dia, tidak lain adalah strategi penjualan getuk lindri agar membuat orang penasaran. Tapi di sisi lain, musik ini juga menghibur dan memberikan semangat tambahan bagi penjual getuk. Sehingga, rasa lelah keliling menjajakan getuk itu bisa luntur dengan musik.

Kini jajanan legendaris berasa manis mulai jarang ditemukan. Bahkan, Sariyono pernah diminta seseorang untuk memproduksi getuk lindri di Bondowoso, karena orang tersebut sangat ingin getuk lindri. Sampai-sampai satu minggu orang tersebut mencari getuk lindri, dan baru menjumpai makanan tradisional tersebut saat Sariyono tengah mengitari daerah kampus.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/