alexametrics
24.4 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Pedagangnya Mulai Berkurang, Selalu Update Lagu Hits

Getuk, makanan tradisional asal Jawa Tengah itu saat ini telah banyak dimodifikasi. Namun, bukan berarti tak ada getuk yang mempertahankan ciri khasnya. Getuk lindri namanya. Walau masih tetap eksis, makanan nan manis ini mulai jarang dijumpai. Walau pedagang getuk lindri mulai jarang, tapi Sariyono tetap kukuh berjualan demi mempertahankan warisan kuliner dari leluhur.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.IDDudu klambi anyar sing neng njero lemariku, nanging bojo anyar, sing mbok pamerke neng aku. Lagu Pamer Bojo atau Cendol Dawet yang dipopulerkan Didi Kempot tersebut terdengar lantang melintas di Jalan Tidar. Bukan dari orkes keliling atau truk yang membawa sound system, melainkan dari sebuah gerobak warna putih yang didorong oleh seseorang. Tak salah lagi, gerobak itu adalah penjual getuk lindri. “Tenang, getuknya bukan dari siang, baru keluar tadi Magrib,” ucap penjual getuk yang diketahui bernama Sariyono ini.

Secara tampilan, rasa, dan kemasan, getuk lindri yang dia bawa tidak berubah. Rasanya manis, ditaburi parutan kelapa, dan dibungkus oleh kertas minyak. Warnanya pun sama, tetap warna-warni. Ada cokelat, hijau, jingga, kuning, merah, dan hijau. Ciri khas pemasaran getuk lindri juga tak berubah, pakai gerobak dorong dan tak ketinggalan adalah pakai pelantang suara dengan lagu-lagu.

Satu hal yang membedakan adalah saat ini Sariyono hanya berjualan pada malam hari. Ya, selama ini getuk lindri yang akrab berjualan pada pagi, siang, hingga sore, kini hanya eksis mulai petang hingga tengah malam. “Berangkatnya habis Magrib, pulangnya sekitar pukul 11-12 malam,” tutur Sariyono.

Mobile_AP_Rectangle 2

Keberadaan penjual getuk lindri sekarang ini mulai langka. Hampir tidak ada lagi gerobak musik keliling dari gang ke gang. Eksistensi makanan tradisional dari Jawa ini sempat membuat wartawan Jawa Pos Radar Jember ingin tahu tempat produksi getuk lindri milik Sariyono.

Ternyata lokasinya berada di rumah Sariyono, tepat di belakang SMPN 11 Jember. “Rumah Pak Getuk (sebutan dari warga sekitar, Red) itu yang ada patung ayamnya,” jelas Rukmini, salah satu warga Kebonsari yang juga tetangga Sariyono.

Kediaman Sariyono sore siang itu tampak sepi. Hanya ada Sariyono dan gerobak kesayangannya yang berada di teras rumahnya. Kini, hanya Sariyono seorang diri pembuat getuk lindri sekaligus yang keliling berjualan. “Dulu ada lima yang lima gerobak dan lima yang keliling,” katanya.

Salah satu gerobak miliknya pun ada yang tinggal rodanya. Bahkan, yang masih bagus dan terbuat dari aluminium, justru dipakai sebagai meja televisi. “Ini gerobak yang baru untuk motor. Hanya dipakai satu kali saja,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.IDDudu klambi anyar sing neng njero lemariku, nanging bojo anyar, sing mbok pamerke neng aku. Lagu Pamer Bojo atau Cendol Dawet yang dipopulerkan Didi Kempot tersebut terdengar lantang melintas di Jalan Tidar. Bukan dari orkes keliling atau truk yang membawa sound system, melainkan dari sebuah gerobak warna putih yang didorong oleh seseorang. Tak salah lagi, gerobak itu adalah penjual getuk lindri. “Tenang, getuknya bukan dari siang, baru keluar tadi Magrib,” ucap penjual getuk yang diketahui bernama Sariyono ini.

Secara tampilan, rasa, dan kemasan, getuk lindri yang dia bawa tidak berubah. Rasanya manis, ditaburi parutan kelapa, dan dibungkus oleh kertas minyak. Warnanya pun sama, tetap warna-warni. Ada cokelat, hijau, jingga, kuning, merah, dan hijau. Ciri khas pemasaran getuk lindri juga tak berubah, pakai gerobak dorong dan tak ketinggalan adalah pakai pelantang suara dengan lagu-lagu.

Satu hal yang membedakan adalah saat ini Sariyono hanya berjualan pada malam hari. Ya, selama ini getuk lindri yang akrab berjualan pada pagi, siang, hingga sore, kini hanya eksis mulai petang hingga tengah malam. “Berangkatnya habis Magrib, pulangnya sekitar pukul 11-12 malam,” tutur Sariyono.

Keberadaan penjual getuk lindri sekarang ini mulai langka. Hampir tidak ada lagi gerobak musik keliling dari gang ke gang. Eksistensi makanan tradisional dari Jawa ini sempat membuat wartawan Jawa Pos Radar Jember ingin tahu tempat produksi getuk lindri milik Sariyono.

Ternyata lokasinya berada di rumah Sariyono, tepat di belakang SMPN 11 Jember. “Rumah Pak Getuk (sebutan dari warga sekitar, Red) itu yang ada patung ayamnya,” jelas Rukmini, salah satu warga Kebonsari yang juga tetangga Sariyono.

Kediaman Sariyono sore siang itu tampak sepi. Hanya ada Sariyono dan gerobak kesayangannya yang berada di teras rumahnya. Kini, hanya Sariyono seorang diri pembuat getuk lindri sekaligus yang keliling berjualan. “Dulu ada lima yang lima gerobak dan lima yang keliling,” katanya.

Salah satu gerobak miliknya pun ada yang tinggal rodanya. Bahkan, yang masih bagus dan terbuat dari aluminium, justru dipakai sebagai meja televisi. “Ini gerobak yang baru untuk motor. Hanya dipakai satu kali saja,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.IDDudu klambi anyar sing neng njero lemariku, nanging bojo anyar, sing mbok pamerke neng aku. Lagu Pamer Bojo atau Cendol Dawet yang dipopulerkan Didi Kempot tersebut terdengar lantang melintas di Jalan Tidar. Bukan dari orkes keliling atau truk yang membawa sound system, melainkan dari sebuah gerobak warna putih yang didorong oleh seseorang. Tak salah lagi, gerobak itu adalah penjual getuk lindri. “Tenang, getuknya bukan dari siang, baru keluar tadi Magrib,” ucap penjual getuk yang diketahui bernama Sariyono ini.

Secara tampilan, rasa, dan kemasan, getuk lindri yang dia bawa tidak berubah. Rasanya manis, ditaburi parutan kelapa, dan dibungkus oleh kertas minyak. Warnanya pun sama, tetap warna-warni. Ada cokelat, hijau, jingga, kuning, merah, dan hijau. Ciri khas pemasaran getuk lindri juga tak berubah, pakai gerobak dorong dan tak ketinggalan adalah pakai pelantang suara dengan lagu-lagu.

Satu hal yang membedakan adalah saat ini Sariyono hanya berjualan pada malam hari. Ya, selama ini getuk lindri yang akrab berjualan pada pagi, siang, hingga sore, kini hanya eksis mulai petang hingga tengah malam. “Berangkatnya habis Magrib, pulangnya sekitar pukul 11-12 malam,” tutur Sariyono.

Keberadaan penjual getuk lindri sekarang ini mulai langka. Hampir tidak ada lagi gerobak musik keliling dari gang ke gang. Eksistensi makanan tradisional dari Jawa ini sempat membuat wartawan Jawa Pos Radar Jember ingin tahu tempat produksi getuk lindri milik Sariyono.

Ternyata lokasinya berada di rumah Sariyono, tepat di belakang SMPN 11 Jember. “Rumah Pak Getuk (sebutan dari warga sekitar, Red) itu yang ada patung ayamnya,” jelas Rukmini, salah satu warga Kebonsari yang juga tetangga Sariyono.

Kediaman Sariyono sore siang itu tampak sepi. Hanya ada Sariyono dan gerobak kesayangannya yang berada di teras rumahnya. Kini, hanya Sariyono seorang diri pembuat getuk lindri sekaligus yang keliling berjualan. “Dulu ada lima yang lima gerobak dan lima yang keliling,” katanya.

Salah satu gerobak miliknya pun ada yang tinggal rodanya. Bahkan, yang masih bagus dan terbuat dari aluminium, justru dipakai sebagai meja televisi. “Ini gerobak yang baru untuk motor. Hanya dipakai satu kali saja,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/