alexametrics
23 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Musim Hujan Rawan DBD, Fogging di Perumahan Dinilai Tak Efektif

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID Kasus demam berdarah mulai muncul dan siap mengintai masyarakat Jember. Permintaan fogging pun mulai meningkat. Namun, fogging di kawasan perumahan dinilai tidak cukup efektif. Berbeda dengan kawasan perkampungan. Sebab, di perumahan banyak rumah yang tertutup rapat hingga ogah petugas fogging masuk ke dalam rumah mereka.

Kepala Markas PMI Jember Rupiyanto mengakui, belakangan ini memang mulai ada peningkatan permintaan fogging di PMI. Setelah fogging menyasar kawasan Perumahan Kaliurang Green Garden, selanjutnya ke Puri Bunga Nirwana. Namun, saat fogging di kawasan perumahan ada saja warga yang emoh rumahnya di-fogging sampai ke dalam. “Kebanyakan tidak mau sampai masuk rumah. Khawatir kena asap fogging. Sebetulnya fogging tidak begitu mengganggu,” ucapnya.

Sebenarnya, kata dia, upaya pemberantasan nyamuk paling efektif adalah fogging sampai ke dalam rumah. Tidak hanya di selokan. Meski begitu, jika ada warga yang menolak, pihaknya tak bisa berbuat banyak. Terkadang, juga ada hal-hal yang terjadi lantaran kurang komunikasi dan minimnya informasi antarwarga. “Jadinya miskomunikasi,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain itu, fogging yang dilakukan pada pagi hari hingga menjelang siang juga memiliki tantangan lain. Banyak rumah warga di perumahan yang tertutup rapat. Para penghuninya tidak ada di rumah. “Karena sibuk kerja, banyak rumahnya tertutup saat ada fogging. Jadi, hanya fogging depan rumah saja dan selokan,” imbuhnya.

Hal itu berbeda sekali dengan fogging di perkampungan dan perdesaan. Kalau di kampung, warga bersedia rumahnya diasapi sampai masuk ke dalam. Para penghuninya juga cenderung ada di rumah. Walau begitu, di perkampungan kepedulian warga terhadap kesehatan lingkungan cenderung kurang dibandingkan dengan warga perumahan. “Dari pengalaman sebelumnya, lebih banyak permintaan fogging itu dari perumahan. Padahal di perkampungan juga ada warga yang terkena demam berdarah,” pungkasnya.

Alternatif Terakhir

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID Kasus demam berdarah mulai muncul dan siap mengintai masyarakat Jember. Permintaan fogging pun mulai meningkat. Namun, fogging di kawasan perumahan dinilai tidak cukup efektif. Berbeda dengan kawasan perkampungan. Sebab, di perumahan banyak rumah yang tertutup rapat hingga ogah petugas fogging masuk ke dalam rumah mereka.

Kepala Markas PMI Jember Rupiyanto mengakui, belakangan ini memang mulai ada peningkatan permintaan fogging di PMI. Setelah fogging menyasar kawasan Perumahan Kaliurang Green Garden, selanjutnya ke Puri Bunga Nirwana. Namun, saat fogging di kawasan perumahan ada saja warga yang emoh rumahnya di-fogging sampai ke dalam. “Kebanyakan tidak mau sampai masuk rumah. Khawatir kena asap fogging. Sebetulnya fogging tidak begitu mengganggu,” ucapnya.

Sebenarnya, kata dia, upaya pemberantasan nyamuk paling efektif adalah fogging sampai ke dalam rumah. Tidak hanya di selokan. Meski begitu, jika ada warga yang menolak, pihaknya tak bisa berbuat banyak. Terkadang, juga ada hal-hal yang terjadi lantaran kurang komunikasi dan minimnya informasi antarwarga. “Jadinya miskomunikasi,” jelasnya.

Selain itu, fogging yang dilakukan pada pagi hari hingga menjelang siang juga memiliki tantangan lain. Banyak rumah warga di perumahan yang tertutup rapat. Para penghuninya tidak ada di rumah. “Karena sibuk kerja, banyak rumahnya tertutup saat ada fogging. Jadi, hanya fogging depan rumah saja dan selokan,” imbuhnya.

Hal itu berbeda sekali dengan fogging di perkampungan dan perdesaan. Kalau di kampung, warga bersedia rumahnya diasapi sampai masuk ke dalam. Para penghuninya juga cenderung ada di rumah. Walau begitu, di perkampungan kepedulian warga terhadap kesehatan lingkungan cenderung kurang dibandingkan dengan warga perumahan. “Dari pengalaman sebelumnya, lebih banyak permintaan fogging itu dari perumahan. Padahal di perkampungan juga ada warga yang terkena demam berdarah,” pungkasnya.

Alternatif Terakhir

JEMBER, RADARJEMBER.ID Kasus demam berdarah mulai muncul dan siap mengintai masyarakat Jember. Permintaan fogging pun mulai meningkat. Namun, fogging di kawasan perumahan dinilai tidak cukup efektif. Berbeda dengan kawasan perkampungan. Sebab, di perumahan banyak rumah yang tertutup rapat hingga ogah petugas fogging masuk ke dalam rumah mereka.

Kepala Markas PMI Jember Rupiyanto mengakui, belakangan ini memang mulai ada peningkatan permintaan fogging di PMI. Setelah fogging menyasar kawasan Perumahan Kaliurang Green Garden, selanjutnya ke Puri Bunga Nirwana. Namun, saat fogging di kawasan perumahan ada saja warga yang emoh rumahnya di-fogging sampai ke dalam. “Kebanyakan tidak mau sampai masuk rumah. Khawatir kena asap fogging. Sebetulnya fogging tidak begitu mengganggu,” ucapnya.

Sebenarnya, kata dia, upaya pemberantasan nyamuk paling efektif adalah fogging sampai ke dalam rumah. Tidak hanya di selokan. Meski begitu, jika ada warga yang menolak, pihaknya tak bisa berbuat banyak. Terkadang, juga ada hal-hal yang terjadi lantaran kurang komunikasi dan minimnya informasi antarwarga. “Jadinya miskomunikasi,” jelasnya.

Selain itu, fogging yang dilakukan pada pagi hari hingga menjelang siang juga memiliki tantangan lain. Banyak rumah warga di perumahan yang tertutup rapat. Para penghuninya tidak ada di rumah. “Karena sibuk kerja, banyak rumahnya tertutup saat ada fogging. Jadi, hanya fogging depan rumah saja dan selokan,” imbuhnya.

Hal itu berbeda sekali dengan fogging di perkampungan dan perdesaan. Kalau di kampung, warga bersedia rumahnya diasapi sampai masuk ke dalam. Para penghuninya juga cenderung ada di rumah. Walau begitu, di perkampungan kepedulian warga terhadap kesehatan lingkungan cenderung kurang dibandingkan dengan warga perumahan. “Dari pengalaman sebelumnya, lebih banyak permintaan fogging itu dari perumahan. Padahal di perkampungan juga ada warga yang terkena demam berdarah,” pungkasnya.

Alternatif Terakhir

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/