alexametrics
29 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Awalnya Hanya Coba-Coba, Teryata Jadi Duit

Mobile_AP_Rectangle 1

Selain dipasarkan secara daring, penjualannya juga dilakukan lewat toko milik ibunya. Terkadang, ia aktif membuka lapak di bazar kuliner atau usaha lainnya, termasuk bazar yang digelar di kampusnya. “Iseng saja awalnya. Dipasarin di story WA sama Instagram, terus juga ikut bazar, bisa habis 20 atau 30 kotak. Di rumah juga dibantu mama,” lanjut gadis yang beralamat di Jalan Kaca Piring, Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, tersebut.

Berwirausaha sejak muda, khususnya saat menjelang lulus kuliah, adalah impian Dinda sejak lama. Sebab, menurut dia, masa tersebut menjadi masa yang panjang dan membosankan jika hanya berkutat dengan buku dan komputer. Menurut dia, kesempatan tersebut bisa ia manfaatkan sambil menjalankan hobi agar tidak jenuh dalam mengerjakan tugas akhir.

Oleh karenanya, dia memanfaatkan waktu tersebut dengan berbisnis tanpa meninggalkan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa. “Kalau bagi waktu, sebenarnya tidak sulit. Intinya jangan menunda pekerjaan. Kalau tidak bisa bimbingan karena tidak ada dosen, bisa dibuat belajar sendiri. Terus digunakan buat bikin siomay,” pungkasnya. (del/c2/rus)

- Advertisement -

Selain dipasarkan secara daring, penjualannya juga dilakukan lewat toko milik ibunya. Terkadang, ia aktif membuka lapak di bazar kuliner atau usaha lainnya, termasuk bazar yang digelar di kampusnya. “Iseng saja awalnya. Dipasarin di story WA sama Instagram, terus juga ikut bazar, bisa habis 20 atau 30 kotak. Di rumah juga dibantu mama,” lanjut gadis yang beralamat di Jalan Kaca Piring, Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, tersebut.

Berwirausaha sejak muda, khususnya saat menjelang lulus kuliah, adalah impian Dinda sejak lama. Sebab, menurut dia, masa tersebut menjadi masa yang panjang dan membosankan jika hanya berkutat dengan buku dan komputer. Menurut dia, kesempatan tersebut bisa ia manfaatkan sambil menjalankan hobi agar tidak jenuh dalam mengerjakan tugas akhir.

Oleh karenanya, dia memanfaatkan waktu tersebut dengan berbisnis tanpa meninggalkan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa. “Kalau bagi waktu, sebenarnya tidak sulit. Intinya jangan menunda pekerjaan. Kalau tidak bisa bimbingan karena tidak ada dosen, bisa dibuat belajar sendiri. Terus digunakan buat bikin siomay,” pungkasnya. (del/c2/rus)

Selain dipasarkan secara daring, penjualannya juga dilakukan lewat toko milik ibunya. Terkadang, ia aktif membuka lapak di bazar kuliner atau usaha lainnya, termasuk bazar yang digelar di kampusnya. “Iseng saja awalnya. Dipasarin di story WA sama Instagram, terus juga ikut bazar, bisa habis 20 atau 30 kotak. Di rumah juga dibantu mama,” lanjut gadis yang beralamat di Jalan Kaca Piring, Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, tersebut.

Berwirausaha sejak muda, khususnya saat menjelang lulus kuliah, adalah impian Dinda sejak lama. Sebab, menurut dia, masa tersebut menjadi masa yang panjang dan membosankan jika hanya berkutat dengan buku dan komputer. Menurut dia, kesempatan tersebut bisa ia manfaatkan sambil menjalankan hobi agar tidak jenuh dalam mengerjakan tugas akhir.

Oleh karenanya, dia memanfaatkan waktu tersebut dengan berbisnis tanpa meninggalkan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa. “Kalau bagi waktu, sebenarnya tidak sulit. Intinya jangan menunda pekerjaan. Kalau tidak bisa bimbingan karena tidak ada dosen, bisa dibuat belajar sendiri. Terus digunakan buat bikin siomay,” pungkasnya. (del/c2/rus)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/