alexametrics
22.3 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Hanya Sepekan, Sampah Teratasi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Masyarakat di kawasan perkotaan Jember sedikit bernapas lega. Mereka tak lagi melihat tumpukan sampah di berbagai tempat pembuangan sementara (TPS). Hal itu karena sejak kemarin (6/1), truk sampah mulai aktif mengangkut limbah rumah tangga itu untuk dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, truk sampah datang sekitar pukul 08.00 untuk membawa tumpukan sampah di Alun-Alun Jember. Sebelumnya, sampah itu menggunung tak terurus sejak ada aksi mogok sopir truk sampah pada 4 Januari lalu. Pemandangan yang sama juga terjadi di TPS Mastrip, Jalan Karimata, dan Jalan Imam Bonjol. Tumpukan sampah yang mulai membusuk itu sudah teratasi dan dibuang ke TPA Pakusari. “Saya diminta angkut sampah. Mungkin dua hari saja,” kata salah seorang sopir truk sampah yang enggan disebut namanya.

Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Jember Arismaya Parahita mengaku, pihaknya mengupayakan sopir truk sampah agar tidak mogok dan kembali aktif. Langkah itu disebutnya cukup mendesak dan baru diputuskan dini hari kemarin (6/1). “Fokusnya sekarang adalah mencari solusi,” kata Arismaya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menuturkan, berbagai upaya ditempuh agar sopir mau kembali bekerja. Sementara, anggaran BBM yang dipakai tetap memakai dana talangan. “Anggaran BBM bisa dikatakan pakai dana mandiri. Berasal dari pegawai DKLH, sopir, dan ada bantuan dari masyarakat,” tuturnya.

Dia menjelaskan, armada truk tidak hanya mengambil sampah di wilayah kota. Namun, sekaligus di beberapa kecamatan dan pasar. Arismaya menyebut, dalam sepekan ke depan truk sampah akan tetap beroperasi. Anggaran yang dibutuhkan untuk operasional BBM itu mendekati Rp 40 juta per minggu.

Arismaya juga mengaku, dana BBM tidak cair sebenarnya bukan kejadian baru. Setiap awal tahun kondisinya sama. Namun, yang menjadi alasan sopir truk sampah itu mogok akibat BBM karena terkait ketidakpastian anggaran dari pemerintah. “Kalau dulu APBD-nya sudah jelas dan pasti terbayar. Sekarang payung hukum untuk memakai anggaran tidak ada. Perkada APBD juga belum ada kepastian,” tuturnya. Di sisi lain, kata dia, DKLH juga tidak memiliki cadangan BBM. Anggaran BBM tahun lalu habis pada akhir tahun kemarin.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Masyarakat di kawasan perkotaan Jember sedikit bernapas lega. Mereka tak lagi melihat tumpukan sampah di berbagai tempat pembuangan sementara (TPS). Hal itu karena sejak kemarin (6/1), truk sampah mulai aktif mengangkut limbah rumah tangga itu untuk dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, truk sampah datang sekitar pukul 08.00 untuk membawa tumpukan sampah di Alun-Alun Jember. Sebelumnya, sampah itu menggunung tak terurus sejak ada aksi mogok sopir truk sampah pada 4 Januari lalu. Pemandangan yang sama juga terjadi di TPS Mastrip, Jalan Karimata, dan Jalan Imam Bonjol. Tumpukan sampah yang mulai membusuk itu sudah teratasi dan dibuang ke TPA Pakusari. “Saya diminta angkut sampah. Mungkin dua hari saja,” kata salah seorang sopir truk sampah yang enggan disebut namanya.

Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Jember Arismaya Parahita mengaku, pihaknya mengupayakan sopir truk sampah agar tidak mogok dan kembali aktif. Langkah itu disebutnya cukup mendesak dan baru diputuskan dini hari kemarin (6/1). “Fokusnya sekarang adalah mencari solusi,” kata Arismaya.

Dia menuturkan, berbagai upaya ditempuh agar sopir mau kembali bekerja. Sementara, anggaran BBM yang dipakai tetap memakai dana talangan. “Anggaran BBM bisa dikatakan pakai dana mandiri. Berasal dari pegawai DKLH, sopir, dan ada bantuan dari masyarakat,” tuturnya.

Dia menjelaskan, armada truk tidak hanya mengambil sampah di wilayah kota. Namun, sekaligus di beberapa kecamatan dan pasar. Arismaya menyebut, dalam sepekan ke depan truk sampah akan tetap beroperasi. Anggaran yang dibutuhkan untuk operasional BBM itu mendekati Rp 40 juta per minggu.

Arismaya juga mengaku, dana BBM tidak cair sebenarnya bukan kejadian baru. Setiap awal tahun kondisinya sama. Namun, yang menjadi alasan sopir truk sampah itu mogok akibat BBM karena terkait ketidakpastian anggaran dari pemerintah. “Kalau dulu APBD-nya sudah jelas dan pasti terbayar. Sekarang payung hukum untuk memakai anggaran tidak ada. Perkada APBD juga belum ada kepastian,” tuturnya. Di sisi lain, kata dia, DKLH juga tidak memiliki cadangan BBM. Anggaran BBM tahun lalu habis pada akhir tahun kemarin.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Masyarakat di kawasan perkotaan Jember sedikit bernapas lega. Mereka tak lagi melihat tumpukan sampah di berbagai tempat pembuangan sementara (TPS). Hal itu karena sejak kemarin (6/1), truk sampah mulai aktif mengangkut limbah rumah tangga itu untuk dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, truk sampah datang sekitar pukul 08.00 untuk membawa tumpukan sampah di Alun-Alun Jember. Sebelumnya, sampah itu menggunung tak terurus sejak ada aksi mogok sopir truk sampah pada 4 Januari lalu. Pemandangan yang sama juga terjadi di TPS Mastrip, Jalan Karimata, dan Jalan Imam Bonjol. Tumpukan sampah yang mulai membusuk itu sudah teratasi dan dibuang ke TPA Pakusari. “Saya diminta angkut sampah. Mungkin dua hari saja,” kata salah seorang sopir truk sampah yang enggan disebut namanya.

Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Jember Arismaya Parahita mengaku, pihaknya mengupayakan sopir truk sampah agar tidak mogok dan kembali aktif. Langkah itu disebutnya cukup mendesak dan baru diputuskan dini hari kemarin (6/1). “Fokusnya sekarang adalah mencari solusi,” kata Arismaya.

Dia menuturkan, berbagai upaya ditempuh agar sopir mau kembali bekerja. Sementara, anggaran BBM yang dipakai tetap memakai dana talangan. “Anggaran BBM bisa dikatakan pakai dana mandiri. Berasal dari pegawai DKLH, sopir, dan ada bantuan dari masyarakat,” tuturnya.

Dia menjelaskan, armada truk tidak hanya mengambil sampah di wilayah kota. Namun, sekaligus di beberapa kecamatan dan pasar. Arismaya menyebut, dalam sepekan ke depan truk sampah akan tetap beroperasi. Anggaran yang dibutuhkan untuk operasional BBM itu mendekati Rp 40 juta per minggu.

Arismaya juga mengaku, dana BBM tidak cair sebenarnya bukan kejadian baru. Setiap awal tahun kondisinya sama. Namun, yang menjadi alasan sopir truk sampah itu mogok akibat BBM karena terkait ketidakpastian anggaran dari pemerintah. “Kalau dulu APBD-nya sudah jelas dan pasti terbayar. Sekarang payung hukum untuk memakai anggaran tidak ada. Perkada APBD juga belum ada kepastian,” tuturnya. Di sisi lain, kata dia, DKLH juga tidak memiliki cadangan BBM. Anggaran BBM tahun lalu habis pada akhir tahun kemarin.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/