alexametrics
28 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Fokus Literasi Musik, Ogah Jadi Artis atau Komposer

Robin Sandi mulai mengenal musik dari keluarganya sejak duduk di bangku SD. Dalam perjalanannya, Robin justru memilih menyinkronkan hobi bermusiknya dengan studi kuliah. Sebab, bagi dia, musik tak hanya untuk dinikmati, tapi juga perlu dikaji. 

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Robin Sandi lahir dari keluarga yang erat dengan seni. Bapaknya, Hudlori, merupakan seorang pemain biola pada grup gambus. Sementara, pakdenya adalah pelukis. Lalu, tantenya penyanyi kasidah kecamatan. Lengkap sudah. Tak heran, Robin tumbuh dengan jiwa seni yang kental hingga dia memilih menjadi pianis klasik. Bakat ini sudah nampak sejak Robin masih kecil.

Bermula dari pengamatan sejak anak-anak dari sang bapak, Robin mulai mengenal berbagai alat musik. Dia juga sering mengamati ayahnya itu bermain keyboard. Bermula dari pengamatan biasa, Robin lalu mengikuti dan menirukan apa yang dilakukan orang tuanya tersebut. “Dari kecil tidak diajarkan secara langsung. Tapi hanya diperkenalkan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Kebiasaan ini terus dilakukan selama Robin menempuh pendidikan sekolah formal. Baik SMP maupun SMA. Pada jenjang SMP, Robin mulai bergabung dengan grup band siswa di sekolahnya. Dari sini, ia banyak mengikuti kompetisi band se-Jawa Timur. Hingga berlanjut ketika ia duduk di bangku SMA. Upayanya untuk belajar musik dilanjutkan dengan menempuh pendidikan nonformal. Robin mengikuti kursus piano di Kecamatan Balung. Tak jauh dari rumahnya yang berada di Dusun Jogaran, Desa Gumelar, Balung. Kursus ini dilakukan semasa ia SMP dan SMA.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dari kursus inilah Robin mendapat arahan dari gurunya, Doan Oktavianus Putra, agar melanjutkan pendidikan dengan fokus bidang musik klasik. Sebab, ketertarikan dan kemampuan musiknya telah terbaca selama ia mengikuti kursus tersebut.

Keinginannya untuk kuliah di bidang musik klasik nyaris tak tercapai. Sebab, orang tuanya agak berat lantaran jarak yang cukup jauh. Bukan perkara bidang studi yang diambil. Beruntung, lambat laun orang tua Robin luluh, lalu mengizinkannya menempuh studi musik di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta.

Di tahun kedua seusai lulus SMA, Robin mendapat lampu hijau untuk kuliah musik. Namun, ia tak langsung kuliah. Robin masih mendalami kursus yang lebih spesifik pada piano klasik.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Robin Sandi lahir dari keluarga yang erat dengan seni. Bapaknya, Hudlori, merupakan seorang pemain biola pada grup gambus. Sementara, pakdenya adalah pelukis. Lalu, tantenya penyanyi kasidah kecamatan. Lengkap sudah. Tak heran, Robin tumbuh dengan jiwa seni yang kental hingga dia memilih menjadi pianis klasik. Bakat ini sudah nampak sejak Robin masih kecil.

Bermula dari pengamatan sejak anak-anak dari sang bapak, Robin mulai mengenal berbagai alat musik. Dia juga sering mengamati ayahnya itu bermain keyboard. Bermula dari pengamatan biasa, Robin lalu mengikuti dan menirukan apa yang dilakukan orang tuanya tersebut. “Dari kecil tidak diajarkan secara langsung. Tapi hanya diperkenalkan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Kebiasaan ini terus dilakukan selama Robin menempuh pendidikan sekolah formal. Baik SMP maupun SMA. Pada jenjang SMP, Robin mulai bergabung dengan grup band siswa di sekolahnya. Dari sini, ia banyak mengikuti kompetisi band se-Jawa Timur. Hingga berlanjut ketika ia duduk di bangku SMA. Upayanya untuk belajar musik dilanjutkan dengan menempuh pendidikan nonformal. Robin mengikuti kursus piano di Kecamatan Balung. Tak jauh dari rumahnya yang berada di Dusun Jogaran, Desa Gumelar, Balung. Kursus ini dilakukan semasa ia SMP dan SMA.

Dari kursus inilah Robin mendapat arahan dari gurunya, Doan Oktavianus Putra, agar melanjutkan pendidikan dengan fokus bidang musik klasik. Sebab, ketertarikan dan kemampuan musiknya telah terbaca selama ia mengikuti kursus tersebut.

Keinginannya untuk kuliah di bidang musik klasik nyaris tak tercapai. Sebab, orang tuanya agak berat lantaran jarak yang cukup jauh. Bukan perkara bidang studi yang diambil. Beruntung, lambat laun orang tua Robin luluh, lalu mengizinkannya menempuh studi musik di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta.

Di tahun kedua seusai lulus SMA, Robin mendapat lampu hijau untuk kuliah musik. Namun, ia tak langsung kuliah. Robin masih mendalami kursus yang lebih spesifik pada piano klasik.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Robin Sandi lahir dari keluarga yang erat dengan seni. Bapaknya, Hudlori, merupakan seorang pemain biola pada grup gambus. Sementara, pakdenya adalah pelukis. Lalu, tantenya penyanyi kasidah kecamatan. Lengkap sudah. Tak heran, Robin tumbuh dengan jiwa seni yang kental hingga dia memilih menjadi pianis klasik. Bakat ini sudah nampak sejak Robin masih kecil.

Bermula dari pengamatan sejak anak-anak dari sang bapak, Robin mulai mengenal berbagai alat musik. Dia juga sering mengamati ayahnya itu bermain keyboard. Bermula dari pengamatan biasa, Robin lalu mengikuti dan menirukan apa yang dilakukan orang tuanya tersebut. “Dari kecil tidak diajarkan secara langsung. Tapi hanya diperkenalkan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Kebiasaan ini terus dilakukan selama Robin menempuh pendidikan sekolah formal. Baik SMP maupun SMA. Pada jenjang SMP, Robin mulai bergabung dengan grup band siswa di sekolahnya. Dari sini, ia banyak mengikuti kompetisi band se-Jawa Timur. Hingga berlanjut ketika ia duduk di bangku SMA. Upayanya untuk belajar musik dilanjutkan dengan menempuh pendidikan nonformal. Robin mengikuti kursus piano di Kecamatan Balung. Tak jauh dari rumahnya yang berada di Dusun Jogaran, Desa Gumelar, Balung. Kursus ini dilakukan semasa ia SMP dan SMA.

Dari kursus inilah Robin mendapat arahan dari gurunya, Doan Oktavianus Putra, agar melanjutkan pendidikan dengan fokus bidang musik klasik. Sebab, ketertarikan dan kemampuan musiknya telah terbaca selama ia mengikuti kursus tersebut.

Keinginannya untuk kuliah di bidang musik klasik nyaris tak tercapai. Sebab, orang tuanya agak berat lantaran jarak yang cukup jauh. Bukan perkara bidang studi yang diambil. Beruntung, lambat laun orang tua Robin luluh, lalu mengizinkannya menempuh studi musik di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta.

Di tahun kedua seusai lulus SMA, Robin mendapat lampu hijau untuk kuliah musik. Namun, ia tak langsung kuliah. Robin masih mendalami kursus yang lebih spesifik pada piano klasik.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/