alexametrics
31.8 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Nyambi Jual Bensin Eceran dan Buka Toko Kelontong

 Menyerah bukan pilihan. Inilah prinsip yang dijalankan Toyib dan Juli Satrio Utomo. Badai pandemi yang menghantam jasa penukaran uang asing yang mereka kelola, tak membuat keduanya menutup usahanya tersebut. Apa keyakinan mereka hingga tetap bertahan di masa sulit seperti sekarang ini?

Mobile_AP_Rectangle 1

Meski demikian, Toyib tak mau menyerah. Walau usahanya sepi, dia tidak punya rencana untuk menutup usaha tersebut. Apalagi, dirinya juga meyakini pagebluk akan segera berakhir dan keadaan akan normal kembali. “Makanya saya akan selalu membuka tempat usaha ini,” ucapnya.

Juli Satrio Utomo, pegawai tempat penukaran uang asing di selatan Pasar Ambulu, juga menyatakan hal serupa. Kata dia, pandemi benar-benar berdampak. Tak ada yang menukar uang di tempatnya. Hal itu dirasakan sejak kali pertama pandemi merebak di Kabupaten Jember. Yakni pada pertengahan Maret lalu. “Tapi, yang paling parah pada saat Ramadan,” ungkapnya.

Sekitar Mei, dia mengaku, sama sekali tak ada yang menukar uang. Kondisi ini berlanjut sampai Agustus. Keadaan mulai membaik September ini. Sejak awal bulan, ada saja warga yang menukarkan uang, walau jumlahnya masih sedikit. “Ada, tapi hanya satu dua orang saja. Itu pun bukan orang yang baru pulang dari luar negeri. Melainkan, orang yang sudah pulang sebelum pandemi. Itu uang simpanan,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Demi bertahan hidup selama pandemi, warga Perumahan Bumi Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, itu menyiasatinya dengan membuka toko kelontong. Jadi, dirinya belanja barang dagangan di toko grosir dekat tempat usahanya, lalu dijual di rumah. “Sehingga saya tetap bisa membuka jasa penukaran uang asing sembari berdagang untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” tandasnya.

- Advertisement -

Meski demikian, Toyib tak mau menyerah. Walau usahanya sepi, dia tidak punya rencana untuk menutup usaha tersebut. Apalagi, dirinya juga meyakini pagebluk akan segera berakhir dan keadaan akan normal kembali. “Makanya saya akan selalu membuka tempat usaha ini,” ucapnya.

Juli Satrio Utomo, pegawai tempat penukaran uang asing di selatan Pasar Ambulu, juga menyatakan hal serupa. Kata dia, pandemi benar-benar berdampak. Tak ada yang menukar uang di tempatnya. Hal itu dirasakan sejak kali pertama pandemi merebak di Kabupaten Jember. Yakni pada pertengahan Maret lalu. “Tapi, yang paling parah pada saat Ramadan,” ungkapnya.

Sekitar Mei, dia mengaku, sama sekali tak ada yang menukar uang. Kondisi ini berlanjut sampai Agustus. Keadaan mulai membaik September ini. Sejak awal bulan, ada saja warga yang menukarkan uang, walau jumlahnya masih sedikit. “Ada, tapi hanya satu dua orang saja. Itu pun bukan orang yang baru pulang dari luar negeri. Melainkan, orang yang sudah pulang sebelum pandemi. Itu uang simpanan,” ujarnya.

Demi bertahan hidup selama pandemi, warga Perumahan Bumi Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, itu menyiasatinya dengan membuka toko kelontong. Jadi, dirinya belanja barang dagangan di toko grosir dekat tempat usahanya, lalu dijual di rumah. “Sehingga saya tetap bisa membuka jasa penukaran uang asing sembari berdagang untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” tandasnya.

Meski demikian, Toyib tak mau menyerah. Walau usahanya sepi, dia tidak punya rencana untuk menutup usaha tersebut. Apalagi, dirinya juga meyakini pagebluk akan segera berakhir dan keadaan akan normal kembali. “Makanya saya akan selalu membuka tempat usaha ini,” ucapnya.

Juli Satrio Utomo, pegawai tempat penukaran uang asing di selatan Pasar Ambulu, juga menyatakan hal serupa. Kata dia, pandemi benar-benar berdampak. Tak ada yang menukar uang di tempatnya. Hal itu dirasakan sejak kali pertama pandemi merebak di Kabupaten Jember. Yakni pada pertengahan Maret lalu. “Tapi, yang paling parah pada saat Ramadan,” ungkapnya.

Sekitar Mei, dia mengaku, sama sekali tak ada yang menukar uang. Kondisi ini berlanjut sampai Agustus. Keadaan mulai membaik September ini. Sejak awal bulan, ada saja warga yang menukarkan uang, walau jumlahnya masih sedikit. “Ada, tapi hanya satu dua orang saja. Itu pun bukan orang yang baru pulang dari luar negeri. Melainkan, orang yang sudah pulang sebelum pandemi. Itu uang simpanan,” ujarnya.

Demi bertahan hidup selama pandemi, warga Perumahan Bumi Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, itu menyiasatinya dengan membuka toko kelontong. Jadi, dirinya belanja barang dagangan di toko grosir dekat tempat usahanya, lalu dijual di rumah. “Sehingga saya tetap bisa membuka jasa penukaran uang asing sembari berdagang untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” tandasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/