alexametrics
24 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Nyambi Jual Bensin Eceran dan Buka Toko Kelontong

 Menyerah bukan pilihan. Inilah prinsip yang dijalankan Toyib dan Juli Satrio Utomo. Badai pandemi yang menghantam jasa penukaran uang asing yang mereka kelola, tak membuat keduanya menutup usahanya tersebut. Apa keyakinan mereka hingga tetap bertahan di masa sulit seperti sekarang ini?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terik siang itu tak menyurutkan semangat Toyib membuka tempat penukaran uang asing di Jalan Kota Blater, Krajan Timur, Desa/Kecamatan Ambulu. Sebuah kursi panjang di depan kantor miliknya seolah ikut menanti pelanggan datang. Mata Toyib juga selalu awas. Ketika ada orang yang berhenti, dia siap menyambut. Siapa tahu mereka adalah pelanggan pertama yang akan menukarkan uang di tempatnya.

Ternyata, orang-orang yang berhenti itu bukan untuk menukarkan uang, tapi membeli bensin eceran yang dia jual.Pandemi Covid-19 membuat mobilitas para TKI turun drastis. Dampaknya, tak ada yang menukar uang. Karena tak ada warga yang pergi maupun pulang dari negeri seberang,” tutur Toyib.

Warga Dusun Sumberan, Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, ini mengatakan, wabah berpengaruh pada jasa penukaran uang asing yang dia kelola. Bahkan lebih lima bulan ini, usahanya seperti mati suri. “Apalagi, ada larangan TKI tak boleh masuk ke Malaysia. Sebab, selain Taiwan dan Hongkong, Malaysia merupakan salah satu negara jujukan para pekerja migran,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Toyib mengaku, momentum Lebaran yang biasanya menjadi masa panen jasa penukaran uang, juga sepi. Sebab, banyak pekerja migran yang tidak mudik. Kebanyakan dari mereka tidak pulang ke negara asal karena ada pembatasan di negara tempat bekerja. “Padahal, nilai tukarnya relatif naik. Hanya saja, tidak ada yang menukar uang, karena memang tak ada kepulangan TKI,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terik siang itu tak menyurutkan semangat Toyib membuka tempat penukaran uang asing di Jalan Kota Blater, Krajan Timur, Desa/Kecamatan Ambulu. Sebuah kursi panjang di depan kantor miliknya seolah ikut menanti pelanggan datang. Mata Toyib juga selalu awas. Ketika ada orang yang berhenti, dia siap menyambut. Siapa tahu mereka adalah pelanggan pertama yang akan menukarkan uang di tempatnya.

Ternyata, orang-orang yang berhenti itu bukan untuk menukarkan uang, tapi membeli bensin eceran yang dia jual.Pandemi Covid-19 membuat mobilitas para TKI turun drastis. Dampaknya, tak ada yang menukar uang. Karena tak ada warga yang pergi maupun pulang dari negeri seberang,” tutur Toyib.

Warga Dusun Sumberan, Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, ini mengatakan, wabah berpengaruh pada jasa penukaran uang asing yang dia kelola. Bahkan lebih lima bulan ini, usahanya seperti mati suri. “Apalagi, ada larangan TKI tak boleh masuk ke Malaysia. Sebab, selain Taiwan dan Hongkong, Malaysia merupakan salah satu negara jujukan para pekerja migran,” katanya.

Toyib mengaku, momentum Lebaran yang biasanya menjadi masa panen jasa penukaran uang, juga sepi. Sebab, banyak pekerja migran yang tidak mudik. Kebanyakan dari mereka tidak pulang ke negara asal karena ada pembatasan di negara tempat bekerja. “Padahal, nilai tukarnya relatif naik. Hanya saja, tidak ada yang menukar uang, karena memang tak ada kepulangan TKI,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terik siang itu tak menyurutkan semangat Toyib membuka tempat penukaran uang asing di Jalan Kota Blater, Krajan Timur, Desa/Kecamatan Ambulu. Sebuah kursi panjang di depan kantor miliknya seolah ikut menanti pelanggan datang. Mata Toyib juga selalu awas. Ketika ada orang yang berhenti, dia siap menyambut. Siapa tahu mereka adalah pelanggan pertama yang akan menukarkan uang di tempatnya.

Ternyata, orang-orang yang berhenti itu bukan untuk menukarkan uang, tapi membeli bensin eceran yang dia jual.Pandemi Covid-19 membuat mobilitas para TKI turun drastis. Dampaknya, tak ada yang menukar uang. Karena tak ada warga yang pergi maupun pulang dari negeri seberang,” tutur Toyib.

Warga Dusun Sumberan, Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, ini mengatakan, wabah berpengaruh pada jasa penukaran uang asing yang dia kelola. Bahkan lebih lima bulan ini, usahanya seperti mati suri. “Apalagi, ada larangan TKI tak boleh masuk ke Malaysia. Sebab, selain Taiwan dan Hongkong, Malaysia merupakan salah satu negara jujukan para pekerja migran,” katanya.

Toyib mengaku, momentum Lebaran yang biasanya menjadi masa panen jasa penukaran uang, juga sepi. Sebab, banyak pekerja migran yang tidak mudik. Kebanyakan dari mereka tidak pulang ke negara asal karena ada pembatasan di negara tempat bekerja. “Padahal, nilai tukarnya relatif naik. Hanya saja, tidak ada yang menukar uang, karena memang tak ada kepulangan TKI,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/