alexametrics
31.2 C
Jember
Monday, 4 July 2022

Biarkan Hidup di Habitat Asli

Aktivis Minta Perburuan Burung Berkicau Dihentikan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Burung berkicau yang beredar di pasaran ternyata banyak yang berasal dari tangkapan di alam liar. Bukan hasil penangkaran. Pedagang mengaku, burung hasil tangkapan keuntungannya jauh lebih besar, sehingga membuat penjual tergiur memasarkannya. Padahal, tiap 4 Oktober telah diperingati Hari Hewan, yang salah satunya mengampanyekan agar fauna liar tetap hidup di habitatnya. Termasuk burung berkicau tersebut.

Jawa Pos Radar Jember mendatangi Pasar Burung Sawahan, kemarin (5/10). Di pasar ini, burung-burung tampak sehat. Kadir, penjual burung di Pasar Burung Sawahan, mengatakan, pada awal korona jarang sekali ada yang beli. Tapi kini, mulai banyak. Bahkan, burung yang semula tak laku justru dipelihara. “Karena bosan di rumah, akhirnya banyak yang beli burung untuk peliharaan,” jelasnya.

Kadir pun mengaku sampai kehabisan stok burung berkualitas bagus. Misalnya murai batu, kepodang, dan cucak hijau. Burung jenis ini semuanya habis terjual. “Habis modalnya, juga susah dapatnya,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia mengaku, burung yang dia beli untuk dijual kembali tak semua dari peternak atau pehobi. Banyak yang hasil tangkapan menggunakan jaring di alam liar. Selisih keuntungannya, kata dia, jauh lebih menggiurkan jika mengambil dari pemburu liar. “Jauh selisihnya. Contohnya dari tangkapan alam belinya Rp 50 ribu, sementara bukan dari alam bisa Rp 150 ribu per ekor,” tuturnya.

Walau begitu, bukan berarti tanpa risiko. Kadir mengungkapkan, burung dari alam liar mudah stres. Bahkan, tak sedikit burung yang dibeli Kadir dari alam liar itu mati. “Kalau sudah stres, dijual di pasar tidak laku, karena tidak mau berkicau,” katanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Burung berkicau yang beredar di pasaran ternyata banyak yang berasal dari tangkapan di alam liar. Bukan hasil penangkaran. Pedagang mengaku, burung hasil tangkapan keuntungannya jauh lebih besar, sehingga membuat penjual tergiur memasarkannya. Padahal, tiap 4 Oktober telah diperingati Hari Hewan, yang salah satunya mengampanyekan agar fauna liar tetap hidup di habitatnya. Termasuk burung berkicau tersebut.

Jawa Pos Radar Jember mendatangi Pasar Burung Sawahan, kemarin (5/10). Di pasar ini, burung-burung tampak sehat. Kadir, penjual burung di Pasar Burung Sawahan, mengatakan, pada awal korona jarang sekali ada yang beli. Tapi kini, mulai banyak. Bahkan, burung yang semula tak laku justru dipelihara. “Karena bosan di rumah, akhirnya banyak yang beli burung untuk peliharaan,” jelasnya.

Kadir pun mengaku sampai kehabisan stok burung berkualitas bagus. Misalnya murai batu, kepodang, dan cucak hijau. Burung jenis ini semuanya habis terjual. “Habis modalnya, juga susah dapatnya,” ucapnya.

Dia mengaku, burung yang dia beli untuk dijual kembali tak semua dari peternak atau pehobi. Banyak yang hasil tangkapan menggunakan jaring di alam liar. Selisih keuntungannya, kata dia, jauh lebih menggiurkan jika mengambil dari pemburu liar. “Jauh selisihnya. Contohnya dari tangkapan alam belinya Rp 50 ribu, sementara bukan dari alam bisa Rp 150 ribu per ekor,” tuturnya.

Walau begitu, bukan berarti tanpa risiko. Kadir mengungkapkan, burung dari alam liar mudah stres. Bahkan, tak sedikit burung yang dibeli Kadir dari alam liar itu mati. “Kalau sudah stres, dijual di pasar tidak laku, karena tidak mau berkicau,” katanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Burung berkicau yang beredar di pasaran ternyata banyak yang berasal dari tangkapan di alam liar. Bukan hasil penangkaran. Pedagang mengaku, burung hasil tangkapan keuntungannya jauh lebih besar, sehingga membuat penjual tergiur memasarkannya. Padahal, tiap 4 Oktober telah diperingati Hari Hewan, yang salah satunya mengampanyekan agar fauna liar tetap hidup di habitatnya. Termasuk burung berkicau tersebut.

Jawa Pos Radar Jember mendatangi Pasar Burung Sawahan, kemarin (5/10). Di pasar ini, burung-burung tampak sehat. Kadir, penjual burung di Pasar Burung Sawahan, mengatakan, pada awal korona jarang sekali ada yang beli. Tapi kini, mulai banyak. Bahkan, burung yang semula tak laku justru dipelihara. “Karena bosan di rumah, akhirnya banyak yang beli burung untuk peliharaan,” jelasnya.

Kadir pun mengaku sampai kehabisan stok burung berkualitas bagus. Misalnya murai batu, kepodang, dan cucak hijau. Burung jenis ini semuanya habis terjual. “Habis modalnya, juga susah dapatnya,” ucapnya.

Dia mengaku, burung yang dia beli untuk dijual kembali tak semua dari peternak atau pehobi. Banyak yang hasil tangkapan menggunakan jaring di alam liar. Selisih keuntungannya, kata dia, jauh lebih menggiurkan jika mengambil dari pemburu liar. “Jauh selisihnya. Contohnya dari tangkapan alam belinya Rp 50 ribu, sementara bukan dari alam bisa Rp 150 ribu per ekor,” tuturnya.

Walau begitu, bukan berarti tanpa risiko. Kadir mengungkapkan, burung dari alam liar mudah stres. Bahkan, tak sedikit burung yang dibeli Kadir dari alam liar itu mati. “Kalau sudah stres, dijual di pasar tidak laku, karena tidak mau berkicau,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/