alexametrics
22.8 C
Jember
Friday, 12 August 2022

Siswa Mulai Bosan Belajar Daring

Guru Keliling Datangi Rumah Wali murid

Mobile_AP_Rectangle 1

Pemerintah memang tidak tegas menetapkan metode pembelajaran selama masa pandemi. Sebab, hingga saat ini belum ada regulasi yang menjadi rujukan baku sekolah melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahkan secara teknis, proses itu diserahkan ke lembaga pendidikan masing-masing. Apakah tetap menggunakan cara daring, luring, atau dengan mengunjungi langsung rumah-rumah siswa.

Kepala Dinas Pendidikan Jember Edy Budi Susilo sempat mengatakan, model belajar apa pun itu harus tetap berdasar pada kurikulum yang ada. Namun, dalam penerapannya, harus disesuaikan dengan kemampuan sekolah masing-masing. Pada tataran praktik, sekolah juga dibebaskan bakal menggunakan model yang mana. Apakah full daring, membentuk kelompok kecil, atau door to door ke rumah siswa.

Namun, semua metode itu, dia menegaskan, tidak diperkenankan ada pertemuan dalam jumlah besar, apalagi rombongan belajar (rombel). Selain daring dan luring, Edy menguraikan, sekolah juga bisa menggunakan metode campuran daring-luring atau blended learning.

Mobile_AP_Rectangle 2

Edy percaya, sekolah sudah memiliki dan menerapkan standardisasi ketercapaian masing-masing yang mengacu pada kurikulum yang ada. Meskipun, belum ada regulasi baku yang menjadi rujukan lembaga dan tenaga pendidikan. “Edaran dari kementerian sudah ada. Standardisasi dalam kurikulum sudah ada. Tentu hasilnya sama. Tinggal nanti dievaluasi sejauh mana ketercapaian hasil belajar itu,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jember, beberapa waktu lalu.

Untuk mengatasi hal itu, dia menyebut, pihaknya sudah menggalakkan model-model pelatihan atau bimbingan teknis (bimtek) bagi para guru. Namun, sejauh ini belum dituangkan dalam bentuk regulasi yang memudahkan sekolah. Sebab, Dispendik kabupaten juga berharap pemerintah pusat segera mematenkan model belajar di masa darurat ini dalam bentuk ketetapan yang jelas dan tegas. Sehingga sekolah daring bisa berjalan mudah dan murah.

“Kami sudah menugaskan semua kepala bidang (SMP, SD, dan PAUD, Red) untuk turun menyisir persoalan yang ada selama KBM daring ini. Jadi, kami mohon dukungan penuh wali murid, khususnya sekolah, untuk bersama-sama bersinergi menjalankan KBM ini,” pungkasnya.

- Advertisement -

Pemerintah memang tidak tegas menetapkan metode pembelajaran selama masa pandemi. Sebab, hingga saat ini belum ada regulasi yang menjadi rujukan baku sekolah melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahkan secara teknis, proses itu diserahkan ke lembaga pendidikan masing-masing. Apakah tetap menggunakan cara daring, luring, atau dengan mengunjungi langsung rumah-rumah siswa.

Kepala Dinas Pendidikan Jember Edy Budi Susilo sempat mengatakan, model belajar apa pun itu harus tetap berdasar pada kurikulum yang ada. Namun, dalam penerapannya, harus disesuaikan dengan kemampuan sekolah masing-masing. Pada tataran praktik, sekolah juga dibebaskan bakal menggunakan model yang mana. Apakah full daring, membentuk kelompok kecil, atau door to door ke rumah siswa.

Namun, semua metode itu, dia menegaskan, tidak diperkenankan ada pertemuan dalam jumlah besar, apalagi rombongan belajar (rombel). Selain daring dan luring, Edy menguraikan, sekolah juga bisa menggunakan metode campuran daring-luring atau blended learning.

Edy percaya, sekolah sudah memiliki dan menerapkan standardisasi ketercapaian masing-masing yang mengacu pada kurikulum yang ada. Meskipun, belum ada regulasi baku yang menjadi rujukan lembaga dan tenaga pendidikan. “Edaran dari kementerian sudah ada. Standardisasi dalam kurikulum sudah ada. Tentu hasilnya sama. Tinggal nanti dievaluasi sejauh mana ketercapaian hasil belajar itu,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jember, beberapa waktu lalu.

Untuk mengatasi hal itu, dia menyebut, pihaknya sudah menggalakkan model-model pelatihan atau bimbingan teknis (bimtek) bagi para guru. Namun, sejauh ini belum dituangkan dalam bentuk regulasi yang memudahkan sekolah. Sebab, Dispendik kabupaten juga berharap pemerintah pusat segera mematenkan model belajar di masa darurat ini dalam bentuk ketetapan yang jelas dan tegas. Sehingga sekolah daring bisa berjalan mudah dan murah.

“Kami sudah menugaskan semua kepala bidang (SMP, SD, dan PAUD, Red) untuk turun menyisir persoalan yang ada selama KBM daring ini. Jadi, kami mohon dukungan penuh wali murid, khususnya sekolah, untuk bersama-sama bersinergi menjalankan KBM ini,” pungkasnya.

Pemerintah memang tidak tegas menetapkan metode pembelajaran selama masa pandemi. Sebab, hingga saat ini belum ada regulasi yang menjadi rujukan baku sekolah melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahkan secara teknis, proses itu diserahkan ke lembaga pendidikan masing-masing. Apakah tetap menggunakan cara daring, luring, atau dengan mengunjungi langsung rumah-rumah siswa.

Kepala Dinas Pendidikan Jember Edy Budi Susilo sempat mengatakan, model belajar apa pun itu harus tetap berdasar pada kurikulum yang ada. Namun, dalam penerapannya, harus disesuaikan dengan kemampuan sekolah masing-masing. Pada tataran praktik, sekolah juga dibebaskan bakal menggunakan model yang mana. Apakah full daring, membentuk kelompok kecil, atau door to door ke rumah siswa.

Namun, semua metode itu, dia menegaskan, tidak diperkenankan ada pertemuan dalam jumlah besar, apalagi rombongan belajar (rombel). Selain daring dan luring, Edy menguraikan, sekolah juga bisa menggunakan metode campuran daring-luring atau blended learning.

Edy percaya, sekolah sudah memiliki dan menerapkan standardisasi ketercapaian masing-masing yang mengacu pada kurikulum yang ada. Meskipun, belum ada regulasi baku yang menjadi rujukan lembaga dan tenaga pendidikan. “Edaran dari kementerian sudah ada. Standardisasi dalam kurikulum sudah ada. Tentu hasilnya sama. Tinggal nanti dievaluasi sejauh mana ketercapaian hasil belajar itu,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jember, beberapa waktu lalu.

Untuk mengatasi hal itu, dia menyebut, pihaknya sudah menggalakkan model-model pelatihan atau bimbingan teknis (bimtek) bagi para guru. Namun, sejauh ini belum dituangkan dalam bentuk regulasi yang memudahkan sekolah. Sebab, Dispendik kabupaten juga berharap pemerintah pusat segera mematenkan model belajar di masa darurat ini dalam bentuk ketetapan yang jelas dan tegas. Sehingga sekolah daring bisa berjalan mudah dan murah.

“Kami sudah menugaskan semua kepala bidang (SMP, SD, dan PAUD, Red) untuk turun menyisir persoalan yang ada selama KBM daring ini. Jadi, kami mohon dukungan penuh wali murid, khususnya sekolah, untuk bersama-sama bersinergi menjalankan KBM ini,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/