alexametrics
28.2 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Jangan Gampang Percaya Klaim Khasiatnya

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Manjur, tokcer, dan dijamin ampuh. Kalimat ini biasanya menjadi contoh iklan atau jargon jamu yang beredar di pasaran. Promosi jamu dengan bahasa yang bombastis itu rupanya perlu ditinjau ulang. Sebab, efek minuman penyehat tradisional tersebut tak bisa seketika seperti obat berbahan kimia. Tapi perlahan-lahan.

Apalagi, tidak semua jamu yang beredar saat ini sudah legal. Sebagian ada yang dipasarkan tanpa mengantongi izin resmi dari lembaga berwenang. Jika sudah demikian, meskipun jamu itu ampuh, tapi tak menutup kemungkinan mengundang efek samping lain yang dapat membahayakan konsumennya.

Kepala Loka Pengawas Obat dan Makanan (POM) Jember Any Koosbudiwati menegaskan, jamu itu bukan obat. Meskipun memiliki khasiat yang sama seperti halnya obat. “Pertama yang perlu dilihat adalah izin edar. Ketika itu sudah terdaftar di BPOM melalui kode khusus, jamu itu tidak boleh mencantumkan klaim khasiat. Tapi hanya bisa membantu, meringankan, dan sejenisnya,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pelarangan itu karena obat lebih teruji melalui serangkaian pengawasan laboratorium yang ketat. Sementara jamu, tidak semua demikian. Jika ditemukan adanya jamu yang melabelkan klaim seperti itu, disinyalir menjadi salah satu indikasi jamu tersebut ilegal.

Lebih-lebih, jamu yang berkhasiat khusus mengobati pegal linu atau keperkasaan. Biasanya, kerap menyuguhkan gambar branding yang bombastis, berikut dengan klaim medisnya. “Jelas kami tidak mengizinkan untuk jamu yang seperti itu,” sambungnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Manjur, tokcer, dan dijamin ampuh. Kalimat ini biasanya menjadi contoh iklan atau jargon jamu yang beredar di pasaran. Promosi jamu dengan bahasa yang bombastis itu rupanya perlu ditinjau ulang. Sebab, efek minuman penyehat tradisional tersebut tak bisa seketika seperti obat berbahan kimia. Tapi perlahan-lahan.

Apalagi, tidak semua jamu yang beredar saat ini sudah legal. Sebagian ada yang dipasarkan tanpa mengantongi izin resmi dari lembaga berwenang. Jika sudah demikian, meskipun jamu itu ampuh, tapi tak menutup kemungkinan mengundang efek samping lain yang dapat membahayakan konsumennya.

Kepala Loka Pengawas Obat dan Makanan (POM) Jember Any Koosbudiwati menegaskan, jamu itu bukan obat. Meskipun memiliki khasiat yang sama seperti halnya obat. “Pertama yang perlu dilihat adalah izin edar. Ketika itu sudah terdaftar di BPOM melalui kode khusus, jamu itu tidak boleh mencantumkan klaim khasiat. Tapi hanya bisa membantu, meringankan, dan sejenisnya,” jelasnya.

Pelarangan itu karena obat lebih teruji melalui serangkaian pengawasan laboratorium yang ketat. Sementara jamu, tidak semua demikian. Jika ditemukan adanya jamu yang melabelkan klaim seperti itu, disinyalir menjadi salah satu indikasi jamu tersebut ilegal.

Lebih-lebih, jamu yang berkhasiat khusus mengobati pegal linu atau keperkasaan. Biasanya, kerap menyuguhkan gambar branding yang bombastis, berikut dengan klaim medisnya. “Jelas kami tidak mengizinkan untuk jamu yang seperti itu,” sambungnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Manjur, tokcer, dan dijamin ampuh. Kalimat ini biasanya menjadi contoh iklan atau jargon jamu yang beredar di pasaran. Promosi jamu dengan bahasa yang bombastis itu rupanya perlu ditinjau ulang. Sebab, efek minuman penyehat tradisional tersebut tak bisa seketika seperti obat berbahan kimia. Tapi perlahan-lahan.

Apalagi, tidak semua jamu yang beredar saat ini sudah legal. Sebagian ada yang dipasarkan tanpa mengantongi izin resmi dari lembaga berwenang. Jika sudah demikian, meskipun jamu itu ampuh, tapi tak menutup kemungkinan mengundang efek samping lain yang dapat membahayakan konsumennya.

Kepala Loka Pengawas Obat dan Makanan (POM) Jember Any Koosbudiwati menegaskan, jamu itu bukan obat. Meskipun memiliki khasiat yang sama seperti halnya obat. “Pertama yang perlu dilihat adalah izin edar. Ketika itu sudah terdaftar di BPOM melalui kode khusus, jamu itu tidak boleh mencantumkan klaim khasiat. Tapi hanya bisa membantu, meringankan, dan sejenisnya,” jelasnya.

Pelarangan itu karena obat lebih teruji melalui serangkaian pengawasan laboratorium yang ketat. Sementara jamu, tidak semua demikian. Jika ditemukan adanya jamu yang melabelkan klaim seperti itu, disinyalir menjadi salah satu indikasi jamu tersebut ilegal.

Lebih-lebih, jamu yang berkhasiat khusus mengobati pegal linu atau keperkasaan. Biasanya, kerap menyuguhkan gambar branding yang bombastis, berikut dengan klaim medisnya. “Jelas kami tidak mengizinkan untuk jamu yang seperti itu,” sambungnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/