alexametrics
24.3 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Jalur Gumitir Mulai Dipadati Pemudik

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tujuh hari menjelang Idul Fitri, kondisi Jalur Gumitir di Dusun Gumitir, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, mulai dipadati pemudik. Rata-rata pengendara yang baru pulang dari tempat kerjanya di Bali ini memilih pulang lebih awal karena khawatir akan terjebak pembatasan yang mulai diterapkan hari ini (6/5).

Salah satunya adalah Ipin, 35, warga asal Lumajang. Bersama istrinya, Indah, 29, dan anaknya, Fitri, 3, keluarga muda ini memilih berangkat pagi-pagi buta, yakni pukul 03.00. Menurut Ipin, hal ini mereka lakukan agar sampai di rumah lebih sore. “Perjalanan dari Bali hingga ke puncak Gumitir ini saya sudah tujuh kali istirahat,” kata Ipin kepada Jawa Pos Radar Jember saat ditemui di puncak Gumitir.

Dia tak menampik bahwa memutuskan untuk pulang lebih awal karena ingin mendahului larangan untuk mudik hari ini. “Karena ada larangan tanggal 6 Mei ini tidak boleh mudik, banyak teman yang kerja di Bali memilih pulang lebih awal,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Biasanya, kata dia, perantau yang paling banyak pulang dari Bali itu berangkat seusai buka puasa. Sebab, mereka menghindari pemeriksaan petugas di Pelabuhan Gilimanuk untuk menyeberang. “Banyak yang berangkat atau pulang lebih awal agar lolos dari pemeriksaan kesehatan,” katanya.

Rata-rata mereka memanfaatkan waktu yang hanya kurang sehari dari pelarangan mudik. Sebelum pukul 00.00, para perantau ini langsung meninggalkan tempat kerjanya agar bisa berkumpul bersama keluarga saat Hari Raya Idul Fitri.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tujuh hari menjelang Idul Fitri, kondisi Jalur Gumitir di Dusun Gumitir, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, mulai dipadati pemudik. Rata-rata pengendara yang baru pulang dari tempat kerjanya di Bali ini memilih pulang lebih awal karena khawatir akan terjebak pembatasan yang mulai diterapkan hari ini (6/5).

Salah satunya adalah Ipin, 35, warga asal Lumajang. Bersama istrinya, Indah, 29, dan anaknya, Fitri, 3, keluarga muda ini memilih berangkat pagi-pagi buta, yakni pukul 03.00. Menurut Ipin, hal ini mereka lakukan agar sampai di rumah lebih sore. “Perjalanan dari Bali hingga ke puncak Gumitir ini saya sudah tujuh kali istirahat,” kata Ipin kepada Jawa Pos Radar Jember saat ditemui di puncak Gumitir.

Dia tak menampik bahwa memutuskan untuk pulang lebih awal karena ingin mendahului larangan untuk mudik hari ini. “Karena ada larangan tanggal 6 Mei ini tidak boleh mudik, banyak teman yang kerja di Bali memilih pulang lebih awal,” paparnya.

Biasanya, kata dia, perantau yang paling banyak pulang dari Bali itu berangkat seusai buka puasa. Sebab, mereka menghindari pemeriksaan petugas di Pelabuhan Gilimanuk untuk menyeberang. “Banyak yang berangkat atau pulang lebih awal agar lolos dari pemeriksaan kesehatan,” katanya.

Rata-rata mereka memanfaatkan waktu yang hanya kurang sehari dari pelarangan mudik. Sebelum pukul 00.00, para perantau ini langsung meninggalkan tempat kerjanya agar bisa berkumpul bersama keluarga saat Hari Raya Idul Fitri.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tujuh hari menjelang Idul Fitri, kondisi Jalur Gumitir di Dusun Gumitir, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, mulai dipadati pemudik. Rata-rata pengendara yang baru pulang dari tempat kerjanya di Bali ini memilih pulang lebih awal karena khawatir akan terjebak pembatasan yang mulai diterapkan hari ini (6/5).

Salah satunya adalah Ipin, 35, warga asal Lumajang. Bersama istrinya, Indah, 29, dan anaknya, Fitri, 3, keluarga muda ini memilih berangkat pagi-pagi buta, yakni pukul 03.00. Menurut Ipin, hal ini mereka lakukan agar sampai di rumah lebih sore. “Perjalanan dari Bali hingga ke puncak Gumitir ini saya sudah tujuh kali istirahat,” kata Ipin kepada Jawa Pos Radar Jember saat ditemui di puncak Gumitir.

Dia tak menampik bahwa memutuskan untuk pulang lebih awal karena ingin mendahului larangan untuk mudik hari ini. “Karena ada larangan tanggal 6 Mei ini tidak boleh mudik, banyak teman yang kerja di Bali memilih pulang lebih awal,” paparnya.

Biasanya, kata dia, perantau yang paling banyak pulang dari Bali itu berangkat seusai buka puasa. Sebab, mereka menghindari pemeriksaan petugas di Pelabuhan Gilimanuk untuk menyeberang. “Banyak yang berangkat atau pulang lebih awal agar lolos dari pemeriksaan kesehatan,” katanya.

Rata-rata mereka memanfaatkan waktu yang hanya kurang sehari dari pelarangan mudik. Sebelum pukul 00.00, para perantau ini langsung meninggalkan tempat kerjanya agar bisa berkumpul bersama keluarga saat Hari Raya Idul Fitri.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/