alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Dana Atlet ‘Disunat’ 50 Persen Lebih

Pengakuan Cabor Penerima Bantuan KONI

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sengkarut dana bantuan untuk atlet yang mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI 2019 lalu menguak fakta baru. Informasinya, dana transportasi yang seharusnya diberikan kepada atlet itu disunat hingga hampir 50 persen. Sejumlah pengurus cabang olahraga (cabor) pun bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang bermain dalam perkara lancung tersebut.

Sekretaris Umum Wushu Indonesia (WI) Jember Harianto mengakui, cabor wushu Jember di Porprov mendapatkan dana dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jember. “Pada waktu itu diberikan di Homestay Podomoro, Lamongan. Lokasi menginap atlet, pelatih, dan ofisial wushu,” jelasnya.

Dia masih ingat yang memberikan adalah Wakil Ketua KONI Jember Indi Naidha pada malam hari. Nilai totalnya, cabor wushu mendapatkan Rp 1.550.000. “Bilang membagikan uang saku. Setiap atlet dan ofisial serta pelatih seratus ribu rupiah. Juga ditambah Rp 250 ribu untuk keperluan operasional,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Harianto masih ingat dana dari KONI Jember tersebut untuk uang saku, tapi disarankan untuk dibelikan vitamin atau kebutuhan lainnya bagi atlet. Namun, yang membubuhkan tanda tangan pada kuitansi uang tersebut bukan dirinya. Melainkan Lisa, ofisial wushu Jember. “Kalau saya tidak masuk pelatih dan ofisial. Berangkat ke Lamongan juga secara mandiri,” jelasnya.

Pada waktu menandatangani kuitansi tersebut, Harianto paham bahwa kuitansi itu kosong. Alasannya juga masuk akal, karena banyak yang harus diurus. Sementara untuk meterai, dirinya tidak begitu perhatian apakah tertera meterai atau tidak. “Saya lihat memang banyak kuitansi kosong dan telah ditandatangani,” terangnya.

Bila memang benar dalam laporan pertanggungjawaban (LPJ) KONI Jember ke KONI Jatim wushu mendapatkan dana Rp 3.250.000, dia merasa aneh. Sebab, jika mengacu ke jumlah tersebut, maka ada selisih Rp 1,7 juta yang belum diberikan, atau lebih 50 persen. “Kalau memang benar laporannya seperti ini, maka dana lainnya ke mana? Berarti ada hak kami yang belum diterima,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Pusat Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Mujiono juga menuturkan hal serupa. Dia berkata, pihaknya menerima uang bantuan dari KONI Jember dan telah ditandatangani saat Porprov Jatim 2019 lalu. “Waktu itu, kalau tidak salah menerima uang Rp 750 ribu. Kalau tidak Rp 800 ribu,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sengkarut dana bantuan untuk atlet yang mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI 2019 lalu menguak fakta baru. Informasinya, dana transportasi yang seharusnya diberikan kepada atlet itu disunat hingga hampir 50 persen. Sejumlah pengurus cabang olahraga (cabor) pun bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang bermain dalam perkara lancung tersebut.

Sekretaris Umum Wushu Indonesia (WI) Jember Harianto mengakui, cabor wushu Jember di Porprov mendapatkan dana dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jember. “Pada waktu itu diberikan di Homestay Podomoro, Lamongan. Lokasi menginap atlet, pelatih, dan ofisial wushu,” jelasnya.

Dia masih ingat yang memberikan adalah Wakil Ketua KONI Jember Indi Naidha pada malam hari. Nilai totalnya, cabor wushu mendapatkan Rp 1.550.000. “Bilang membagikan uang saku. Setiap atlet dan ofisial serta pelatih seratus ribu rupiah. Juga ditambah Rp 250 ribu untuk keperluan operasional,” tuturnya.

Harianto masih ingat dana dari KONI Jember tersebut untuk uang saku, tapi disarankan untuk dibelikan vitamin atau kebutuhan lainnya bagi atlet. Namun, yang membubuhkan tanda tangan pada kuitansi uang tersebut bukan dirinya. Melainkan Lisa, ofisial wushu Jember. “Kalau saya tidak masuk pelatih dan ofisial. Berangkat ke Lamongan juga secara mandiri,” jelasnya.

Pada waktu menandatangani kuitansi tersebut, Harianto paham bahwa kuitansi itu kosong. Alasannya juga masuk akal, karena banyak yang harus diurus. Sementara untuk meterai, dirinya tidak begitu perhatian apakah tertera meterai atau tidak. “Saya lihat memang banyak kuitansi kosong dan telah ditandatangani,” terangnya.

Bila memang benar dalam laporan pertanggungjawaban (LPJ) KONI Jember ke KONI Jatim wushu mendapatkan dana Rp 3.250.000, dia merasa aneh. Sebab, jika mengacu ke jumlah tersebut, maka ada selisih Rp 1,7 juta yang belum diberikan, atau lebih 50 persen. “Kalau memang benar laporannya seperti ini, maka dana lainnya ke mana? Berarti ada hak kami yang belum diterima,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Pusat Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Mujiono juga menuturkan hal serupa. Dia berkata, pihaknya menerima uang bantuan dari KONI Jember dan telah ditandatangani saat Porprov Jatim 2019 lalu. “Waktu itu, kalau tidak salah menerima uang Rp 750 ribu. Kalau tidak Rp 800 ribu,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sengkarut dana bantuan untuk atlet yang mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI 2019 lalu menguak fakta baru. Informasinya, dana transportasi yang seharusnya diberikan kepada atlet itu disunat hingga hampir 50 persen. Sejumlah pengurus cabang olahraga (cabor) pun bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang bermain dalam perkara lancung tersebut.

Sekretaris Umum Wushu Indonesia (WI) Jember Harianto mengakui, cabor wushu Jember di Porprov mendapatkan dana dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jember. “Pada waktu itu diberikan di Homestay Podomoro, Lamongan. Lokasi menginap atlet, pelatih, dan ofisial wushu,” jelasnya.

Dia masih ingat yang memberikan adalah Wakil Ketua KONI Jember Indi Naidha pada malam hari. Nilai totalnya, cabor wushu mendapatkan Rp 1.550.000. “Bilang membagikan uang saku. Setiap atlet dan ofisial serta pelatih seratus ribu rupiah. Juga ditambah Rp 250 ribu untuk keperluan operasional,” tuturnya.

Harianto masih ingat dana dari KONI Jember tersebut untuk uang saku, tapi disarankan untuk dibelikan vitamin atau kebutuhan lainnya bagi atlet. Namun, yang membubuhkan tanda tangan pada kuitansi uang tersebut bukan dirinya. Melainkan Lisa, ofisial wushu Jember. “Kalau saya tidak masuk pelatih dan ofisial. Berangkat ke Lamongan juga secara mandiri,” jelasnya.

Pada waktu menandatangani kuitansi tersebut, Harianto paham bahwa kuitansi itu kosong. Alasannya juga masuk akal, karena banyak yang harus diurus. Sementara untuk meterai, dirinya tidak begitu perhatian apakah tertera meterai atau tidak. “Saya lihat memang banyak kuitansi kosong dan telah ditandatangani,” terangnya.

Bila memang benar dalam laporan pertanggungjawaban (LPJ) KONI Jember ke KONI Jatim wushu mendapatkan dana Rp 3.250.000, dia merasa aneh. Sebab, jika mengacu ke jumlah tersebut, maka ada selisih Rp 1,7 juta yang belum diberikan, atau lebih 50 persen. “Kalau memang benar laporannya seperti ini, maka dana lainnya ke mana? Berarti ada hak kami yang belum diterima,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Pusat Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Mujiono juga menuturkan hal serupa. Dia berkata, pihaknya menerima uang bantuan dari KONI Jember dan telah ditandatangani saat Porprov Jatim 2019 lalu. “Waktu itu, kalau tidak salah menerima uang Rp 750 ribu. Kalau tidak Rp 800 ribu,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/