alexametrics
26.5 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Bagi Waktu antara KKN dan Bertanding di Kejuaraan Dunia

Perjuangan di jalur akademis dan fokus di olahraga pencak silat akhirnya membuahkan hasil. Tak sia-sia, Veren Yuliana Saputri membagi konsentrasinya antara KKN dan persiapan ikut Kejuaraan Dunia. Hasilnya, mahasiswi Unej ini berhasil menyabet medali perunggu dalam event bergengsi tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 1

Namun, Veren bisa sedikit lega. Sebab, gadis asal Kecamatan Kencong ini mendapatkan izin untuk mengikuti TC. “Alhamdulilah, saya akrab sama perangkat desa dan dosen DPL juga. Didukung ada surat dispensasi dari pengurus Jatim. Jadi, setiap Sabtu-Minggu saya izin TC. Tapi TC-nya di Jember,” katanya.

Waktu itu, pembagian TC pencak silat tim Jawa Timur dibagi menjadi dua. Zona 1 di Sidoarjo dan zona 2 di Jember. Masa KKN-nya pun berakhir tanggal 24 Agustus 2019. Setelah itu, tanggal 26 Agustus dirinya langsung diwajibkan berangkat ke Mojokerto, untuk mengikuti camp selama seminggu dengan tim pencak silat Jatim sebelum bertolak menuju Solo.

“Tanggal 24 dari Bondowoso ke Jember. Tanggal 25 saya sempetin pulang ke Kencong untuk pamit keluarga. Sorenya balik ke Jember karena malamnya harus berangkat bersama-sama ke Mojokerto,” lanjut Veren. Kendati demikian, Veren tetap fokus seratus persen mengerahkan mental dan tenaganya untuk kejurdun kali ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kebetulan saya satu pool dengan atlet-atlet yang sudah terlatih. Di perempat final saya bertemu atlet Jateng, anak PPLP yang sudah berkali-kali juara. Di semifinal bertemu anak Puslatda Sulawesi Selatan, murid dari abang Abbas, pelatih pelatnas,” beber Veren.

Meski lawan yang dihadapinya cukup berat, Veren akhirnya berhasil menggondol satu medali perunggu di kategori tanding sport class C female. Anak dari pasangan Kamsidi dan Masfufah ini bersyukur memiliki pelatih dan orang-orang yang selalu mendukung serta mendoakannya. Mulai dari pelatih tim cabang, pelatih universitas, dan pelatih di tim Jatim. Dia mengaku, doa dari rekan-rekannya juga memberi kekuatan mental tersendiri. “Motivasi mereka sangat berpengaruh. Saya tidak mau mengecewakan kepercayaan. Saya sudah ikhtiar, ya ini hasil yang terbaik,” pungkasnya.

- Advertisement -

Namun, Veren bisa sedikit lega. Sebab, gadis asal Kecamatan Kencong ini mendapatkan izin untuk mengikuti TC. “Alhamdulilah, saya akrab sama perangkat desa dan dosen DPL juga. Didukung ada surat dispensasi dari pengurus Jatim. Jadi, setiap Sabtu-Minggu saya izin TC. Tapi TC-nya di Jember,” katanya.

Waktu itu, pembagian TC pencak silat tim Jawa Timur dibagi menjadi dua. Zona 1 di Sidoarjo dan zona 2 di Jember. Masa KKN-nya pun berakhir tanggal 24 Agustus 2019. Setelah itu, tanggal 26 Agustus dirinya langsung diwajibkan berangkat ke Mojokerto, untuk mengikuti camp selama seminggu dengan tim pencak silat Jatim sebelum bertolak menuju Solo.

“Tanggal 24 dari Bondowoso ke Jember. Tanggal 25 saya sempetin pulang ke Kencong untuk pamit keluarga. Sorenya balik ke Jember karena malamnya harus berangkat bersama-sama ke Mojokerto,” lanjut Veren. Kendati demikian, Veren tetap fokus seratus persen mengerahkan mental dan tenaganya untuk kejurdun kali ini.

“Kebetulan saya satu pool dengan atlet-atlet yang sudah terlatih. Di perempat final saya bertemu atlet Jateng, anak PPLP yang sudah berkali-kali juara. Di semifinal bertemu anak Puslatda Sulawesi Selatan, murid dari abang Abbas, pelatih pelatnas,” beber Veren.

Meski lawan yang dihadapinya cukup berat, Veren akhirnya berhasil menggondol satu medali perunggu di kategori tanding sport class C female. Anak dari pasangan Kamsidi dan Masfufah ini bersyukur memiliki pelatih dan orang-orang yang selalu mendukung serta mendoakannya. Mulai dari pelatih tim cabang, pelatih universitas, dan pelatih di tim Jatim. Dia mengaku, doa dari rekan-rekannya juga memberi kekuatan mental tersendiri. “Motivasi mereka sangat berpengaruh. Saya tidak mau mengecewakan kepercayaan. Saya sudah ikhtiar, ya ini hasil yang terbaik,” pungkasnya.

Namun, Veren bisa sedikit lega. Sebab, gadis asal Kecamatan Kencong ini mendapatkan izin untuk mengikuti TC. “Alhamdulilah, saya akrab sama perangkat desa dan dosen DPL juga. Didukung ada surat dispensasi dari pengurus Jatim. Jadi, setiap Sabtu-Minggu saya izin TC. Tapi TC-nya di Jember,” katanya.

Waktu itu, pembagian TC pencak silat tim Jawa Timur dibagi menjadi dua. Zona 1 di Sidoarjo dan zona 2 di Jember. Masa KKN-nya pun berakhir tanggal 24 Agustus 2019. Setelah itu, tanggal 26 Agustus dirinya langsung diwajibkan berangkat ke Mojokerto, untuk mengikuti camp selama seminggu dengan tim pencak silat Jatim sebelum bertolak menuju Solo.

“Tanggal 24 dari Bondowoso ke Jember. Tanggal 25 saya sempetin pulang ke Kencong untuk pamit keluarga. Sorenya balik ke Jember karena malamnya harus berangkat bersama-sama ke Mojokerto,” lanjut Veren. Kendati demikian, Veren tetap fokus seratus persen mengerahkan mental dan tenaganya untuk kejurdun kali ini.

“Kebetulan saya satu pool dengan atlet-atlet yang sudah terlatih. Di perempat final saya bertemu atlet Jateng, anak PPLP yang sudah berkali-kali juara. Di semifinal bertemu anak Puslatda Sulawesi Selatan, murid dari abang Abbas, pelatih pelatnas,” beber Veren.

Meski lawan yang dihadapinya cukup berat, Veren akhirnya berhasil menggondol satu medali perunggu di kategori tanding sport class C female. Anak dari pasangan Kamsidi dan Masfufah ini bersyukur memiliki pelatih dan orang-orang yang selalu mendukung serta mendoakannya. Mulai dari pelatih tim cabang, pelatih universitas, dan pelatih di tim Jatim. Dia mengaku, doa dari rekan-rekannya juga memberi kekuatan mental tersendiri. “Motivasi mereka sangat berpengaruh. Saya tidak mau mengecewakan kepercayaan. Saya sudah ikhtiar, ya ini hasil yang terbaik,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/