alexametrics
23.4 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Oh ini Guru di MAN 2 Jember yang Suka “Keluyuran”

Ingin Terus Menginspirasi meski Waktunya Habis di Luar Rumah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – SORE itu, di ruang resepsionis, perempuan 40 tahun itu masih berdiskusi dengan sejawatnya. Seusai mengajar, ia tak langsung pulang. Melainkan menyempatkan diri membahas berbagi hal dengan guru-guru lain. Mulai tentang proses pembelajaran yang berlangsung hingga masalah-masalah yang mendera siswanya.

Begitulah kebiasaan saban hari guru yang akrab disapa Isti itu di sekolah. “Kondisi siswa di sini masih mending jika dibandingkan dengan di pelosok,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Dia mengaku, satu dekade bertugas di sekolah pelosok, selama itu pula ia tak memiliki keinginan yang muluk-muluk untuk ikut kompetisi atau berkiprah di bidang lain. Padahal, Isti memiliki kemampuan dalam bidang tulis-menulis. “Dulu saya tidak kepikiran untuk ikut apa-apa,” ceritanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lalu, cara pandang itu pun berubah ketika ia pindah tugas di wilayah perkotaan. Isti semakin melihat bahwa kesempatan mengembangkan kemampuannya makin terbuka lebar. Dia pun mulai menjajal semua ajang kompetisi yang ada. Hingga terpilih menjadi tim pembuat soal Asesmen Nasional Bahasa Inggris. “Ada empat guru Bahasa Inggris yang ditunjuk untuk menjadi tim pembuat soal,” ungkapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – SORE itu, di ruang resepsionis, perempuan 40 tahun itu masih berdiskusi dengan sejawatnya. Seusai mengajar, ia tak langsung pulang. Melainkan menyempatkan diri membahas berbagi hal dengan guru-guru lain. Mulai tentang proses pembelajaran yang berlangsung hingga masalah-masalah yang mendera siswanya.

Begitulah kebiasaan saban hari guru yang akrab disapa Isti itu di sekolah. “Kondisi siswa di sini masih mending jika dibandingkan dengan di pelosok,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Dia mengaku, satu dekade bertugas di sekolah pelosok, selama itu pula ia tak memiliki keinginan yang muluk-muluk untuk ikut kompetisi atau berkiprah di bidang lain. Padahal, Isti memiliki kemampuan dalam bidang tulis-menulis. “Dulu saya tidak kepikiran untuk ikut apa-apa,” ceritanya.

Lalu, cara pandang itu pun berubah ketika ia pindah tugas di wilayah perkotaan. Isti semakin melihat bahwa kesempatan mengembangkan kemampuannya makin terbuka lebar. Dia pun mulai menjajal semua ajang kompetisi yang ada. Hingga terpilih menjadi tim pembuat soal Asesmen Nasional Bahasa Inggris. “Ada empat guru Bahasa Inggris yang ditunjuk untuk menjadi tim pembuat soal,” ungkapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – SORE itu, di ruang resepsionis, perempuan 40 tahun itu masih berdiskusi dengan sejawatnya. Seusai mengajar, ia tak langsung pulang. Melainkan menyempatkan diri membahas berbagi hal dengan guru-guru lain. Mulai tentang proses pembelajaran yang berlangsung hingga masalah-masalah yang mendera siswanya.

Begitulah kebiasaan saban hari guru yang akrab disapa Isti itu di sekolah. “Kondisi siswa di sini masih mending jika dibandingkan dengan di pelosok,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Dia mengaku, satu dekade bertugas di sekolah pelosok, selama itu pula ia tak memiliki keinginan yang muluk-muluk untuk ikut kompetisi atau berkiprah di bidang lain. Padahal, Isti memiliki kemampuan dalam bidang tulis-menulis. “Dulu saya tidak kepikiran untuk ikut apa-apa,” ceritanya.

Lalu, cara pandang itu pun berubah ketika ia pindah tugas di wilayah perkotaan. Isti semakin melihat bahwa kesempatan mengembangkan kemampuannya makin terbuka lebar. Dia pun mulai menjajal semua ajang kompetisi yang ada. Hingga terpilih menjadi tim pembuat soal Asesmen Nasional Bahasa Inggris. “Ada empat guru Bahasa Inggris yang ditunjuk untuk menjadi tim pembuat soal,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/