alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 10 August 2022

Kedelai Lokal Kalah Pamor

Mobile_AP_Rectangle 1

Produksi tahu, kualitas kedelai untuk mekar sangat dibutuhkan. Tapi sebaliknya, untuk produksi tempe tidak begitu mementingkan seperti itu. “Tapi produsen tempe masih pakai kedelai impor. Kedelai lokal hanya sebagai campuran,” katanya.

Perajin tempe tetap memilih kedelai impor. Alasanya adalah tidak cepat busuk. Menurut Soetriono, itu tidak tepat. “Cepat busuk atau tidak itu tergantung proses fermentasi. Proses fermentasi itu juga dilihat dari kualitas perajin tempe itu sendiri,” paparnya.

Tidak mampu bersaingnya kedelai lokal tentu saja berdampak pada minimnya petani dalam menanam kedelai. “Sejak 2009, luas lahan kedelai di Jatim adalah 264.779 hektare. Jumlah itu terus merosot hingga pada 2017 yang hanya 135.593 hektare,” terangnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut Soetriono, kebijakan pemerintah terkait kemandirian kedelai ini masih setengah-setengah. Sepengetahuan dia, beberapa daerah menerapkan kebijakan dengan bantuan bibit kedelai ke petani. Namun, setelah itu dibiarkan begitu saja. Tidak ada pendampingan untuk meningkatkan kualitas tanam.

Bahkan, juga tidak ada kepastian harga dan pembelian. Soetriono menyatakan, petani itu lebih memilih ada kepastian harga dan pembeli daripada diberi bantuan bibit. “Seharusnya seperti beras. Pemerintah ikut campur tangan dalam mengendalikan harga dan siap membeli bila stok berlebihan,” tuturnya.

Soetriono mengungkapkan, kedelai jauh lebih penting bila berbicara ketahanan pangan dibandingkan dengan jagung. Sebab, jagung orientasi terbanyaknya adalah untuk makanan ternak dan berhubungan dengan industri besar. Sementara kedelai dibutuhkan masyarakat kecil dan pelaku usaha mikro, kecil, menengah (UMKM).

Terlebih, dia berkata, kedelai juga membuat lahan pertanian lebih subur. Sebab, kedelai mampu mengikat nitrogen dalam tanah. “Jadi, kedelai ini bagus untuk sawah. Dua kali panen padi dan satu kali kedelai. Karena mampu membasmi hama dan menguntungkan tanaman padi selanjutnya,” pungkasnya.

- Advertisement -

Produksi tahu, kualitas kedelai untuk mekar sangat dibutuhkan. Tapi sebaliknya, untuk produksi tempe tidak begitu mementingkan seperti itu. “Tapi produsen tempe masih pakai kedelai impor. Kedelai lokal hanya sebagai campuran,” katanya.

Perajin tempe tetap memilih kedelai impor. Alasanya adalah tidak cepat busuk. Menurut Soetriono, itu tidak tepat. “Cepat busuk atau tidak itu tergantung proses fermentasi. Proses fermentasi itu juga dilihat dari kualitas perajin tempe itu sendiri,” paparnya.

Tidak mampu bersaingnya kedelai lokal tentu saja berdampak pada minimnya petani dalam menanam kedelai. “Sejak 2009, luas lahan kedelai di Jatim adalah 264.779 hektare. Jumlah itu terus merosot hingga pada 2017 yang hanya 135.593 hektare,” terangnya.

Menurut Soetriono, kebijakan pemerintah terkait kemandirian kedelai ini masih setengah-setengah. Sepengetahuan dia, beberapa daerah menerapkan kebijakan dengan bantuan bibit kedelai ke petani. Namun, setelah itu dibiarkan begitu saja. Tidak ada pendampingan untuk meningkatkan kualitas tanam.

Bahkan, juga tidak ada kepastian harga dan pembelian. Soetriono menyatakan, petani itu lebih memilih ada kepastian harga dan pembeli daripada diberi bantuan bibit. “Seharusnya seperti beras. Pemerintah ikut campur tangan dalam mengendalikan harga dan siap membeli bila stok berlebihan,” tuturnya.

Soetriono mengungkapkan, kedelai jauh lebih penting bila berbicara ketahanan pangan dibandingkan dengan jagung. Sebab, jagung orientasi terbanyaknya adalah untuk makanan ternak dan berhubungan dengan industri besar. Sementara kedelai dibutuhkan masyarakat kecil dan pelaku usaha mikro, kecil, menengah (UMKM).

Terlebih, dia berkata, kedelai juga membuat lahan pertanian lebih subur. Sebab, kedelai mampu mengikat nitrogen dalam tanah. “Jadi, kedelai ini bagus untuk sawah. Dua kali panen padi dan satu kali kedelai. Karena mampu membasmi hama dan menguntungkan tanaman padi selanjutnya,” pungkasnya.

Produksi tahu, kualitas kedelai untuk mekar sangat dibutuhkan. Tapi sebaliknya, untuk produksi tempe tidak begitu mementingkan seperti itu. “Tapi produsen tempe masih pakai kedelai impor. Kedelai lokal hanya sebagai campuran,” katanya.

Perajin tempe tetap memilih kedelai impor. Alasanya adalah tidak cepat busuk. Menurut Soetriono, itu tidak tepat. “Cepat busuk atau tidak itu tergantung proses fermentasi. Proses fermentasi itu juga dilihat dari kualitas perajin tempe itu sendiri,” paparnya.

Tidak mampu bersaingnya kedelai lokal tentu saja berdampak pada minimnya petani dalam menanam kedelai. “Sejak 2009, luas lahan kedelai di Jatim adalah 264.779 hektare. Jumlah itu terus merosot hingga pada 2017 yang hanya 135.593 hektare,” terangnya.

Menurut Soetriono, kebijakan pemerintah terkait kemandirian kedelai ini masih setengah-setengah. Sepengetahuan dia, beberapa daerah menerapkan kebijakan dengan bantuan bibit kedelai ke petani. Namun, setelah itu dibiarkan begitu saja. Tidak ada pendampingan untuk meningkatkan kualitas tanam.

Bahkan, juga tidak ada kepastian harga dan pembelian. Soetriono menyatakan, petani itu lebih memilih ada kepastian harga dan pembeli daripada diberi bantuan bibit. “Seharusnya seperti beras. Pemerintah ikut campur tangan dalam mengendalikan harga dan siap membeli bila stok berlebihan,” tuturnya.

Soetriono mengungkapkan, kedelai jauh lebih penting bila berbicara ketahanan pangan dibandingkan dengan jagung. Sebab, jagung orientasi terbanyaknya adalah untuk makanan ternak dan berhubungan dengan industri besar. Sementara kedelai dibutuhkan masyarakat kecil dan pelaku usaha mikro, kecil, menengah (UMKM).

Terlebih, dia berkata, kedelai juga membuat lahan pertanian lebih subur. Sebab, kedelai mampu mengikat nitrogen dalam tanah. “Jadi, kedelai ini bagus untuk sawah. Dua kali panen padi dan satu kali kedelai. Karena mampu membasmi hama dan menguntungkan tanaman padi selanjutnya,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/