alexametrics
27.8 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Kedelai Lokal Kalah Pamor

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID -Sendari dulu, para perajin tahu dan tempe di Jember memang masih bergantung pada kedelai impor. Sebab, kualitasnya dianggap memiliki nilai plus. Tak hanya rasa, aroma, dan daya tahannya yang unggul, bahan kedelai impor juga bisa membikin produk olahannya mekar. Sehingga dinilai lebih efisien dan menguntungkan.

Petani yang memproduksi kedelai lokal pun hanya bisa gigit jari. Apalagi secara kuantitas dan kualitas kalah. Kedelai lokal kalah pamor meski di kampung sendiri. Problem ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Namun, tidak ada upaya dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah itu. Pemerintah juga tak pernah merumuskan kebijakan afirmatif bidang pertanian yang bertujuan meningkatkan nilai jual tanaman kedelai petani lokal.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor kedelai Indonesia sepanjang semester pertama 2020 mencapai 1,27 juta ton atau senilai 510,2 juta USD. Bila kurs rupiah setara Rp 14.700 per USD, maka nilainya sekitar Rp 7,52 triliun.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, posisi kedelai lokal di Jember, berdasarkan Jember Dalam Angka 2019 yang dirilis BPS Jember, tak berbanding lurus dengan kebutuhan pasar. Luas panen dalam setahun hanya 5.125 hektare (ha). Sedangkan total produksinya di angka 12.521 kuintal. Bahkan, dari 31 kecamatan di Jember, hanya petani di 15 kecamatan yang memproduksi kedelai.

Belasan kecamatan itu berada di wilayah Jember selatan dan barat. Seperti Puger, Wuluhan, Ambulu, Tempurejo, Jenggawah, Ajung, Rambipuji, dan Balung. Selain itu, di Kecamatan Kencong, Umbulsari, Semboro, Jombang, Sumberbaru, Tanggul, dan Bangsalsari.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jember Prof Soetriono mengatakan, kebutuhan dalam negeri untuk kedelai dari dulu tetap tidak bisa mandiri. Artinya, masih mengandalkan produksi kedelai luar negeri. “Kedelai dalam negeri itu hanya mencukupi 25-35 persen kebutuhan. Sisanya impor,” tuturnya.

Bahkan, kata dia, impor kedelai juga terus bertambah. Yaitu pada 2014 saja ada 596,75 juta ton, sedangkan pada 2017 meningkat 882,93 juta ton dengan perkiraan harga impor mencapai 378,41 juta USD. Soetriono menambahkan, produktivitas kedelai juga tergolong rendah, yaitu 1,7 ton per ha.

Dia yang juga melakukan penelitian di tiga kabupaten yang memiliki produksi tinggi tempe dan tahu, yaitu Malang, Kediri, dan Banyuwangi, posisi agroindustrinya juga tetap menggantungkan impor dari luar. Selain kuantitas kedelai lokal rendah, kualitasnya juga tidak disukai perajin tahu tempe. “Perajin memilih kedelai impor karena lebih mekar,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID -Sendari dulu, para perajin tahu dan tempe di Jember memang masih bergantung pada kedelai impor. Sebab, kualitasnya dianggap memiliki nilai plus. Tak hanya rasa, aroma, dan daya tahannya yang unggul, bahan kedelai impor juga bisa membikin produk olahannya mekar. Sehingga dinilai lebih efisien dan menguntungkan.

Petani yang memproduksi kedelai lokal pun hanya bisa gigit jari. Apalagi secara kuantitas dan kualitas kalah. Kedelai lokal kalah pamor meski di kampung sendiri. Problem ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Namun, tidak ada upaya dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah itu. Pemerintah juga tak pernah merumuskan kebijakan afirmatif bidang pertanian yang bertujuan meningkatkan nilai jual tanaman kedelai petani lokal.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor kedelai Indonesia sepanjang semester pertama 2020 mencapai 1,27 juta ton atau senilai 510,2 juta USD. Bila kurs rupiah setara Rp 14.700 per USD, maka nilainya sekitar Rp 7,52 triliun.

Sementara itu, posisi kedelai lokal di Jember, berdasarkan Jember Dalam Angka 2019 yang dirilis BPS Jember, tak berbanding lurus dengan kebutuhan pasar. Luas panen dalam setahun hanya 5.125 hektare (ha). Sedangkan total produksinya di angka 12.521 kuintal. Bahkan, dari 31 kecamatan di Jember, hanya petani di 15 kecamatan yang memproduksi kedelai.

Belasan kecamatan itu berada di wilayah Jember selatan dan barat. Seperti Puger, Wuluhan, Ambulu, Tempurejo, Jenggawah, Ajung, Rambipuji, dan Balung. Selain itu, di Kecamatan Kencong, Umbulsari, Semboro, Jombang, Sumberbaru, Tanggul, dan Bangsalsari.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jember Prof Soetriono mengatakan, kebutuhan dalam negeri untuk kedelai dari dulu tetap tidak bisa mandiri. Artinya, masih mengandalkan produksi kedelai luar negeri. “Kedelai dalam negeri itu hanya mencukupi 25-35 persen kebutuhan. Sisanya impor,” tuturnya.

Bahkan, kata dia, impor kedelai juga terus bertambah. Yaitu pada 2014 saja ada 596,75 juta ton, sedangkan pada 2017 meningkat 882,93 juta ton dengan perkiraan harga impor mencapai 378,41 juta USD. Soetriono menambahkan, produktivitas kedelai juga tergolong rendah, yaitu 1,7 ton per ha.

Dia yang juga melakukan penelitian di tiga kabupaten yang memiliki produksi tinggi tempe dan tahu, yaitu Malang, Kediri, dan Banyuwangi, posisi agroindustrinya juga tetap menggantungkan impor dari luar. Selain kuantitas kedelai lokal rendah, kualitasnya juga tidak disukai perajin tahu tempe. “Perajin memilih kedelai impor karena lebih mekar,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID -Sendari dulu, para perajin tahu dan tempe di Jember memang masih bergantung pada kedelai impor. Sebab, kualitasnya dianggap memiliki nilai plus. Tak hanya rasa, aroma, dan daya tahannya yang unggul, bahan kedelai impor juga bisa membikin produk olahannya mekar. Sehingga dinilai lebih efisien dan menguntungkan.

Petani yang memproduksi kedelai lokal pun hanya bisa gigit jari. Apalagi secara kuantitas dan kualitas kalah. Kedelai lokal kalah pamor meski di kampung sendiri. Problem ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Namun, tidak ada upaya dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah itu. Pemerintah juga tak pernah merumuskan kebijakan afirmatif bidang pertanian yang bertujuan meningkatkan nilai jual tanaman kedelai petani lokal.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor kedelai Indonesia sepanjang semester pertama 2020 mencapai 1,27 juta ton atau senilai 510,2 juta USD. Bila kurs rupiah setara Rp 14.700 per USD, maka nilainya sekitar Rp 7,52 triliun.

Sementara itu, posisi kedelai lokal di Jember, berdasarkan Jember Dalam Angka 2019 yang dirilis BPS Jember, tak berbanding lurus dengan kebutuhan pasar. Luas panen dalam setahun hanya 5.125 hektare (ha). Sedangkan total produksinya di angka 12.521 kuintal. Bahkan, dari 31 kecamatan di Jember, hanya petani di 15 kecamatan yang memproduksi kedelai.

Belasan kecamatan itu berada di wilayah Jember selatan dan barat. Seperti Puger, Wuluhan, Ambulu, Tempurejo, Jenggawah, Ajung, Rambipuji, dan Balung. Selain itu, di Kecamatan Kencong, Umbulsari, Semboro, Jombang, Sumberbaru, Tanggul, dan Bangsalsari.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jember Prof Soetriono mengatakan, kebutuhan dalam negeri untuk kedelai dari dulu tetap tidak bisa mandiri. Artinya, masih mengandalkan produksi kedelai luar negeri. “Kedelai dalam negeri itu hanya mencukupi 25-35 persen kebutuhan. Sisanya impor,” tuturnya.

Bahkan, kata dia, impor kedelai juga terus bertambah. Yaitu pada 2014 saja ada 596,75 juta ton, sedangkan pada 2017 meningkat 882,93 juta ton dengan perkiraan harga impor mencapai 378,41 juta USD. Soetriono menambahkan, produktivitas kedelai juga tergolong rendah, yaitu 1,7 ton per ha.

Dia yang juga melakukan penelitian di tiga kabupaten yang memiliki produksi tinggi tempe dan tahu, yaitu Malang, Kediri, dan Banyuwangi, posisi agroindustrinya juga tetap menggantungkan impor dari luar. Selain kuantitas kedelai lokal rendah, kualitasnya juga tidak disukai perajin tahu tempe. “Perajin memilih kedelai impor karena lebih mekar,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/