alexametrics
31.8 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Jumlah Warga Miskin Makin Bertambah

Naik 0,84 Persen, Setara 21,42 Ribu Jiwa

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dampak ekonomi akibat pandemi mengakibatkan jumlah warga miskin di Jember semakin bertambah. Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Jember menunjukkan, persentase penduduk miskin 2020 naik sebesar 0,84 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2019, persentase jumlah penduduk miskin 9,25 persen dan meningkat menjadi 10,09 persen.

Kepala BPS Jember Arif Joko Sutejo menyebutkan, secara absolut jumlah penduduk miskin di Jember semula berjumlah 226,57 ribu jiwa pada 2019). Lalu, naik menjadi 247,99 ribu jiwa pada 2020, atau ada penambahan sebanyak 21,42 ribu jiwa pada 2020.

Peningkatan jumlah warga miskin tersebut merupakan kali kedua dalam satu dekade terakhir. Mulai 2010 hingga 2020, tercatat angka kemiskinan terus melandai setiap tahun. Kecuali pada 2017 yang naik 0,03 persen dan pada 2020 yang mencapai 0,84 persen. Lalu, apa yang menyebabkan kenaikan angka kemiskinan cukup signifikan?

Mobile_AP_Rectangle 2

“Saya kira kenaikan angka kemiskinan ini ditengarai gejala yang sama dan terjadi di nasional, bahkan internasional. Yakni, karena pandemi Covid-19,” tutur Dr Agus Lutfi, Dosen Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej).

Dalam mengentaskan angka kemiskinan, lanjutnya, memang sudah ada kebijakan-kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Salah satunya, pemberian berbagai bantuan yang digelontorkan kepada masyarakat selama pandemi. Namun, upaya itu dinilainya tak mampu mengentaskan warga miskin, karena sifatnya hanya sementara. Meski begitu, kata dia, langkah tersebut cukup efektif mengurangi indeks kedalaman dan keparahan angka kemiskinan.

Selain itu, akademisi kelahiran Mei 1965 ini menyatakan, bantuan itu memiliki dua fungsi. Berdasar aspek ekonomi, bantuan-bantuan itu bisa menggerakkan ekonomi dengan meningkatkan daya beli masyarakat. Mengingat, sektor usaha akan bergerak jika daya beli juga bergerak. “Jadi, bukan produsennya yang dibantu, melainkan konsumennya,” lanjutnya.

Kedua, dia menjelaskan, untuk mengatasi kemiskinan. Seandainya tak ada program-program itu, dia memperkirakan angka kemiskinan tak hanya naik sebesar 0,84 persen, tapi bisa melebihi angka itu. Mengatasi peningkatan angka kemiskinan yang disebabkan oleh pandemi ini, Agus menuturkan, pemerintah tak cukup hanya menggelontorkan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Karena sifatnya hanya jangka pendek. “Habis uangnya, ya miskin lagi,” imbuhnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dampak ekonomi akibat pandemi mengakibatkan jumlah warga miskin di Jember semakin bertambah. Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Jember menunjukkan, persentase penduduk miskin 2020 naik sebesar 0,84 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2019, persentase jumlah penduduk miskin 9,25 persen dan meningkat menjadi 10,09 persen.

Kepala BPS Jember Arif Joko Sutejo menyebutkan, secara absolut jumlah penduduk miskin di Jember semula berjumlah 226,57 ribu jiwa pada 2019). Lalu, naik menjadi 247,99 ribu jiwa pada 2020, atau ada penambahan sebanyak 21,42 ribu jiwa pada 2020.

Peningkatan jumlah warga miskin tersebut merupakan kali kedua dalam satu dekade terakhir. Mulai 2010 hingga 2020, tercatat angka kemiskinan terus melandai setiap tahun. Kecuali pada 2017 yang naik 0,03 persen dan pada 2020 yang mencapai 0,84 persen. Lalu, apa yang menyebabkan kenaikan angka kemiskinan cukup signifikan?

“Saya kira kenaikan angka kemiskinan ini ditengarai gejala yang sama dan terjadi di nasional, bahkan internasional. Yakni, karena pandemi Covid-19,” tutur Dr Agus Lutfi, Dosen Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej).

Dalam mengentaskan angka kemiskinan, lanjutnya, memang sudah ada kebijakan-kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Salah satunya, pemberian berbagai bantuan yang digelontorkan kepada masyarakat selama pandemi. Namun, upaya itu dinilainya tak mampu mengentaskan warga miskin, karena sifatnya hanya sementara. Meski begitu, kata dia, langkah tersebut cukup efektif mengurangi indeks kedalaman dan keparahan angka kemiskinan.

Selain itu, akademisi kelahiran Mei 1965 ini menyatakan, bantuan itu memiliki dua fungsi. Berdasar aspek ekonomi, bantuan-bantuan itu bisa menggerakkan ekonomi dengan meningkatkan daya beli masyarakat. Mengingat, sektor usaha akan bergerak jika daya beli juga bergerak. “Jadi, bukan produsennya yang dibantu, melainkan konsumennya,” lanjutnya.

Kedua, dia menjelaskan, untuk mengatasi kemiskinan. Seandainya tak ada program-program itu, dia memperkirakan angka kemiskinan tak hanya naik sebesar 0,84 persen, tapi bisa melebihi angka itu. Mengatasi peningkatan angka kemiskinan yang disebabkan oleh pandemi ini, Agus menuturkan, pemerintah tak cukup hanya menggelontorkan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Karena sifatnya hanya jangka pendek. “Habis uangnya, ya miskin lagi,” imbuhnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dampak ekonomi akibat pandemi mengakibatkan jumlah warga miskin di Jember semakin bertambah. Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Jember menunjukkan, persentase penduduk miskin 2020 naik sebesar 0,84 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2019, persentase jumlah penduduk miskin 9,25 persen dan meningkat menjadi 10,09 persen.

Kepala BPS Jember Arif Joko Sutejo menyebutkan, secara absolut jumlah penduduk miskin di Jember semula berjumlah 226,57 ribu jiwa pada 2019). Lalu, naik menjadi 247,99 ribu jiwa pada 2020, atau ada penambahan sebanyak 21,42 ribu jiwa pada 2020.

Peningkatan jumlah warga miskin tersebut merupakan kali kedua dalam satu dekade terakhir. Mulai 2010 hingga 2020, tercatat angka kemiskinan terus melandai setiap tahun. Kecuali pada 2017 yang naik 0,03 persen dan pada 2020 yang mencapai 0,84 persen. Lalu, apa yang menyebabkan kenaikan angka kemiskinan cukup signifikan?

“Saya kira kenaikan angka kemiskinan ini ditengarai gejala yang sama dan terjadi di nasional, bahkan internasional. Yakni, karena pandemi Covid-19,” tutur Dr Agus Lutfi, Dosen Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej).

Dalam mengentaskan angka kemiskinan, lanjutnya, memang sudah ada kebijakan-kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Salah satunya, pemberian berbagai bantuan yang digelontorkan kepada masyarakat selama pandemi. Namun, upaya itu dinilainya tak mampu mengentaskan warga miskin, karena sifatnya hanya sementara. Meski begitu, kata dia, langkah tersebut cukup efektif mengurangi indeks kedalaman dan keparahan angka kemiskinan.

Selain itu, akademisi kelahiran Mei 1965 ini menyatakan, bantuan itu memiliki dua fungsi. Berdasar aspek ekonomi, bantuan-bantuan itu bisa menggerakkan ekonomi dengan meningkatkan daya beli masyarakat. Mengingat, sektor usaha akan bergerak jika daya beli juga bergerak. “Jadi, bukan produsennya yang dibantu, melainkan konsumennya,” lanjutnya.

Kedua, dia menjelaskan, untuk mengatasi kemiskinan. Seandainya tak ada program-program itu, dia memperkirakan angka kemiskinan tak hanya naik sebesar 0,84 persen, tapi bisa melebihi angka itu. Mengatasi peningkatan angka kemiskinan yang disebabkan oleh pandemi ini, Agus menuturkan, pemerintah tak cukup hanya menggelontorkan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Karena sifatnya hanya jangka pendek. “Habis uangnya, ya miskin lagi,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/