alexametrics
21.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Blended Learning, Sudahkah Efektif?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pada semester genap ini banyak perubahan yang terjadi. Keputusan untuk membuka pembelajaran secara luring atau offline pun terpaksa dibatalkan. Musababnya, pemerintah belum siap untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka seiring dengan meningkatnya jumlah pasien Covid-19.

Beberapa sekolah di Jember pun masih menerapkan sistem pembelajaran daring. Sebagian lagi menerapkan sistem pembelajaran dengan metode blended. Sistem tatap muka hanya dilakukan oleh lembaga di bawah yayasan pesantren. Sementara itu, beberapa sekolah di perdesaan masih banyak yang melakukan pembelajaran melalui daring.

Salah satunya adalah SDN Wonsari 1. Salah satu guru sekolah tersebut, Ikawati, menyebut bahwa di semester genap ini pembelajaran dilakukan melalui daring. Padahal sebelumnya, anak-anak dan wali murid berharap untuk bisa melakukan pembelajaran secara tatap muka. “Kami umumkan, pembelajaran tetap akan dilakukan secara daring. Anak-anak mintanya cepat dilakukan secara tatap muka,” ungkap Ikawati, Selasa (5/1).

Mobile_AP_Rectangle 2

Akademisi Universitas Jember, Prof Dafik, menilai bahwa sistem pembelajaran blended masih belum familier untuk diterapkan di beberapa lembaga pendidikan. Berbeda dengan lembaga pendidikan tingkat perguruan tinggi. Sebab, di tingkatan tersebut literasi dan sistem informasi sudah berlangsung cukup baik.

Menurut dia, selama ini siswa sekolah telah melakukan pembelajaran melalui tiga model. Yakni, melalui medium televisi, melalui daring, dan melalui luring. Menurutnya, model ini adalah sebuah konseptual pendidikan. “Artinya, pembelajaran kombinasi daring dan luring, upaya ideal untuk menjangkau banyak lapisan,” ungkap Dafik.

Dafik menilai, seyogianya pembelajaran daring maupun blended memiliki kendala yang nyata. Salah satunya adalah berupa sambungan internet yang tidak cukup menjawab kebutuhan. Tidak sedikit sekolah yang mengalami keluhan berupa sulitnya jaringan dan keterbatasan akses.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pada semester genap ini banyak perubahan yang terjadi. Keputusan untuk membuka pembelajaran secara luring atau offline pun terpaksa dibatalkan. Musababnya, pemerintah belum siap untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka seiring dengan meningkatnya jumlah pasien Covid-19.

Beberapa sekolah di Jember pun masih menerapkan sistem pembelajaran daring. Sebagian lagi menerapkan sistem pembelajaran dengan metode blended. Sistem tatap muka hanya dilakukan oleh lembaga di bawah yayasan pesantren. Sementara itu, beberapa sekolah di perdesaan masih banyak yang melakukan pembelajaran melalui daring.

Salah satunya adalah SDN Wonsari 1. Salah satu guru sekolah tersebut, Ikawati, menyebut bahwa di semester genap ini pembelajaran dilakukan melalui daring. Padahal sebelumnya, anak-anak dan wali murid berharap untuk bisa melakukan pembelajaran secara tatap muka. “Kami umumkan, pembelajaran tetap akan dilakukan secara daring. Anak-anak mintanya cepat dilakukan secara tatap muka,” ungkap Ikawati, Selasa (5/1).

Akademisi Universitas Jember, Prof Dafik, menilai bahwa sistem pembelajaran blended masih belum familier untuk diterapkan di beberapa lembaga pendidikan. Berbeda dengan lembaga pendidikan tingkat perguruan tinggi. Sebab, di tingkatan tersebut literasi dan sistem informasi sudah berlangsung cukup baik.

Menurut dia, selama ini siswa sekolah telah melakukan pembelajaran melalui tiga model. Yakni, melalui medium televisi, melalui daring, dan melalui luring. Menurutnya, model ini adalah sebuah konseptual pendidikan. “Artinya, pembelajaran kombinasi daring dan luring, upaya ideal untuk menjangkau banyak lapisan,” ungkap Dafik.

Dafik menilai, seyogianya pembelajaran daring maupun blended memiliki kendala yang nyata. Salah satunya adalah berupa sambungan internet yang tidak cukup menjawab kebutuhan. Tidak sedikit sekolah yang mengalami keluhan berupa sulitnya jaringan dan keterbatasan akses.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pada semester genap ini banyak perubahan yang terjadi. Keputusan untuk membuka pembelajaran secara luring atau offline pun terpaksa dibatalkan. Musababnya, pemerintah belum siap untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka seiring dengan meningkatnya jumlah pasien Covid-19.

Beberapa sekolah di Jember pun masih menerapkan sistem pembelajaran daring. Sebagian lagi menerapkan sistem pembelajaran dengan metode blended. Sistem tatap muka hanya dilakukan oleh lembaga di bawah yayasan pesantren. Sementara itu, beberapa sekolah di perdesaan masih banyak yang melakukan pembelajaran melalui daring.

Salah satunya adalah SDN Wonsari 1. Salah satu guru sekolah tersebut, Ikawati, menyebut bahwa di semester genap ini pembelajaran dilakukan melalui daring. Padahal sebelumnya, anak-anak dan wali murid berharap untuk bisa melakukan pembelajaran secara tatap muka. “Kami umumkan, pembelajaran tetap akan dilakukan secara daring. Anak-anak mintanya cepat dilakukan secara tatap muka,” ungkap Ikawati, Selasa (5/1).

Akademisi Universitas Jember, Prof Dafik, menilai bahwa sistem pembelajaran blended masih belum familier untuk diterapkan di beberapa lembaga pendidikan. Berbeda dengan lembaga pendidikan tingkat perguruan tinggi. Sebab, di tingkatan tersebut literasi dan sistem informasi sudah berlangsung cukup baik.

Menurut dia, selama ini siswa sekolah telah melakukan pembelajaran melalui tiga model. Yakni, melalui medium televisi, melalui daring, dan melalui luring. Menurutnya, model ini adalah sebuah konseptual pendidikan. “Artinya, pembelajaran kombinasi daring dan luring, upaya ideal untuk menjangkau banyak lapisan,” ungkap Dafik.

Dafik menilai, seyogianya pembelajaran daring maupun blended memiliki kendala yang nyata. Salah satunya adalah berupa sambungan internet yang tidak cukup menjawab kebutuhan. Tidak sedikit sekolah yang mengalami keluhan berupa sulitnya jaringan dan keterbatasan akses.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/