23.9 C
Jember
Friday, 3 February 2023

Penebangan Kayu di Kebun, Bukan Hutan Lindung

Mobile_AP_Rectangle 1

Sebab, selama puluhan tahun berlalu, mayoritas petani setempat belum mempunyai lahan sendiri. Lahan yang menganggur di Kebun Ketajek tidak dikelola oleh masyarakat, karena statusnya belum jelas. Bahkan, petani setempat hanya menjadi buruh kasar kepada pengelola lahan lainnya.

“Kami yang sudah tinggal di sini puluhan tahun banyak yang tidak punya hak mengelola lahan sendiri di Kebun Ketajek. Makanya dengan TORA ini, para petani mempunyai harapan besar untuk mempunyai hak yang jelas,” imbuhnya saat ditemui di rumahnya.

Sementara itu, Djamil, salah seorang petani yang juga bertani di Kebun Ketajek, membenarkan situasi yang sedang dialaminya. Dia bersama petani yang lain mengaku juga membersihkan lahan yang menganggur lama di Kebun Ketajek. Hal itu agar lahan tersebut dapat memberikan sumber penghasilan bagi petani setempat. “Kami membersihkan lahan tersebut, agar bisa dimanfaatkan oleh petani, dan itu bukan hutan lindung, itu termasuk dalam TORA,” timpalnya. (mun/c2/bud)

- Advertisement -

Sebab, selama puluhan tahun berlalu, mayoritas petani setempat belum mempunyai lahan sendiri. Lahan yang menganggur di Kebun Ketajek tidak dikelola oleh masyarakat, karena statusnya belum jelas. Bahkan, petani setempat hanya menjadi buruh kasar kepada pengelola lahan lainnya.

“Kami yang sudah tinggal di sini puluhan tahun banyak yang tidak punya hak mengelola lahan sendiri di Kebun Ketajek. Makanya dengan TORA ini, para petani mempunyai harapan besar untuk mempunyai hak yang jelas,” imbuhnya saat ditemui di rumahnya.

Sementara itu, Djamil, salah seorang petani yang juga bertani di Kebun Ketajek, membenarkan situasi yang sedang dialaminya. Dia bersama petani yang lain mengaku juga membersihkan lahan yang menganggur lama di Kebun Ketajek. Hal itu agar lahan tersebut dapat memberikan sumber penghasilan bagi petani setempat. “Kami membersihkan lahan tersebut, agar bisa dimanfaatkan oleh petani, dan itu bukan hutan lindung, itu termasuk dalam TORA,” timpalnya. (mun/c2/bud)

Sebab, selama puluhan tahun berlalu, mayoritas petani setempat belum mempunyai lahan sendiri. Lahan yang menganggur di Kebun Ketajek tidak dikelola oleh masyarakat, karena statusnya belum jelas. Bahkan, petani setempat hanya menjadi buruh kasar kepada pengelola lahan lainnya.

“Kami yang sudah tinggal di sini puluhan tahun banyak yang tidak punya hak mengelola lahan sendiri di Kebun Ketajek. Makanya dengan TORA ini, para petani mempunyai harapan besar untuk mempunyai hak yang jelas,” imbuhnya saat ditemui di rumahnya.

Sementara itu, Djamil, salah seorang petani yang juga bertani di Kebun Ketajek, membenarkan situasi yang sedang dialaminya. Dia bersama petani yang lain mengaku juga membersihkan lahan yang menganggur lama di Kebun Ketajek. Hal itu agar lahan tersebut dapat memberikan sumber penghasilan bagi petani setempat. “Kami membersihkan lahan tersebut, agar bisa dimanfaatkan oleh petani, dan itu bukan hutan lindung, itu termasuk dalam TORA,” timpalnya. (mun/c2/bud)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca