alexametrics
26.8 C
Jember
Thursday, 2 December 2021

Napi Asal Jember Ini Jadi Atensi Pusat

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – SEUSAI insiden penganiayaan, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham RI pada 28 September lalu memindahkan dan mengirim pelaku penganiayaan, Iwan atau IP, beserta perekam video, SA, ke Lapas High Risk Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Keduanya tiba sehari berikutnya, 29 September, sekitar pukul 11.30 siang. Plt Kalapas Kelas II A Jember Sarwito mengatakan, pemindahan itu langsung dieksekusi oleh pusat karena peristiwa penganiayaan itu diketahui dan terdengar oleh pusat.

Dia menjelaskan, kronologi penganiayaan tersebut persisnya terjadi pada 4 September. Saat itu, korban berinisial AM keluar dari kamarnya menuju kantin untuk membeli air minum. Kemudian, ia tiba-tiba ditarik oleh Iwan, lalu dibawa ke kamar mandi belakang masjid di dalam lapas. Di situlah pelaku mengeksekusi AM.

Berdasarkan identifikasi pihak lapas, motif dari pemukulan karena korban diisukan sebagai spionase polisi (SP) atau mata-mata polisi pada saat sebelum korban masuk ke lapas. Bukan karena korban tak membayar narkoba sebagaimana yang diberitakan oleh salah satu media daring sebelumnya. “Di dalam lapas itu agak riskan kalau ada orang diisukan sebagai SP. Seolah-olah, para napi masuk penjara karena peran SP ini,” terang Sarwito saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, kemarin (4/10).

Mobile_AP_Rectangle 2

Korban sendiri diketahui merupakan napi kasus pencurian dan penjambretan HP yang baru beberapa pekan masuk lapas. Sementara itu, pelakunya merupakan terpidana kasus pembunuhan dengan pidana 17 tahun. “Keduanya (korban dan pelaku, Red) sebenarnya tidak saling kenal. Tapi, karena diisukan sebagai SP itu, pelaku nekat,” sambungnya.

Lebih jauh, pria yang juga menjabat Kepala Lapas Bondowoso ini menjelaskan, sebenarnya pelaku selama menjalani masa pembinaan di lapas sudah dikenal tukang bikin onar dan meresahkan warga binaan lainnya. Bahkan, pelaku pernah hampir dimassa oleh napi di lapas karena ulahnya yang dinilai kelewat batas.

Karena itu, oleh pihak lapas pelaku IP sempat diusulkan dipindahkan ke Lapas Banyuwangi karena alasan tersebut. Namun, usulan itu tak kunjung ada kelanjutan, hingga kemudian aksi nekat pelaku pun berlanjut.

Sementara itu, mengenai temuan ponsel itu, kata Sarwito, diketahui milik pelaku. Menurut dia, pelaku sengaja menyuruh pria berinisial SA yang berperan merekam video aksi brutalnya dengan peran layaknya “Bang Jago” yang menghajar korban.

Namun, dia menepis anggapan bahwa handphone itu digunakan pelaku untuk berbisnis atau bertransaksi narkoba dari dalam lapas, seperti opini publik yang berkembang, beberapa hari terakhir. “Kejadian sebenarnya seperti itu. Karena korban diisukan SP. Mengenai rumor yang beredar bahwa ada transaksi narkoba, itu tidak benar,” bantahnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – SEUSAI insiden penganiayaan, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham RI pada 28 September lalu memindahkan dan mengirim pelaku penganiayaan, Iwan atau IP, beserta perekam video, SA, ke Lapas High Risk Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Keduanya tiba sehari berikutnya, 29 September, sekitar pukul 11.30 siang. Plt Kalapas Kelas II A Jember Sarwito mengatakan, pemindahan itu langsung dieksekusi oleh pusat karena peristiwa penganiayaan itu diketahui dan terdengar oleh pusat.

Dia menjelaskan, kronologi penganiayaan tersebut persisnya terjadi pada 4 September. Saat itu, korban berinisial AM keluar dari kamarnya menuju kantin untuk membeli air minum. Kemudian, ia tiba-tiba ditarik oleh Iwan, lalu dibawa ke kamar mandi belakang masjid di dalam lapas. Di situlah pelaku mengeksekusi AM.

Berdasarkan identifikasi pihak lapas, motif dari pemukulan karena korban diisukan sebagai spionase polisi (SP) atau mata-mata polisi pada saat sebelum korban masuk ke lapas. Bukan karena korban tak membayar narkoba sebagaimana yang diberitakan oleh salah satu media daring sebelumnya. “Di dalam lapas itu agak riskan kalau ada orang diisukan sebagai SP. Seolah-olah, para napi masuk penjara karena peran SP ini,” terang Sarwito saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, kemarin (4/10).

Korban sendiri diketahui merupakan napi kasus pencurian dan penjambretan HP yang baru beberapa pekan masuk lapas. Sementara itu, pelakunya merupakan terpidana kasus pembunuhan dengan pidana 17 tahun. “Keduanya (korban dan pelaku, Red) sebenarnya tidak saling kenal. Tapi, karena diisukan sebagai SP itu, pelaku nekat,” sambungnya.

Lebih jauh, pria yang juga menjabat Kepala Lapas Bondowoso ini menjelaskan, sebenarnya pelaku selama menjalani masa pembinaan di lapas sudah dikenal tukang bikin onar dan meresahkan warga binaan lainnya. Bahkan, pelaku pernah hampir dimassa oleh napi di lapas karena ulahnya yang dinilai kelewat batas.

Karena itu, oleh pihak lapas pelaku IP sempat diusulkan dipindahkan ke Lapas Banyuwangi karena alasan tersebut. Namun, usulan itu tak kunjung ada kelanjutan, hingga kemudian aksi nekat pelaku pun berlanjut.

Sementara itu, mengenai temuan ponsel itu, kata Sarwito, diketahui milik pelaku. Menurut dia, pelaku sengaja menyuruh pria berinisial SA yang berperan merekam video aksi brutalnya dengan peran layaknya “Bang Jago” yang menghajar korban.

Namun, dia menepis anggapan bahwa handphone itu digunakan pelaku untuk berbisnis atau bertransaksi narkoba dari dalam lapas, seperti opini publik yang berkembang, beberapa hari terakhir. “Kejadian sebenarnya seperti itu. Karena korban diisukan SP. Mengenai rumor yang beredar bahwa ada transaksi narkoba, itu tidak benar,” bantahnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – SEUSAI insiden penganiayaan, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham RI pada 28 September lalu memindahkan dan mengirim pelaku penganiayaan, Iwan atau IP, beserta perekam video, SA, ke Lapas High Risk Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Keduanya tiba sehari berikutnya, 29 September, sekitar pukul 11.30 siang. Plt Kalapas Kelas II A Jember Sarwito mengatakan, pemindahan itu langsung dieksekusi oleh pusat karena peristiwa penganiayaan itu diketahui dan terdengar oleh pusat.

Dia menjelaskan, kronologi penganiayaan tersebut persisnya terjadi pada 4 September. Saat itu, korban berinisial AM keluar dari kamarnya menuju kantin untuk membeli air minum. Kemudian, ia tiba-tiba ditarik oleh Iwan, lalu dibawa ke kamar mandi belakang masjid di dalam lapas. Di situlah pelaku mengeksekusi AM.

Berdasarkan identifikasi pihak lapas, motif dari pemukulan karena korban diisukan sebagai spionase polisi (SP) atau mata-mata polisi pada saat sebelum korban masuk ke lapas. Bukan karena korban tak membayar narkoba sebagaimana yang diberitakan oleh salah satu media daring sebelumnya. “Di dalam lapas itu agak riskan kalau ada orang diisukan sebagai SP. Seolah-olah, para napi masuk penjara karena peran SP ini,” terang Sarwito saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, kemarin (4/10).

Korban sendiri diketahui merupakan napi kasus pencurian dan penjambretan HP yang baru beberapa pekan masuk lapas. Sementara itu, pelakunya merupakan terpidana kasus pembunuhan dengan pidana 17 tahun. “Keduanya (korban dan pelaku, Red) sebenarnya tidak saling kenal. Tapi, karena diisukan sebagai SP itu, pelaku nekat,” sambungnya.

Lebih jauh, pria yang juga menjabat Kepala Lapas Bondowoso ini menjelaskan, sebenarnya pelaku selama menjalani masa pembinaan di lapas sudah dikenal tukang bikin onar dan meresahkan warga binaan lainnya. Bahkan, pelaku pernah hampir dimassa oleh napi di lapas karena ulahnya yang dinilai kelewat batas.

Karena itu, oleh pihak lapas pelaku IP sempat diusulkan dipindahkan ke Lapas Banyuwangi karena alasan tersebut. Namun, usulan itu tak kunjung ada kelanjutan, hingga kemudian aksi nekat pelaku pun berlanjut.

Sementara itu, mengenai temuan ponsel itu, kata Sarwito, diketahui milik pelaku. Menurut dia, pelaku sengaja menyuruh pria berinisial SA yang berperan merekam video aksi brutalnya dengan peran layaknya “Bang Jago” yang menghajar korban.

Namun, dia menepis anggapan bahwa handphone itu digunakan pelaku untuk berbisnis atau bertransaksi narkoba dari dalam lapas, seperti opini publik yang berkembang, beberapa hari terakhir. “Kejadian sebenarnya seperti itu. Karena korban diisukan SP. Mengenai rumor yang beredar bahwa ada transaksi narkoba, itu tidak benar,” bantahnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca