alexametrics
24.1 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Terkenal Kampung Maling dan Pengemis

Kini Bangkit lewat Seni

Mobile_AP_Rectangle 1

Sebenarnya, Cucuk berkata, pihaknya bersama warga pernah menjalin kerja sama dengan Dinas Sosial (Dinsos) Jember sekitar tahun 2006-2008 silam. Dia didapuk sebagai pendamping dalam program pengentasan kemiskinan itu. “Sebagai pendamping saja, untuk pemberdayaan para pengemis ini. Tetapi itu tidak mudah. Kembali lagi faktor SDM sangat berpengaruh,” ujarnya.

Selain faktor SDM, faktor kebiasaan atau pola hidup juga menjadi kunci. “Memang ada satu dua orang yang berubah. Mulai meninggalkan mengemis. Tapi itu hanya beberapa saja, yang lainnya masih pancet,” lanjutnya.

Dulu, kampungnya juga sering kebanjiran. Saluran drainase menjadi masalah utama di tengah padatnya rumah-rumah penduduk. Tapi sejak 2018 lalu, setelah drainasenya dikeruk, masalah kebanjiran itu teratasi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ternyata, Cucuk punya ide guna memberikan edukasi serta aktivitas bagi para tetangga dan generasi muda di lingkungannya. Agar terhindar dari kegiatan negatif, semacam mengemis dan tindakan kriminalitas, dia mengenalkan seni budaya ke mereka.

Cucuk menjadi salah satu pegiat seni di kampungnya. Seni jaranan dan reog. “Kesenian ini juga untuk mengurangi anak-anak menjadi pengemis. Melalui kesenian tradisi dan edukasi ini, harapannya dapat memutus mata rantai mengemis tersebut,” ungkapnya.

Kini, selain kerap menggelar latihan bersama, mereka juga sering menjalani pementasan jaranan. Kegiatan itu menjadi sarana positif untuk mengajak anak-anak dan remaja setempat bangkit dari spiral kemiskinan dan kriminalitas.

- Advertisement -

Sebenarnya, Cucuk berkata, pihaknya bersama warga pernah menjalin kerja sama dengan Dinas Sosial (Dinsos) Jember sekitar tahun 2006-2008 silam. Dia didapuk sebagai pendamping dalam program pengentasan kemiskinan itu. “Sebagai pendamping saja, untuk pemberdayaan para pengemis ini. Tetapi itu tidak mudah. Kembali lagi faktor SDM sangat berpengaruh,” ujarnya.

Selain faktor SDM, faktor kebiasaan atau pola hidup juga menjadi kunci. “Memang ada satu dua orang yang berubah. Mulai meninggalkan mengemis. Tapi itu hanya beberapa saja, yang lainnya masih pancet,” lanjutnya.

Dulu, kampungnya juga sering kebanjiran. Saluran drainase menjadi masalah utama di tengah padatnya rumah-rumah penduduk. Tapi sejak 2018 lalu, setelah drainasenya dikeruk, masalah kebanjiran itu teratasi.

Ternyata, Cucuk punya ide guna memberikan edukasi serta aktivitas bagi para tetangga dan generasi muda di lingkungannya. Agar terhindar dari kegiatan negatif, semacam mengemis dan tindakan kriminalitas, dia mengenalkan seni budaya ke mereka.

Cucuk menjadi salah satu pegiat seni di kampungnya. Seni jaranan dan reog. “Kesenian ini juga untuk mengurangi anak-anak menjadi pengemis. Melalui kesenian tradisi dan edukasi ini, harapannya dapat memutus mata rantai mengemis tersebut,” ungkapnya.

Kini, selain kerap menggelar latihan bersama, mereka juga sering menjalani pementasan jaranan. Kegiatan itu menjadi sarana positif untuk mengajak anak-anak dan remaja setempat bangkit dari spiral kemiskinan dan kriminalitas.

Sebenarnya, Cucuk berkata, pihaknya bersama warga pernah menjalin kerja sama dengan Dinas Sosial (Dinsos) Jember sekitar tahun 2006-2008 silam. Dia didapuk sebagai pendamping dalam program pengentasan kemiskinan itu. “Sebagai pendamping saja, untuk pemberdayaan para pengemis ini. Tetapi itu tidak mudah. Kembali lagi faktor SDM sangat berpengaruh,” ujarnya.

Selain faktor SDM, faktor kebiasaan atau pola hidup juga menjadi kunci. “Memang ada satu dua orang yang berubah. Mulai meninggalkan mengemis. Tapi itu hanya beberapa saja, yang lainnya masih pancet,” lanjutnya.

Dulu, kampungnya juga sering kebanjiran. Saluran drainase menjadi masalah utama di tengah padatnya rumah-rumah penduduk. Tapi sejak 2018 lalu, setelah drainasenya dikeruk, masalah kebanjiran itu teratasi.

Ternyata, Cucuk punya ide guna memberikan edukasi serta aktivitas bagi para tetangga dan generasi muda di lingkungannya. Agar terhindar dari kegiatan negatif, semacam mengemis dan tindakan kriminalitas, dia mengenalkan seni budaya ke mereka.

Cucuk menjadi salah satu pegiat seni di kampungnya. Seni jaranan dan reog. “Kesenian ini juga untuk mengurangi anak-anak menjadi pengemis. Melalui kesenian tradisi dan edukasi ini, harapannya dapat memutus mata rantai mengemis tersebut,” ungkapnya.

Kini, selain kerap menggelar latihan bersama, mereka juga sering menjalani pementasan jaranan. Kegiatan itu menjadi sarana positif untuk mengajak anak-anak dan remaja setempat bangkit dari spiral kemiskinan dan kriminalitas.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/