alexametrics
21.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Terkenal Kampung Maling dan Pengemis

Kini Bangkit lewat Seni

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Salah satu permukiman padat penduduk di tengah Kota Jember berada di Lingkungan Talangsari, Kelurahan Jember Kidul. Tepatnya di RT 1, 2, dan 3 RW 08. Dulu, kawasan ini dikenal sebagai kampung pengemis.

Sebenarnya, pekerjaan sehari-hari warganya beragam. Ada yang mengemis, memulung sampah, tukang becak, penjual cilok, atau kerja serabutan lainnya. Mereka tinggal di rumah-rumah berimpitan. Begitu sesak. Bahkan, gang-gang kecil hanya bisa dilewati satu kendaraan roda dua atau becak.

Rumah-rumah petak banyak dijumpai di sana. Dulunya, sekitar tahun 90-an sampai 2000-an awal, lingkungan tersebut sudah terkenal dengan julukan “Anak Asrama”. Apabila anak-anak kecil yang tinggal di sana pergi bermain ke kampung sebelah, sebutan itu otomatis tersemat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Rumah petak yang berdempetan layaknya asrama menjadi musabab munculnya julukan itu. Selain sebagai penanda kawasan, sebutan itu ternyata juga memiliki konotasi negatif. Anak Asrama identik dengan tindakan kriminalitas. Stigma ini berimbas terhadap kehidupan anak-anak.

“Jadi, dulu anak-anak ini distempel kalau main ke luar kampung sebagai anaknya maling. Karena memang dulu kriminalitas di sini cukup tinggi,” ujar Cucuk Sudaryanto, Ketua RW 08. Namun itu dulu. Kini, permukiman padat penduduk itu berangsur membaik. Banyak warganya yang menjauhi aksi kriminalitas.

Cucuk menceritakan, sekitar tahun 1997-an silam, ketika dirinya kali pertama menjadi warga Talangsari, situasinya cukup memprihatinkan. Beberapa anak ada yang putus sekolah. Biasanya mereka langsung berkerja. “Kebanyakan nyemir sepatu di Pasar Tanjung,” kenang pria berusia 48 tahun ini.

Kendati begitu, hingga kini masih ada kebiasaan miring warga setempat. Sebagian ada yang bekerja meminta-minta. Tapi hanya di momen Ramadan. Warga memanfaatkan momen bulan puasa itu dengan mengemis. “Tetap ada. Tapi hanya beberapa saja. Itu pun hanya momen Ramadan,” imbuh Cucuk.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Salah satu permukiman padat penduduk di tengah Kota Jember berada di Lingkungan Talangsari, Kelurahan Jember Kidul. Tepatnya di RT 1, 2, dan 3 RW 08. Dulu, kawasan ini dikenal sebagai kampung pengemis.

Sebenarnya, pekerjaan sehari-hari warganya beragam. Ada yang mengemis, memulung sampah, tukang becak, penjual cilok, atau kerja serabutan lainnya. Mereka tinggal di rumah-rumah berimpitan. Begitu sesak. Bahkan, gang-gang kecil hanya bisa dilewati satu kendaraan roda dua atau becak.

Rumah-rumah petak banyak dijumpai di sana. Dulunya, sekitar tahun 90-an sampai 2000-an awal, lingkungan tersebut sudah terkenal dengan julukan “Anak Asrama”. Apabila anak-anak kecil yang tinggal di sana pergi bermain ke kampung sebelah, sebutan itu otomatis tersemat.

Rumah petak yang berdempetan layaknya asrama menjadi musabab munculnya julukan itu. Selain sebagai penanda kawasan, sebutan itu ternyata juga memiliki konotasi negatif. Anak Asrama identik dengan tindakan kriminalitas. Stigma ini berimbas terhadap kehidupan anak-anak.

“Jadi, dulu anak-anak ini distempel kalau main ke luar kampung sebagai anaknya maling. Karena memang dulu kriminalitas di sini cukup tinggi,” ujar Cucuk Sudaryanto, Ketua RW 08. Namun itu dulu. Kini, permukiman padat penduduk itu berangsur membaik. Banyak warganya yang menjauhi aksi kriminalitas.

Cucuk menceritakan, sekitar tahun 1997-an silam, ketika dirinya kali pertama menjadi warga Talangsari, situasinya cukup memprihatinkan. Beberapa anak ada yang putus sekolah. Biasanya mereka langsung berkerja. “Kebanyakan nyemir sepatu di Pasar Tanjung,” kenang pria berusia 48 tahun ini.

Kendati begitu, hingga kini masih ada kebiasaan miring warga setempat. Sebagian ada yang bekerja meminta-minta. Tapi hanya di momen Ramadan. Warga memanfaatkan momen bulan puasa itu dengan mengemis. “Tetap ada. Tapi hanya beberapa saja. Itu pun hanya momen Ramadan,” imbuh Cucuk.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Salah satu permukiman padat penduduk di tengah Kota Jember berada di Lingkungan Talangsari, Kelurahan Jember Kidul. Tepatnya di RT 1, 2, dan 3 RW 08. Dulu, kawasan ini dikenal sebagai kampung pengemis.

Sebenarnya, pekerjaan sehari-hari warganya beragam. Ada yang mengemis, memulung sampah, tukang becak, penjual cilok, atau kerja serabutan lainnya. Mereka tinggal di rumah-rumah berimpitan. Begitu sesak. Bahkan, gang-gang kecil hanya bisa dilewati satu kendaraan roda dua atau becak.

Rumah-rumah petak banyak dijumpai di sana. Dulunya, sekitar tahun 90-an sampai 2000-an awal, lingkungan tersebut sudah terkenal dengan julukan “Anak Asrama”. Apabila anak-anak kecil yang tinggal di sana pergi bermain ke kampung sebelah, sebutan itu otomatis tersemat.

Rumah petak yang berdempetan layaknya asrama menjadi musabab munculnya julukan itu. Selain sebagai penanda kawasan, sebutan itu ternyata juga memiliki konotasi negatif. Anak Asrama identik dengan tindakan kriminalitas. Stigma ini berimbas terhadap kehidupan anak-anak.

“Jadi, dulu anak-anak ini distempel kalau main ke luar kampung sebagai anaknya maling. Karena memang dulu kriminalitas di sini cukup tinggi,” ujar Cucuk Sudaryanto, Ketua RW 08. Namun itu dulu. Kini, permukiman padat penduduk itu berangsur membaik. Banyak warganya yang menjauhi aksi kriminalitas.

Cucuk menceritakan, sekitar tahun 1997-an silam, ketika dirinya kali pertama menjadi warga Talangsari, situasinya cukup memprihatinkan. Beberapa anak ada yang putus sekolah. Biasanya mereka langsung berkerja. “Kebanyakan nyemir sepatu di Pasar Tanjung,” kenang pria berusia 48 tahun ini.

Kendati begitu, hingga kini masih ada kebiasaan miring warga setempat. Sebagian ada yang bekerja meminta-minta. Tapi hanya di momen Ramadan. Warga memanfaatkan momen bulan puasa itu dengan mengemis. “Tetap ada. Tapi hanya beberapa saja. Itu pun hanya momen Ramadan,” imbuh Cucuk.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/