alexametrics
30.1 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Masih Tak Tersentuh Pembangunan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Selalu ada dua wajah berbeda dari pembangunan kota. Di balik gedung nan megah, juga ada warga yang hidup di perkampungan kumuh dan kolong-kolong jembatan. Kelompok ini seperti terasing dari laju pembangunan yang kian bising. Bagaimana mereka menjalani kehidupannya? Dan apakah sudah terkaver program pemberdayaan?

DWI SISWANTO

Qotimah tergopong-gopoh ketika Jawa Pos Radar Jember mengunjungi rumahnya di bawah Jembatan Jarwo, Jalan Mastrip, Sumbersari. Perempuan 70 tahun itu segera meminta maaf. Hanya karena gubuk yang dia tempati masih berlantai tanah. Dan di beberapa sudut, juga tercium bau pesing. Cukup menyengat. “Monggo. Silakan masuk. Maaf kondisinya seperti ini,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Perempuan renta yang tinggal sebatang kara itu seolah mewakili kehidupan kaum papa di kawasan kota. Dia tinggal berdempetan dengan Kafe Kolong. Sebuah tempat nongkrong yang begitu populer di Jember. Bahkan, artis Ibu Kota asal Jember dan wisatawan luar daerah sering berkunjung di situ. Kala malam, di kafe tersebut nyaris tak ada kesedihan. Semua tampak gemerlap dan baik-baik saja.

Tapi itu hanya ada di malam hari. Ketika kehidupan anak muda begitu terasa. Live musik terkadang juga ada. Lantas bagaimana bila siang hari? Ternyata di kolong Jembatan Jarwo itu sepi. Seperti tidak ada kehidupan. Apalagi saat ini dua sekolah di atasnya, SDN Muhammadiyah dan SMA Muhammadiyah Jember, tidak ada kegiatan belajar mengajar akibat pandemi Covid-19.

Siang hari begitu berbeda. Antara kolong jembatan yang digunakan kafe dan yang dipakai rumah warga. Total ada empat kolong. Dua kolong di sisi selatan digunakan kafe, sementara dua kolong lainnya dipakai rumah warga. Setiap kolong, setidaknya ada empat rumah semi permanen yang saling berhadapan.

Masuk lorong rumah di bawah Jembatan Jarwo itu, ada tempat duduk dari bambu atau lencak. Setiap rumah dindingnya dari kayu. Juga ada atap dari genting dan asbes. Setiap pintu rumah tersebut tertutup rapat dan digembok. Awalnya menduga, penghuni rumah itu semua pergi bekerja. Tapi siapa sangka, saat mengetuk pintu satu-satu, tak ada yang menjawab salam. Tiga rumah tanpa penghuni dan hanya satu yang ada penunggunya. Yakni rumah Qotimah.

Selain masih berlantai tanah dan beraroma pesing, rumah setinggi antara 1,5-2 meter itu dindingnya juga mengandalkan tembok Jembatan Jarwo. Sementara, penerangannya cuma berasal dari lampu 5 watt. Jika malam, sudah bisa dibayangkan suasananya. Sudah tentu kontras dengan tetangga sebelah yang dipakai kafe. “Monggo duduk, Nak. Kursinya cuma kursi plastik,” kata Qotimah.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Selalu ada dua wajah berbeda dari pembangunan kota. Di balik gedung nan megah, juga ada warga yang hidup di perkampungan kumuh dan kolong-kolong jembatan. Kelompok ini seperti terasing dari laju pembangunan yang kian bising. Bagaimana mereka menjalani kehidupannya? Dan apakah sudah terkaver program pemberdayaan?

DWI SISWANTO

Qotimah tergopong-gopoh ketika Jawa Pos Radar Jember mengunjungi rumahnya di bawah Jembatan Jarwo, Jalan Mastrip, Sumbersari. Perempuan 70 tahun itu segera meminta maaf. Hanya karena gubuk yang dia tempati masih berlantai tanah. Dan di beberapa sudut, juga tercium bau pesing. Cukup menyengat. “Monggo. Silakan masuk. Maaf kondisinya seperti ini,” ucapnya.

Perempuan renta yang tinggal sebatang kara itu seolah mewakili kehidupan kaum papa di kawasan kota. Dia tinggal berdempetan dengan Kafe Kolong. Sebuah tempat nongkrong yang begitu populer di Jember. Bahkan, artis Ibu Kota asal Jember dan wisatawan luar daerah sering berkunjung di situ. Kala malam, di kafe tersebut nyaris tak ada kesedihan. Semua tampak gemerlap dan baik-baik saja.

Tapi itu hanya ada di malam hari. Ketika kehidupan anak muda begitu terasa. Live musik terkadang juga ada. Lantas bagaimana bila siang hari? Ternyata di kolong Jembatan Jarwo itu sepi. Seperti tidak ada kehidupan. Apalagi saat ini dua sekolah di atasnya, SDN Muhammadiyah dan SMA Muhammadiyah Jember, tidak ada kegiatan belajar mengajar akibat pandemi Covid-19.

Siang hari begitu berbeda. Antara kolong jembatan yang digunakan kafe dan yang dipakai rumah warga. Total ada empat kolong. Dua kolong di sisi selatan digunakan kafe, sementara dua kolong lainnya dipakai rumah warga. Setiap kolong, setidaknya ada empat rumah semi permanen yang saling berhadapan.

Masuk lorong rumah di bawah Jembatan Jarwo itu, ada tempat duduk dari bambu atau lencak. Setiap rumah dindingnya dari kayu. Juga ada atap dari genting dan asbes. Setiap pintu rumah tersebut tertutup rapat dan digembok. Awalnya menduga, penghuni rumah itu semua pergi bekerja. Tapi siapa sangka, saat mengetuk pintu satu-satu, tak ada yang menjawab salam. Tiga rumah tanpa penghuni dan hanya satu yang ada penunggunya. Yakni rumah Qotimah.

Selain masih berlantai tanah dan beraroma pesing, rumah setinggi antara 1,5-2 meter itu dindingnya juga mengandalkan tembok Jembatan Jarwo. Sementara, penerangannya cuma berasal dari lampu 5 watt. Jika malam, sudah bisa dibayangkan suasananya. Sudah tentu kontras dengan tetangga sebelah yang dipakai kafe. “Monggo duduk, Nak. Kursinya cuma kursi plastik,” kata Qotimah.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Selalu ada dua wajah berbeda dari pembangunan kota. Di balik gedung nan megah, juga ada warga yang hidup di perkampungan kumuh dan kolong-kolong jembatan. Kelompok ini seperti terasing dari laju pembangunan yang kian bising. Bagaimana mereka menjalani kehidupannya? Dan apakah sudah terkaver program pemberdayaan?

DWI SISWANTO

Qotimah tergopong-gopoh ketika Jawa Pos Radar Jember mengunjungi rumahnya di bawah Jembatan Jarwo, Jalan Mastrip, Sumbersari. Perempuan 70 tahun itu segera meminta maaf. Hanya karena gubuk yang dia tempati masih berlantai tanah. Dan di beberapa sudut, juga tercium bau pesing. Cukup menyengat. “Monggo. Silakan masuk. Maaf kondisinya seperti ini,” ucapnya.

Perempuan renta yang tinggal sebatang kara itu seolah mewakili kehidupan kaum papa di kawasan kota. Dia tinggal berdempetan dengan Kafe Kolong. Sebuah tempat nongkrong yang begitu populer di Jember. Bahkan, artis Ibu Kota asal Jember dan wisatawan luar daerah sering berkunjung di situ. Kala malam, di kafe tersebut nyaris tak ada kesedihan. Semua tampak gemerlap dan baik-baik saja.

Tapi itu hanya ada di malam hari. Ketika kehidupan anak muda begitu terasa. Live musik terkadang juga ada. Lantas bagaimana bila siang hari? Ternyata di kolong Jembatan Jarwo itu sepi. Seperti tidak ada kehidupan. Apalagi saat ini dua sekolah di atasnya, SDN Muhammadiyah dan SMA Muhammadiyah Jember, tidak ada kegiatan belajar mengajar akibat pandemi Covid-19.

Siang hari begitu berbeda. Antara kolong jembatan yang digunakan kafe dan yang dipakai rumah warga. Total ada empat kolong. Dua kolong di sisi selatan digunakan kafe, sementara dua kolong lainnya dipakai rumah warga. Setiap kolong, setidaknya ada empat rumah semi permanen yang saling berhadapan.

Masuk lorong rumah di bawah Jembatan Jarwo itu, ada tempat duduk dari bambu atau lencak. Setiap rumah dindingnya dari kayu. Juga ada atap dari genting dan asbes. Setiap pintu rumah tersebut tertutup rapat dan digembok. Awalnya menduga, penghuni rumah itu semua pergi bekerja. Tapi siapa sangka, saat mengetuk pintu satu-satu, tak ada yang menjawab salam. Tiga rumah tanpa penghuni dan hanya satu yang ada penunggunya. Yakni rumah Qotimah.

Selain masih berlantai tanah dan beraroma pesing, rumah setinggi antara 1,5-2 meter itu dindingnya juga mengandalkan tembok Jembatan Jarwo. Sementara, penerangannya cuma berasal dari lampu 5 watt. Jika malam, sudah bisa dibayangkan suasananya. Sudah tentu kontras dengan tetangga sebelah yang dipakai kafe. “Monggo duduk, Nak. Kursinya cuma kursi plastik,” kata Qotimah.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/