alexametrics
23.1 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Kurikulum Dibikin Santai agar Tak Cepat Jenuh 

Mobile_AP_Rectangle 1

Banyaknya orang tua di Ledokombo yang menjadi buruh migran membuat para nenek berperan langsung dalam merawat cucu-cucunya. Agar tidak terlibat dalam kenakalan remaja, lahirlah Sekolah Eyang yang melatih para nenek soal merawat cucu.

DIAN CAHYANI, Ledokombo

Sekolah Eyang ini lahir atas gagasan Juhariyah. Wanita ini adalah seorang pensiunan pengawas sekolah di Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bersama Cicik Farha (tokoh warga Ledokombo), dirinya mulai mengajak nenek-nenek yang ada di wilayah itu untuk berkumpul secara rutin sembari melakukan aktivitas yang produktif.

Selama ini, Juhariyah miris melihat para nenek yang hanya berkumpul arisan tanpa melakukan kegiatan yang produktif. Selain itu, ia juga banyak melihat mayoritas nenek yang mengasuh para cucunya.

“Zaman sudah berkembang. Para nenek- nenek ini juga perlu tahu bagaimana perkembangan zaman untuk bisa mengontrol cucu-cucunya dari pergaulan bebas,” kata perempuan kelahiran Trenggalek itu.

Ada 48 lansia yang tergabung dalam sekolah Eyang di Ledokombo. Sekolah ini unik. Sebabnya, para siswanya adalah nenek-nenek. Sekolah ini juga memiliki kurikulum. Namun, tentu berbeda dengan sekolah pada umumnya.

- Advertisement -

Banyaknya orang tua di Ledokombo yang menjadi buruh migran membuat para nenek berperan langsung dalam merawat cucu-cucunya. Agar tidak terlibat dalam kenakalan remaja, lahirlah Sekolah Eyang yang melatih para nenek soal merawat cucu.

DIAN CAHYANI, Ledokombo

Sekolah Eyang ini lahir atas gagasan Juhariyah. Wanita ini adalah seorang pensiunan pengawas sekolah di Jember.

Bersama Cicik Farha (tokoh warga Ledokombo), dirinya mulai mengajak nenek-nenek yang ada di wilayah itu untuk berkumpul secara rutin sembari melakukan aktivitas yang produktif.

Selama ini, Juhariyah miris melihat para nenek yang hanya berkumpul arisan tanpa melakukan kegiatan yang produktif. Selain itu, ia juga banyak melihat mayoritas nenek yang mengasuh para cucunya.

“Zaman sudah berkembang. Para nenek- nenek ini juga perlu tahu bagaimana perkembangan zaman untuk bisa mengontrol cucu-cucunya dari pergaulan bebas,” kata perempuan kelahiran Trenggalek itu.

Ada 48 lansia yang tergabung dalam sekolah Eyang di Ledokombo. Sekolah ini unik. Sebabnya, para siswanya adalah nenek-nenek. Sekolah ini juga memiliki kurikulum. Namun, tentu berbeda dengan sekolah pada umumnya.

Banyaknya orang tua di Ledokombo yang menjadi buruh migran membuat para nenek berperan langsung dalam merawat cucu-cucunya. Agar tidak terlibat dalam kenakalan remaja, lahirlah Sekolah Eyang yang melatih para nenek soal merawat cucu.

DIAN CAHYANI, Ledokombo

Sekolah Eyang ini lahir atas gagasan Juhariyah. Wanita ini adalah seorang pensiunan pengawas sekolah di Jember.

Bersama Cicik Farha (tokoh warga Ledokombo), dirinya mulai mengajak nenek-nenek yang ada di wilayah itu untuk berkumpul secara rutin sembari melakukan aktivitas yang produktif.

Selama ini, Juhariyah miris melihat para nenek yang hanya berkumpul arisan tanpa melakukan kegiatan yang produktif. Selain itu, ia juga banyak melihat mayoritas nenek yang mengasuh para cucunya.

“Zaman sudah berkembang. Para nenek- nenek ini juga perlu tahu bagaimana perkembangan zaman untuk bisa mengontrol cucu-cucunya dari pergaulan bebas,” kata perempuan kelahiran Trenggalek itu.

Ada 48 lansia yang tergabung dalam sekolah Eyang di Ledokombo. Sekolah ini unik. Sebabnya, para siswanya adalah nenek-nenek. Sekolah ini juga memiliki kurikulum. Namun, tentu berbeda dengan sekolah pada umumnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/