alexametrics
20.8 C
Jember
Saturday, 20 August 2022

Hidup dari Sampah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Geladak kembar terlihat begitu kokoh. Salah satu jembatan di atas Sungai Bedadung ini berada di tengah Kota Jember dan menjadi simbol pembangunan. Namun siapa sangka, di bawah jembatan, tepatnya di bantaran sungai, terdapat cukup banyak rumah-rumah warga. Mereka tinggal di kawasan padat penduduk.

Permukiman warga sudah ada sejak lama. Sekitar tahun 1980-an, rumah-rumah itu sudah berdiri di atas tanah pemerintah. Ada puluhan rumah yang berada di Krajan Barat, Kelurahan Sumbersari, ini. Kebanyakan, warganya berada di kelas ekonomi bawah.

Menuju ke lokasi itu, Jawa Pos Radar Jember menyusuri jalan setapak di ujung Jalan Sumatera. Persis di bawah lampu merah Geladak Kembar. Waktu itu, air sungai sedang surut. Meski begitu, cukup banyak warga yang memanfaatkan sungai untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Anak-anak bermain air sekaligus mandi. Sedangkan ibu-ibu memanfaatkannya untuk mencuci pakaian.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mayoritas warga yang tinggal di sana bekerja serabutan. Seperti pasangan suami istri Salim, 63, dan Sri Rahayu, 56. Sehari-hari, mereka bekerja mengumpulkan barang-barang bekas. “Kerja saya ini. Cuma mengumpulkan rongsokan. Nanti dikilokan,” kata Salim, sembari membereskan botol bekas, sepatu bekas, dan kaleng bekas.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Geladak kembar terlihat begitu kokoh. Salah satu jembatan di atas Sungai Bedadung ini berada di tengah Kota Jember dan menjadi simbol pembangunan. Namun siapa sangka, di bawah jembatan, tepatnya di bantaran sungai, terdapat cukup banyak rumah-rumah warga. Mereka tinggal di kawasan padat penduduk.

Permukiman warga sudah ada sejak lama. Sekitar tahun 1980-an, rumah-rumah itu sudah berdiri di atas tanah pemerintah. Ada puluhan rumah yang berada di Krajan Barat, Kelurahan Sumbersari, ini. Kebanyakan, warganya berada di kelas ekonomi bawah.

Menuju ke lokasi itu, Jawa Pos Radar Jember menyusuri jalan setapak di ujung Jalan Sumatera. Persis di bawah lampu merah Geladak Kembar. Waktu itu, air sungai sedang surut. Meski begitu, cukup banyak warga yang memanfaatkan sungai untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Anak-anak bermain air sekaligus mandi. Sedangkan ibu-ibu memanfaatkannya untuk mencuci pakaian.

Mayoritas warga yang tinggal di sana bekerja serabutan. Seperti pasangan suami istri Salim, 63, dan Sri Rahayu, 56. Sehari-hari, mereka bekerja mengumpulkan barang-barang bekas. “Kerja saya ini. Cuma mengumpulkan rongsokan. Nanti dikilokan,” kata Salim, sembari membereskan botol bekas, sepatu bekas, dan kaleng bekas.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Geladak kembar terlihat begitu kokoh. Salah satu jembatan di atas Sungai Bedadung ini berada di tengah Kota Jember dan menjadi simbol pembangunan. Namun siapa sangka, di bawah jembatan, tepatnya di bantaran sungai, terdapat cukup banyak rumah-rumah warga. Mereka tinggal di kawasan padat penduduk.

Permukiman warga sudah ada sejak lama. Sekitar tahun 1980-an, rumah-rumah itu sudah berdiri di atas tanah pemerintah. Ada puluhan rumah yang berada di Krajan Barat, Kelurahan Sumbersari, ini. Kebanyakan, warganya berada di kelas ekonomi bawah.

Menuju ke lokasi itu, Jawa Pos Radar Jember menyusuri jalan setapak di ujung Jalan Sumatera. Persis di bawah lampu merah Geladak Kembar. Waktu itu, air sungai sedang surut. Meski begitu, cukup banyak warga yang memanfaatkan sungai untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Anak-anak bermain air sekaligus mandi. Sedangkan ibu-ibu memanfaatkannya untuk mencuci pakaian.

Mayoritas warga yang tinggal di sana bekerja serabutan. Seperti pasangan suami istri Salim, 63, dan Sri Rahayu, 56. Sehari-hari, mereka bekerja mengumpulkan barang-barang bekas. “Kerja saya ini. Cuma mengumpulkan rongsokan. Nanti dikilokan,” kata Salim, sembari membereskan botol bekas, sepatu bekas, dan kaleng bekas.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/